Rizky Sekar Afrisia
Mengawali karier di tabloid hiburan Surabaya, lalu terbawa arus ke Jakarta. Pencinta buku dan film yang juga pemerhati kehidupan sosial modern.

Film Indonesia di Tangan Marlina

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Senin, 10/12/2018 18:44 WIB
Film Indonesia di Tangan Marlina Setelah wara-wiri di festival internasional, Marlina menyabet banyak piala di Piala Citra. Namun setelah cemerlangnya Marlina, bagaimana nasib film Indonesia? (Dok. Cinesurya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lagi-lagi Marlina: Si Pembunuh dalam Empat Babak. Film yang dibintangi Marsha Timothy itu tampaknya jadi 'bambu runcing' Indonesia tahun ini.

Di berbagai festival film internasional, Marlina berkibar mewakili Indonesia. Si janda pemberani yang memilih membunuh ketimbang dinodai sekumpulan perampok itu sudah melenggang di karpet merah Cannes sampai Toronto.

Kemarin malam, Marlina memborong Piala Citra. Film yang disutradarai Mouly Surya itu membawa pulang 10 piala. Penghargaan bergengsi seperti Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik, disabetnya.


Hanya di empat dari 14 kategori Marlina tak menang. Ia pun menjadi jawara umum Festival Film Indonesia 2018. Sementara 'Runner up' nya, Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 membawa tiga piala kemenangan.

Selisih yang cukup jauh.

Dengan kekuatan itu pula Marlina melenggang ke Oscar. Marlina: Si Pembunuh dalam Empat Babak menjadi wakil resmi Indonesia di Academy Awards 2019.


Ia ditonton bukan lagi hanya di festival-festival film besar, tetapi juga oleh anggota Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS) yang menyelenggarakan sekaligus menjuri Oscar, penghargaan perfilman paling bergengsi.

Media-media asing meliputnya. Sebagian besar positif. Kritikus The Hollywood Reporter bahkan menyebut film itu kickass. Marlina memang sudah lama dipuja-puji media.

Dengan itu, bukan tidak mungkin kali ini Indonesia bisa menembus sekian besar-bahkan mungkin lima besar-nominasi Film Berbahasa Asing Terbaik di Oscar, setelah beberapa tahun lalu tak berhasil.

Apalagi kali ini Badan Ekonomi Kreatif mendukung Marlina. Tak seperti sebelum-sebelumnya, seperti pernah dikatakan sutradara Nia Dinata, saat filmnya Ca Bau Kan dipilih mewakili Indonesia di Oscar, pemerintah tak memberi dukungan bahkan sekadar paket promosi untuk para juri.

Bisa dibilang beruntung Indonesia tahun ini punya Marlina. Jawara FFI dan magnet pujian media. Perempuan Sumba yang ke mana-mana membawa kepala penjahat yang dibunuhnya itu seakan jadi jagoan di mana-mana.

Nasib perfilman Indonesia pun di tangannya.

Namun bagaimana setelah itu?

Sepertinya kita perlu percaya pada komite baru bentukan FFI. Mereka tak hanya menjanjikan gegap-gempita penganugerahan Piala Citra yang menghabiskan miliaran rupiah itu.

Film Indonesia di Tangan MarlinaTim film Marlina (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Komite yang baru akan 'kedaluwarsa' dua tahun mendatang itu juga memberi edukasi. FFI menjelma menjadi entitas yang berdedikasi meningkatkan kualitas film Indonesia.

Ada program seperti kanonisasi film Indonesia, pelatihan tingkat pakar, kolaborasi komunitas, literasi dan apresiasi publik, market screening, serta pembiayaan film.

Semua itu agar sineas (atau calon sineas) Indonesia bisa mencipta film yang bisa jadi 'jagoan' seperti Marlina. Selama ini, membuat film semacam itu terkesan susah. Hanya ada beberapa sutradara yang mampu (atau mau?) membuatnya.

Dapat dimaklumi, film seperti Marlina tak komersil. The Seen and Unseen, Turah, Ziarah, Istirahatlah Kata-kata, misalnya, hanya mendapat tempat sebentar di bioskop.

Namun bukan berarti film-film demikian tak menarik.


Marlina tak hanya menarik dari segi cerita: seorang janda yang dirampok, lalu membunuh perampoknya. Ia juga sarat akan nilai-nilai kekuatan perempuan. Tak hanya itu, film yang tayang perdana di Cannes itu juga ada lucunya.

Ditambah, dari segi artistik, Marlina digarap dengan apik.

Semoga dengan adanya edukasi dari komite FFI, sutradara-sutradara Indonesia bisa lebih tertarik membuat film berkualitas seperti Marlina yang tak hanya menggiurkan dari segi keuntungan, tetapi juga bisa membawa harum nama Indonesia.

Soal uang, asal film berkualitas, 'bonus' bakal berdatangan.

Mari berharap upaya itu membuat film Indonesia tak hanya bisa memasrahkan nasibnya pada Marlina lagi Marlina lagi, melainkan semakin banyak film yang bisa menjadi wajah bagi negara ini. Semoga tahun-tahun ke depan, ada lagi 'bambu runcing' Indonesia semacam Marlina. (stu)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS