Kisah Kelahiran dan Kontroversi Hari Ayah

CNN Indonesia | Minggu, 11/11/2018 10:01 WIB
Kisah Kelahiran dan Kontroversi Hari Ayah Sejarah perayaan Hari Ayah di Amerika tak berjalan semulus Hari Ibu. (Foto: PublicDomainPictures/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Merayakan Hari Ayah terlihat seperti budaya baru di Indonesia, namun sebenarnya Amerika Serikat telah memilikinya sejak tahun 1910.

Sejarah mencatat, Hari Ibu memang terlebih dahulu ada, yaitu pada 1860 sebagai bentuk kampanye perdamaian setelah seorang aktivis bernama Ann Reeves Jarvis mengusulkan perayaan Mother's Work Days untuk menghormati para ibu yang anaknya bergabung dalam militer.

Hari Ibu itu sendiri baru jadi komersil pada 1908, diprakarsai oleh putri Jarvis, Anna, yang ingin menghormati dedikasi ibunya.


Hal ini segera dilihat sebagai sebuah peluang bisnis dan pada 1909, 45 negara bagian memperjuangkan hal ini hingga pada 1914, Presiden Woodrow Wilson menyetujui hari Minggu kedua di bulan Mei ditetapkan sebagai hari menghormati para ibu.

Dalam perjalanannya, kampanye merayakan Hari Ayah tidak berjalan semulus itu. Peran seorang ayah yang lebih banyak di luar rumah, ditambah kakunya tradisi ayah dan anak saat itu, melahirkan banyak pertentangan.

Selain itu, ayah dianggap tidak memiliki nilai sentimentil selayaknya seorang ibu kepada anak.

Pada 1908, sebuah gereja di Virginia Barat menggelar sebuah acara berskala nasional yang khusus ditujukan untuk 362 pria yang meninggal dalam ledakan besar di sebuah tambang batu bara yang terjadi pada Desember 1907. Bukan perayaan, acara ini lebih menyerupai penghormatan dan tidak bernilai komersial sama sekali.

Baru setahun setelahnya, seorang wanita bernama Sonora Smart Dodd berusaha agar ada hari untuk berterima kasih kepada para ayah. Dodd mempunyai lima orang saudara, kesemuanya dibesarkan oleh ayahnya seorang diri sejak sang ibu meninggal.

Dodd pun mengumpulkan dukungan, sendirian bepergian dari gereja-gereja lokal sampai ke para penjaga toko dan akhirnya, pemerintah setempat. Usahanya berbuah manis, pada 19 Juni 1910, negara bagian Washington resmi merayakan Hari Ayah pertama mereka.

Perlahan, lambat namun tetap terjadi, peringatan ini menjalar ke negara-negara bagian lain. Pada 1916, Presiden Wilson memakai telegraf untuk memerintahkan penduduk mengibarkan bendera sebagai bentuk persetujuan Hari Ayah dianggap sebagai hari nasional.

Namun pada 1924, Presiden Calvin Coolidge meminta pemerintahan mengobservasi pentingnya hari tersebut. Kontroversi bermunculan, terutama para pria yang justru menganggap Hari Ayah sebagai sebuah penghinaan.

Bentuk kasih memberi bunga atau hadiah dipandang sebagai bentuk femininitas, serta sebuah bisnis terselubung karena uang yang digunakan untuk membeli hadiah pun sebenarnya datang dari kantong ayah sendiri.

Dari 1920 sampai 1930, gerakan kontra semakin membahana. Gerakan ini bahkan berparade setiap tahun di Central Park, New York, meminta Hari Ayah digabung dengan Hari Ibu dalam Hari Orang Tua, dengan alasan 'kedua orang tua seharusnya dicintai dan dihormati bersama'.

Era Depresi Besar memperburuk kondisi. Para pedagang berjuang mempromosikan Hari Ayah sebagai 'Hari Natal' kedua untuk para pria.

Mereka berusaha menjual dasi, topi, kaos kaki, pipa dan tembakau serta peralatan olahraga untuk hadiah, namun semua ini menjadi semakin tidak populer seiring menurunnya kemampuan ekonomi di segala aspek.

Ketika Perang Dunia II dimulai, pebisnis mengubah strategi dengan menyatakan perayaan Hari Ayah adalah sebuah cara untuk menghormati dan mendukung para tentara di medan perang.

Argumentasi ini lebih mudah diterima dan pada 1972, di tengah kampanye perebutan kursi presiden saat itu, Richard Nixon menandatangani proklamasi yang menyebut Hari Ayah sebagai hari libur nasional.

Sementara, di banyak negara di Eropa dan Amerika Latin, inspirasi Hari Ayah merupakan hasil perkembangan dari Hari Santo Yusuf, sebuah hari libur berdasarkan tradisi Katolik untuk menghormati orang suci menurut kepercayaan tersebut.

Tidak terdata pasti bagaimana awal-mula Hari Ayah di negara-negara lain, masing-masing mempunyai tanggal, kisah, dan mitos masing-masing.

Demikian pula dengan cara perayaannya, seperti di Thailand, di mana Hari Ayah dirayakan pada bulan Desember di hari kelahiran Raja Bhumibol Adulyadej dan semua orang memakai pakaian berwarna kuning.

Sementara di Meksiko, ada 'Carrera Dia del padre 21K Bosque de Tlalpan' ketika orang-orang berlari sejauh 21 kilometer sebagai bentuk ikatan ayah dan anak. Rusia memilih konsep agak berbeda, yaitu penghormatan kepada tentara; namun para ayah di Jerman yang akan minum-minum bir sembari bersantai di taman terbuka.

Kebanyakan tradisi mengajarkan menghabiskan waktu bersama keluarga dan orang-orang terdekat sebagai cara merayakan, sambil menyantap makanan berupa menu-menu spesial, serta memberi hadiah atau kartu sebagai pernyataan kasih.

Asosiasi Kartu Ucapan di Inggris menyebut bahwa kartu Hari Ayah adalah yang terlaris keempat setelah Natal, Hari Valentine serta Hari Ibu.

Namun kartu Hari Ayah pertama ditemukan 4,000 tahun lalu, ketika seorang pemuda Babilonia mengukir tanah liat untuk mengucapkan harapan agar ayahnya selalu sehat dan panjang umur.

Sampai saat ini, masih banyak yang menganggap Hari Ayah hanya sebuah usaha komersialisme para pengusaha semata.

Terlepas dari segala pro dan kontra, dirayakan atau tidak, tak seharusnya menyayangi ayah menjadi permasalahan karena seperti ibu, kasih ayah pada anak pun sama tulusnya.

(rea)