Menakar Idealnya Penyelenggaraan Festival Film Indonesia

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 09/12/2018 10:53 WIB
Menakar Idealnya Penyelenggaraan Festival Film Indonesia Aktor Reza Rahadian unggul dalam kategori Pemeran Utama Pria Terbaik di FFI 2016 silam. (Foto: ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejak pertama kali diselenggarakan pada 1955, Festival Film Indonesia (FFI) digagas sebagai barometer perkembangan kualitas perfilman Indonesia. Melalui berbagai penghargaan yang diberikan, publik dan kalangan perfilman sendiri bisa membaca pencapaian terbaik yang dihasilkan pekerja film tanah air selama setahun terakhir.

Seiring perjalanannya, dari tahun ke tahun FFI turut menghadapi tantangan demi tantangan untuk mencapai penyelenggaraan festival film yang ideal. Tahun ini misalnya, FFI tampak mulai berbenah dengan mengubah sejumlah konsep dari format yang seolah sekadar bagi-bagi penghargaan semata.

Pada konferensi pers yang digelar awal Oktober lalu, FFI 2018 mengumumkan telah membentuk komite dengan masa kerja tiga tahun (2018-2020) dan ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia (BPI).


Lukman Sardi didapuk sebagai ketua komite periode tersebut dengan anggota pengurus Catherine Keng (Sekretaris), Edwin Nazir (Keuangan & Pengembangan), Lasja F. Susatyo (Program), Nia Dinata (Penjurian), dan Coki Singgih (Komunikasi).

Di samping program tahun penghargaan Piala Citra, saat itu Komite FFI mengungkapkan bakal menjalankan berbagai program antara lain kanonisasi film Indonesia, pelatihan tingkat pakar (masterclass), kolaborasi komunitas, literasi dan apresiasi publik, market screening, serta pembiayaan film.

Menakar Idealnya Penyelenggaraan Festival Film IndonesiaLukman Sardi selaku Ketua Komite FFI 2018. (Foto: CNN Indonesia/Resty Armenia)

Melihat langkah perubahan FFI ini, Pengamat Film Hikmat Darmawan memberikan pendapatnya saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Jumat (7/12).

"Dengan konsep yang baru ini, saya merasa ini yang memunculkan karakter festival di dalam acara bernama Festival Film Indonesia. Kalau sebelumnya 'festival' itu hanya nama, sekarang dipenuhi jadi sesuatu yang konkret. Sesuatu yang berwujud," ucapnya.

Pada beberapa gelaran sebelumnya, Hikmat mengaku heran dengan penggunaan kata festival dalam FFI tapi tidak memunculkan kemeriahan.

"Itu seringkali malam anugerah saja, tapi kalau menggunakan kata festival kan harusnya melibatkan banyak unsur masyarakat. Bukan dari penilaian, tapi dalam keramaian. Jadi memang kefestivalan itu sudah seharusnya diperhatikan, bagaimana dengan watak festival yang seharusnya yaitu melibatkan orang luas," ungkapnya.

Oleh karenanya, ia mengaku menyambut baik rencana perubahan itu meski tak memungkiri akan ada banyak komplikasi yang membelakangi. Menurutnya, membuat pagelaran besar itu selalu mensyaratkan ada dana, tenaga manusia, dan sebagainya hingga mencapai mekanisme yang baik untuk mengakomodasi perwujudan festival yang diharapkan.


Di sisi lain, Hikmat turut mengapresiasi segi penanugerahan Piala Citra itu sendiri. Dari tahun ke tahun yang ia rasakan yakni adanya upaya penyempurnaan untruk mengedepankan film-film yang dihargai di dalam FFI sebagai standar.

"Seingat saya sih dari tahun ke tahun ada upaya menyempurnakan seperti itu," katanya.

Pada prosesnya, sistem penjurian FFI beberapa tahun terakhir mulai melibatkan asosiasi serta komunitas perfilman Indonesia. Kata Hikmat, penjurian dengan sistem tersebut hampir sama seperti Oscar atau Academy Awards dan diharapkan kelak menjadi standar bagi industri perfilman untuk menemukan model yang sesuai.

Namun, dengan sistem itu juga menurut Hikmat penerapannya terdapat dua kelemahan. Pertama, industri film Indonesia yang belum sebesar Hollywood sehingga jumlah pekerja-pekerja profesional yang melakukan voting untuk bidang perfilman mendapatkan penghargaan itu masih sedikit.

"Jadi, terasa eksklusif begitu. Misalnya di mana letak para kritikus atau apa gitu ya. Sekarang kan ada syarat harus anggota juri itu yang pernah memenangkan nominasi begitu. Itu kan jadi ekslusif, apakah infrastrukturnya sudah siap untuk mekanisme yang dalam tanda petik ekslusif begitu?" ujarnya.


"Dan kedua, update orang yang lama berkecimpung dunia film itu apakah mengikuti perkembangan terkini perfilman dunia? Jadi, seringkali pilihannya mungkin jatuhnya jadi asyik sendiri. Itu sering mengherankan, kok jadi itu ya yang dipilih? Tapi itu semua bagian dari dinamika," lanjutnya.

Di sisi lain, Hikmat mengutarakan bahwa walau ada kelemahan pada hal itu dirinya tetap mendukung penuh perubahan mekanisme penilaian maupun penyelenggaraan acara festival ini.

"[Terutama] Satu, untuk mewujudkan watak festival dan kedua, mekanismenya itu paling tidak diusahakan supaya bakal jadi standar bagi perfilman kita. Standar industri, standar produksi atau standar estetik. Tapi kalau FFI ini kan mengambil (referensi) model Oscar atau Academic Award biasanya lebih berat bobot standar industri dan produksi ketimbang standar estetiknya," ungkapnya.

'Belum Ideal tapi Lebih Baik'

Secara keseluruhan, Hikmat menilai bahwa usaha FFI mengenalkan wajah baru telah lebih baik tapi belum mencapai ideal.

"Ideal belum lah karena kan saya bilang ada kekurangan. Jangan mengidealkan yang sekarang, tapi menjadikan sebagai dinamika lebih baik saja begitu. Sudah lebih baik, paling tidak dari segi niatan, kan kalau sudah dapat pahala. Sudah oke dari segi keinginan baik tapi saya kira harus mawas terhadap lubang bolong bobot penghargaan dari yang tadi itu," katanya.


Dia pun berharap dengan adanya gelaran seperti ini dapat turut memiliki aspek memproduksi pengetahuan misalnya dengan lebih banyak diskusi, studi, kerja sama dengan kampus atau penerbitan buku dalam bentuk cetak atau PDF.

"Ada semacam produksi pengetahuan agar makin tahun percakapan tentang film itu lebih baik dan berbobot. Lebih bisa diakses juga dengan banyak orang 'oh, perkembangan film itu sekarang sudah sampai sini'. Jadi kerja sama deh sama akademisi, kritikus yang punya disiplin berpikir dan pengetahuan yang benar," katanya.

Dalam salah satu poin programnya, FFI pun telah mencanangkan untuk menciptakan literasi serta apresiasi publik, yang mana dilakukan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat membaca dan mengapresiasi film-film berkualitas baik. Harapan Hikmat tampaknya akan terwujud, bila rencana itu benar-benar diterapkan komite pada masa kerjanya yang berlangsung selama tiga tahun.

Malam anugerah Festival Film Indonesia 2018 akan dilangsungkan pada Minggu (9/12) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. (agn/rea)