Kala Badan Bahasa Kalah Beken dari Ivan Lanin

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 28/10/2018 10:49 WIB
'Hanya Bantu Bila Dibutuhkan' Ilustrasi kegiatan belajar. (dok. Hadiansyah Lubis)

'Hanya Bantu Bila Dibutuhkan'

Bekerja di sekolah yang memiliki tantangan menerapkan bahasa Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan sekolah negeri diakui Atik kerap membuat dirinya putar otak agar anak-anak murid dapat memahami bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Atik mengakui anak-anak muridnya lebih gemar menggunakan bahasa Inggris dibanding bahasa Indonesia. Ia pun kadang sampai harus menerjemahkan pertanyaan berbahasa Inggris dari muridnya ke bahasa Indonesia supaya mengajarkan si anak untuk bertanya dalam bahasa negara tersebut.

Menurutnya setiap anak mau diberi pelajaran apa pun dan sampai saat ini belum pernah ada yang menolak. Namun memang perlu waktu penyesuaian pelajaran di awal dan guru harus mengerti kondisi tersebut dengan memosisikan diri sebagai anak yang diajar.


"Tugas guru supaya mereka (siswa) tertarik berbahasa Indonesia. Kami menerapkan dengan bermain. Kalau siswa senang, belajarnya cepat. Sampai saat ini enggak ada yang benar-benar buat saya jengkel," kata Atik. Dadang menyebutkan memang bukan tugasnya atau lembaganya secara langsung menyentuh tenaga pengajar selaku ujung tombak pendidikan berbahasa Indonesia. Ia menyebut tugas itu ada di Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud.

[Gambas:Instagram]

"Kami itu biasa datang ketika diminta, atau membantu guru-guru yang di provinsi tertentu yang nilai ujiannya rendah dengan melihat UKG [Uji Kompetensi Guru]," kata Dadang.

"Kami lihat kualitas guru-gurunya yang berada di peringkat bawah dan melihat apakah ada pengaruhnya untuk nilai Ujian Nasional. Bila ada, kami biasa akan undang tanpa mereka tahu kalau termasuk guru di peringkat bawah," lanjutnya. 'Hanya Bantu Bila Dibutuhkan'

Dadang menampik bila masalah terkait pembinaan ini terkait dengan birokrasi antarelemen di dunia pendidikan. Menurutnya, bahasa adalah urusan kesadaran diri masyarakat.

"Sebetulnya kalau bahasa itu bukan urusan birokrasi, tapi harus terorganisir di semua pikiran orang Indonesia kalo bahasa kita itu majemuk," kata Dadang.

"Badan bahasa sudah menemukan 668 bahasa daerah dan hebatnya disatukan dalam satu payung bahasa negara. Jadi kalau melihat itu pengorganisasian bahasa dalam diri masyarakat berdasarkan kesadaran sebagai orang Indonesia saja, harus mengetahui jati dirinya sebagai bangsa Indonesia," lanjutnya.

Selain dari masalah kesadaran masyarakat, Dadang menyebut kendala lainnya untuk bisa memberikan pembinaan berbahasa Indonesia yang baik adalah membutuhkan jumlah ahli bahasa yang banyak.

Dadang merasa jumlah tenaga ahli yang ia miliki saat ini amatlah kurang, apalagi ketika ada beragam masalah muncul terkait dengan bahasa. Tapi pihaknya juga belum mendapatkan formula ideal sumber daya tenaga bahasa yang seharusnya ada.

"Jumlah ahli bahasa kami terbatas. Di badan bahasa, 184 orang ini masih kurang untuk Indonesia yang begitu banyak. Kalau idealnya, saya kurang tahu lah ya," kata Dadang.

"Tapi kalau di Indonesia kan ada 517 kota. Kalau satu kota satu kasus, itu saja sudah kurang. Kalau melihat provinsi relatif lebih kecil karena hanya 34, mungkin berkumpulnya di ibukota saja, mungkin," lanjutnya.

"Kami hanya membantu ketika dibutuhkan, hanya mengkaji dari linguistiknya saja dan tidak masuk ke materi lainnya," katanya.


(end/end)
2 dari 2