Kaleidoskop 2018

Film Terbaik 2018 versi CNNIndonesia.com

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Selasa, 25/12/2018 09:58 WIB
Film Terbaik 2018 versi CNNIndonesia.com Film 'Black Panther'. (Dok. Marvel Entertainment via youtube)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sepanjang 2018 harus diakui ada banyak film menarik dan memiliki kualitas yang baik, mulai dari cerita, teknik eksekusi, hingga kesan. Beberapa judul film bahkan memenangkan sejumlah penghargaan atau mendapatkan nominasi di ajang-ajang bergengsi.

Film yang dirilis di Indonesia pada 2018 juga tergolong beragam, baik dari segi tema hingga jumlah. Setidaknya, ada 139 film lokal yang dirilis pada tahun ini menurut laman filmindonesia.org. Belum lagi film Hollywood atau Korea yang mulai menuai penonton di Indonesia.

Dari ratusan film yang beredar di bioskop Indonesia sepanjang 2018, anggota redaksi Hiburan CNNIndonesia.com masing-masing memilih sejumlah film yang dirasa pantas menjadi yang terbaik di tahun ini. Penilaian bisa berbeda, selayaknya manusia tidak ada yang sama.



Film terbaik menurut Rizky Sekar Afrisia:

'Dilan 1990'

'Dilan 1990' layak menyandang film terbaik tahun ini karena dampak yang ditimbulkannya. Bahkan sebelum film garapan sutradara Fajar Bustomi ini rilis, ia sudah menuai kontroversi. Awalnya karena Iqbal yang dianggap tak cocok memerankan karakter Dilan.

Namun saat filmnya tayang, berkat 'didikan' sang penulis buku Pidi Baiq, Iqbal menuai sukses. Ia bahkan dielukan remaja sampai ibu-ibu. Pun karier Iqbal makin meroket sejak saat itu.

Dilan 1990 kemudian membuat tren baru, Mulai jaket jin belel, motor lawas sampai gombalannya. Pekerja kantoran sampai abang gojek, ketularan Dilan. Cowok idaman anak SMA pun berubah.


'Black Panther'

Alasan Black Panther menjadi film asing terbaik tahun ini, mungkin klise. Tapi ini bukan sekadar ikut-ikutan para kritikus maupun ajang penganugerahan di Amerika. Film Black Panther, seperti Partai Black Panther di Amerika zaman dahulu, memang berandil besar dalam revolusi.

Film Marvel Studios dan Disney ini digarap dengan serius. Tim produksinya benar-benar riset soal dialek, budaya sampai busana demi memasukkan unsur Afrika, sesuai latar Wakanda.

Aktor-aktris yang direkrut pun dipikirkan betul. Tak sekadar berkulit berwarna tapi juga berkarakter. Ceritanya pun relevan jika dikaitkan dengan masa kini saat kulit berwarna mulai diperhitungkan. Waktu yang pas dan cerdas bagi Marvel untuk merilis Black Panther.

Lebih dari itu, Black Panther memainkan peranan penting tersendiri sebagai 'hub' cerita Avengers dalam Marvel Cinematic Universe. Bonusnya, Black Panther memberi porsi candaan yang pas, tidak garing maupun terkesan 'memaksa.'


Film terbaik menurut Endro Priherdityo:

'A Man Called Ahok'

Terlepas dari kontroversi yang membayangi film ini, 'A Man Called Ahok' menunjukkan kepiawaian menyampaikan cerita berdasarkan kesaksian-kesaksian yang terkumpul dalam buku bertajuk senada menjadi sebuah film bernarasi utuh dan menyentuh.

Bukan hanya itu, yang patut diacungi jempol adalah film ini juga hadir dengan nilai-nilai yang kini jarang muncul di bioskop modern: nasionalisme, ketulusan, keberagaman, dan kekeluargaan, dalam satu paket lengkap tanpa membuat penonton merasa kembali ikut penataran P4.


'Along With the Gods' (part 1)

Korea selalu punya cara unik mengemas kisah rakyatnya menjadi sebuah konten film yang segar dengan kualitas bermutu. 'Along With The Gods' bagian pertama ini mengisahkan kepercayaan masyarakat lokal dengan pesan moral yang menyentuh ditambah visual efek yang menakjubkan.

Kisah film ini sendiri sejatinya pengembangan dari versi rakyat. Namun 'Along With the Gods' sanggup tampil dengan kesegaran baru tanpa harus melenceng dari 'pakem' yang ada. Durasi panjang dari film ini pun terbayar dengan akhir yang menggetarkan emosi.


Film terbaik menurut Agniya Khoiri:

'Sekala Niskala'

Film Sekala Niskala berbicara kehilangan dengan bahasa yang begitu dalam. Sarat akan simbol dan makna, film ini mengisahkan tentang dua anak kembar buncing, perempuan dan laki-laki, di Bali.

Puncak konfliknya, saat salah satu di antara mereka menderita sakit dan meninggal dunia. Namun, ikatan yang begitu kuat antara dua bocah bernama Tantra dan Tantri ini membuat keduanya berkomunikasi lewat dunia di bawah alam sadar.

'Yowis Ben'

Masa remaja adalah masa yang paling indah. Begitu sekilas gambaran dari film Yowis Ben yang mengusung cerita tentang kehidupan anak-anak SMA.

Dengan segala konflik tentang persahabatan, keluarga dan kisah cinta, film ini mengingatkan pada masa-masa indahnya SMA tanpa terasa 'menye-menye.' Satu yang menarik, film ini memberi sebuah penyegaran dengan mengambil latar cerita di Surabaya.


Film terbaik menurut M Andika Putra:

'Aruna dan Lidahnya'

Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Laksmi Pamuntjak ini mengandung cerita yang sederhana namun bermakna.

Seperti makanan dalam satu piring, 'Aruna dan Lidahnya' menyajikan berbagai rasa yang dimasak dengan baik. Cerita cinta dan persahabatan disajikan dengan apik tanpa mendahului satu sama lain.

'Love for Sale'

Alih-alih klise, film Love for Sale menyajikan cerita cinta yang menarik. Penulis naskah Andibachtiar Yusuf membuat cerita cinta yang realistis dengan sedikit bumbu yang 'gurih'. Hal itu membuat kedekatan emosi dengan penonton dan patut menyematkan film terbaik 2018. (end)