Kaka 'Slank' dan Akte Lahir Anak dalam Bentuk Tato

CNN Indonesia | Minggu, 11/11/2018 14:52 WIB
Kaka 'Slank' dan Akte Lahir Anak dalam Bentuk Tato Kaka 'Slank' tak ingin dilihat bagai pahlawan super oleh anak-anaknya. (Foto: Dok. Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di atas panggung, Akhadi Wira Satriaji atau dikenal Kaka, vokalis band rock kenamaan Slank identik kerap tampil bertelanjang dada. Bukan hanya keenerjikannya, ada satu hal menarik yang tampaknya ingin ditunjukkan Kaka.

Pada tubuhnya, terpampang sejumlah tato yang memiliki makna penting bagi diri penyanyi kelahiran Jakarta ini. Bahkan, seperti sebuah akte kelahiran.

Tato SKA, Soleil, Schatzi, dan wajah seorang bayi yang terpatri di bagian dada merupakan bagian hidup dari seorang Kaka. SKA diambil dari nama putra semata wayangnya, Chaska Satriaji, kemudian Soleil diambil dari nama putri sulungnya, lalu wajah bayi merupakan potret dari putri bungsunya.


"Itu lebih kayak akte, kayak dapat kado dari Tuhan aku kadoinnya di badan," ungkapnya, saat dihubungi CNNIndonesia.com di sela-sela waktu tur bersama Slank, baru-baru ini.

Meski menyandang titel sebagai vokalis band rock kenamaan Indonesia, Kaka memang begitu memegang teguh peranannya dalam keluarga. Bukan hanya membuktikan cinta lewat tinta abadi yang tertoreh di tubuh, tetapi padatnya jadwal tur keliling kota bersama Slank pun selalu disesuaikan agar tak mengganggu waktunya dengan keluarga.

Selagi rehat, ia pun memprioritaskan tugas sepenuhnya sebagai ayah termasuk untuk antar-jemput buah hatinya sekolah. Itu diakui Kaka dilakukan demi anak-anaknya tak merasa kehilangan sosok ayah, seperti yang ia alami sejak kecil.

"Dulu ibu meninggal pas aku masih kelas 2 SD. Karena empat bersaudara, bapak titip ke tante-tanteku dari keluarga almarhum ibu. Dua di Jakarta, dua di Surabaya, sudah begitu yang di Jakarta dipisah lagi," tuturnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kesempatannya bertemu sang ayah hanya di akhir pekan. Namun momen itu pun tak rutin ia dapatkan.

Saat telah tumbuh dewasa bahkan menjadi seorang ayah, pria kelahiran Jakarta ini mengaku bahwa ia kekurangan sosok yang memberinya contoh. Ia tak memiliki sosok yang dapat dijadikannya panutan.

Kaka tak mau anak-anaknya mengalami seperti yang dialaminya di masa kecil.Foto: Dok. Pribadi
Kaka tak mau anak-anaknya mengalami seperti yang dialaminya di masa kecil.


"Jadi aku merasa, gue mencari sendiri sosok bapak yang benar, sambil liat-liatlah, tapi enggak ada sosok yang aku bisa tanyain. Dan ini yang jangan sampai anakku kehilangan, sosok untuk bisa bertanya di masa dia tumbuh, apalagi anakku yang cowok," katanya.

Dia menambahkan, "Yang paling krusial adalah tempat bertanya, aku dulu enggak punya itu. Dulu pas SMP aku rebel sama apapun semua dilawan, pada umur segitu enggak punya orang yang bisa kutanya benar atau enggaknya."

Kaka telah dikaruniai tiga orang anak. Anak pertamanya Soleil Ulka Ababilluna (22) merupakan hasil pernikahan dengan sang mantan istri Irni Arianti Nasution. Dua lainnya merupakan buah hatinya bersama sang istri Natascha Oking yakni Chaska Satriadji (14) dan Siti Alaula Satriadji (11).

Tak hanya ingin anak-anaknya mendapatkan tempat bersandar dan panutan darinya, Kaka pun mengungkapkan bahwa ia berharap dapat memenuhi setiap kebutuhan mereka. Keinginan itu lagi-lagi berkaca pada yang dialaminya semasa kecil.

Saat kanak-kanak, tanpa orang tua di sisinya, Kaka mengaku sulit memenuhi keinginan akan memiliki sesuatu.

"Jadi ketika anakku minta sesuatu atau minta diantar kemana tapi belum bisa, rasanya nyangkut banget di dada. Pengen banget bisa mewujudkannnya, karena dulu kecil aku enggak bisa dapat yang aku mau. Susah banget jamanku kecil, inginku mereka tidak merasakan itu. Ini yang buat aku terkadang mellow," katanya.

Baginya, anak adalah segalanya. Ia mengibaratkan kasih sayang pada anak-anaknya melebihi apapun.

"Anak itu ya buah cintaku dengan istri, sama seperti lagu-lagu di Slank, lagu saja sudah aku anggap sebagai anak sendiri, gimana cara membawakannya seperti menimang-nimang, otomatis terhadap anak-anakku sendiri menyayanginya lebih dari itu," ungkapnya.

Secara yakin, ia pun mengatakan bahwa dia memiliki kedekatan khusus bersama anak-anaknya. Saat berada di rumah, ia beserta anak-anaknya kerap tidur dalam satu kamar dan bercerita tentang berbagai hal.

Baginya, kegiatan itu seperti membacakan cerita dongeng sebelum tidur. Namun ia memanfaatkan waktu itu untuk mendengarkan kisah keseharian anak-anaknya.

"Kalau lampu sudah redup terus selimutan mereka baru mulai tuh biasanya, 'tadi aku gini, tadi aku gitu'. Ya biasanya kami [ia dan istri] jawab. Tapi uniknya kalau masih segar enggak cerita tuh, kalau sudah di kamar baru mau ngomong dan bertanya," katanya.

Selain berbagi cerita sebelum tidur, Kaka pun menyatakan selalu berusaha mengisi waktu di akhir pekan untuk membuat kegiatan bersama. Dia membandingkan bahwa masa-masa saat dirinya bersekolah dengan anak-anaknya kini cukup jauh berbeda.

Menurutnya sejak pagi hingga sore anak-anak padat berkegiatan untuk belajar di sekolah, belum lagi harus menghadapi kemacetan saat berangkat dan pulang. Oleh karenanya, ia ingin saat akhir pekan anaknya dapat menyegarkan kembali pikiran dari rutinitas sehari-hari dengan kumpul bersama keluarga.

"Kasian anak-anak zaman sekarang, sehari-hari Senin-Jumat jam 08.00 -17.00 ketemu macet, belajar ini itu, kalau weekend mereka kadang males ketemu macetnya lagi jadi enggak mau ke mana-mana, tapi gue selalu maksa untuk do something di luar rumah sama-sama, yang sederhana saja, keluar makan 1-2 jam balik lagi atau nonton," tuturnya.

Di samping itu, Kaka pun berusaha berada di dekat anak-anaknya selagi libur dari kegiatan bersama Slank. Ia mengaku selalu bersemangat untuk mengantar Chaska dan Siti ke sekolah setiap pagi dan menjemputnya di sore hari.

Dengan itu, ia berharap anak-anaknya dapat merasakan bahwa itu merupakan bentuk dari rasa sayangnya untuk mereka.

"Mudah-mudahan berasa sayangnya, 'bapak gue rajin banget jemput,' gitu," katanya sembari tertawa.

Ketika Terjerat Dunia Hitam

Pada masa awal menyandang status sebagai seorang ayah, Kaka sempat terjerumus ke dalam lubang hitam. Saat itu, kata Kaka, putri pertamanya, Soleil masih berusia balita. Namun ia mengatakan bahwa dirinya dan sang istri meski tengah kecanduan berusaha tak melepaskan kewajibannya sebagai orang tua.

"Aku dan istriku yang pertama tetap stick together. Ya punya bad habit, tapi anak tetap inshaAllah enggak ditelantarin. Waktu itu mantan istriku tetap telaten urusnya, ya tapi setelaten-telatennya 'junkies' tetap enggak sehat, kita sendiri aja melihara badan sendiri enggak sehat apalagi satu anak lagi," akunya.

Meski pernah terpuruk, Kaka menyatakan bahwa dirinya tak pernah berusaha untuk melupakan atau menutupi masa kelamnya. Baginya, itu sebagai pengingat diri bahwa hal terburuk yang pernah dilakukannya saat itu yang kemudian membentuk dirinya saat ini.

Anak jadi motivasi Kaka untuk membebaskan diri dari narkoba.Foto: Dok. Pribadi
Anak jadi motivasi Kaka untuk membebaskan diri dari narkoba.


Dia pun menjadikannya pelajaran agar tak lagi terjerumus lagi ke dalam lubang yang sama atau lebih buruk lagi.

"Itu yang justru ngebangun aku hari ini. Aku punya Chaska, Siti, itu berusaha tetap sambil lihat, kalau salah langkah ke sana lagi, kasihan seperti saat Soleil. Itu selalu aku jadikan patokan bahwa itu adalah hal terburuk, kalau bisa melakukan yang lebih buruk berarti gue gila," katanya.

Di sisi lain, Kaka pun mengungkapkan bahwa kehadiran anak-anaknya yang kemudian meyakinkan dirinya untuk tak lagi menyentuh obat-obatan terlarang. Bahkan, anak-anaknya pula yang mendorong dirinya menjadi sosok yang lebih baik.

"Mereka tahu bapaknya bagaimana, aku juga terbuka dan justru mereka yang selalu encourage bapaknya. Suka nyindir-nyindir saat nonton Slank 'Ga Ada Matinya', mereka nyindir 'Papi jelek ya dulu'," ungkapnya.

Dia menambahkan, "Bagi gue, itu cara mereka mengingatkan bapaknya jangan terjerumus lagi. Dan aku menyikapinya, itu jalan hidupku, yang penting hasil akhirnya nanti."

Sebagai seorang ayah, Kaka sendiri memiliki harapan anak-anaknya kelak dapat bertahan di semua kehidupan, khususnya dalam bermasyarakat. Dia ingin edukasi dan bakat anak-anaknya dapat berjalan beriringan.

Sementara, untuk dirinya sendiri, ia berharap anak-anaknya dapat melihat ayahnya sebagai seseorang yang manusiawi.

"Kalau salah, minta maaf. Anak-anakku pun tahu, bapaknya pulang tur setelah seminggu tur, ada sekitar satu setengah hari akan loyo. Itu manusiawi, dan enggak pengen juga anak gue anggep bapaknya superhero yang selalu fit," ujarnya. (agn/rea)