Sastrawan Remy Sylado menilai Dini adalah pembuka panorama sastra Indonesia. Perempuan berdarah Bugis itu sudah aktif di bidang sastra sejak tahun 1960an.
"Nh Dini perempuan yang sejak tahun 60an membuka panorama sastra Indonesia dengan pandangan kecendikiaan yang harus dipuji," kata Remy kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Rabu (5/12) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Selamat Jalan, Bu Dini |
Panorama sastra yang dibuka Dini berhasil mencetak banyak sastrawan perempuan di abad 21 yang tidak kalah, bahkan menurut Remy, lebih baik dari pada Dini. Beberapa di antaranya adalah Ayu Utami, Dee Lestari dan Leila Chudori.
"Saya rasa mereka perempuan yang lebih menunjukkan kecerdasan mereka sebagai cendikia perempuan. Sastrawan yang sangat kaya dan memperkaya wawasan pembaca Indonesia," kata Remy.
Lihat juga:Kisah Hidup Novelis 3 Zaman Nh Dini |
Dini merupakan novelis Indonesia yang banyak melahirkan karya-karya berkualitas. Beberapa di antaranya adalah Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975) atau Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai (1998), belum termasuk tulisan dalam bentuk kumpulan cerpen, novelet, atau cerita kenangan.
Dari ragam karya yang ditulisnya, Dini pun beberapa kali menerima penghargaan seperti penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand, kemudian belum lama ini ia menerima Penghargaan Sepanjang Masa atau Lifetime Achievement Award dalam malam pembukaan Ubud Writers and Readers Festival 2017.
Nh Dini meninggal dunia karena mengalami kecelakaan dalam perjalanan setelah melakukan tusuk jarum, pada Selasa (4/12). Berdasarkan laporan khusus di CNNIndonesia.com dua tahun silam, meski pada usia 80-an Dini terbilang sehat, mendiang tetap harus mengontrol kesehatan melalui jamu-jamuan dan tusuk jarum. (adp/rea)