Wanna One Bantah Dugaan Plagiarisme Konsep Album

CNN Indonesia | Senin, 19/11/2018 19:37 WIB
Wanna One Bantah Dugaan Plagiarisme Konsep Album Boyband Wanna One meminta maaf sekaligus membantah dalam konferensi pers terkait dugaan plagiarisme album debut. (Foto: Screenshoot via Instagram/@wannaone.official)
Jakarta, CNN Indonesia -- Boyband Korea Selatan Wanna One angkat bicara konsep album baru mereka bertajuk 1¹¹=1 (POWER OF DESTINY) yang diduga plagiat dari film musikal Amerika Serikat Hedwig and the Angry Inch.

Berkaitan dengan tuduhan itu, personel Yoon Ji meminta maaf kepada masyarakat.

"Ketika foto konsep Wanna One sedang diproduksi, karya Origin of Love milik Plato digunakan sebagai motif. Tampaknya setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. Kami mohon maaf karena telah menyebabkan kekhawatiran melalui masalah ini," jelas Ji Sung dalam konferensi pers yang digelar Senin, (19/11) waktu Korea Selatan, dilansir dari Soompi.


Kontroversi ini bermula sejak Wanna One merilis cuplikan dan logo grup berkenaan dengan album studio pertama mereka 1¹¹ = 1 (POWER OF DESTINY) yang rilis pukul enam sore hari ini, Senin (19/11) waktu setempat.

Masyarakat menyebut konsepnya menyerupai tema dan logo musik Hedwig and Angry Inch.


Pencipta asli serta pemeran utama film karya 2001 itu, John Cameron Mitchell mengunggah kekecewaannya pada 30 Oktober lalu di media sosial.

"(Saya punya) Pikiran kalau lagu Hedwig and The Angry Inch atau Platonis atau Taois yang juga penggambaran dari The Origin Of Love milik Stephen Trask, digunakan oleh boyband K-pop Wanna One," duga Mitchell.

"Adil saja apabila sebuah mitos kuno digunakan sebagai metafora sebuah band dan para penggemarnya mengindahkannya, tetapi saya sedih berpikiran bahwa manajer mereka merasa perlu untuk meminjam (konsep) begitu gamblang tanpa atribut dan memaparkan mitosnya," tambahnya.

Agensi Wanna One, CJ E&M dan Swing Entertainemnt memang mengakui kalau konsep yang dipinjam memang berdasarkan karya Plato.

"Konsep teaser Wanna One didasarkan pada gagasan The Origins of Love yang merupakan salah satu topik yang diperkenalkan dalam simposium Plato. Simbol grup (Wanna One) untuk album ini juga didasarkan pada ide yang sama dan kami menambahkan konsep unik Wanna One bersama dengan ide lain seperti takdir, sistem biner, dan ketidakterbatasan," jelas agensi.

[Gambas:Youtube]

Agensi dari boyband bentukan acara survival 'Produce 101' itu juga menegaskan tak ada pelanggaran hak cipta.

"Selama proses peninjauan sebelum membuat album, kami menegaskan bahwa tidak ada masalah terkait masalah hak cipta karena album ini didasarkan pada 'gagasan' yang terinspirasi dari nilai universal yang harus dibagikan oleh semua umat manusia, yang berasal dari konsep filosofis. Asal muasal cinta," ujar perwakilan agensi.

Lebih lanjut, agensi mengapresiasi karya adaptasi Plato tersebut yang pernah diciptakan sebelumnya.

"Nilai atau ide spesifik itu menjadi populer setelah dipinjam dalam lagu, Origin of Love dalam film musikal Hedwig and Angry Inch. Karena bisa ada banyak interpretasi tentang ide asal cinta, kami juga menghormati ide-ide dari John Cameron Michell, yang menciptakan Hedwig," demikian bunyi pernyataan tersebut.

[Gambas:Youtube]

(tsy/rea)