Kaleidoskop 2018

Film Terburuk 2018 versi CNNIndonesia.com

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Selasa, 25/12/2018 12:00 WIB
Film Terburuk 2018 versi CNNIndonesia.com Film 'Danur 2 Maddah'. (Dok. MD Pictures via youtube)
Jakarta, CNN Indonesia -- Meski jumlah film yang tayang di Indonesia pada 2018 tampak banyak dan variatif, tak semuanya mampu menghibur apa lagi meninggalkan kesan mendalam. Beberapa cenderung buruk.

Banyak film yang dibuat sekadar untuk mendulang uang, mengikuti tren, atau sekadar ikut-ikutan. Namun ada pula film yang menjadi buruk karena konsep yang belum matang hingga masalah teknis.

Dari ratusan film yang tayang di Indonesia, tim redaksi Hiburan CNNIndonesia.com memilih film yang telah ditonton dan ternyata hanya menambah kerutan di dahi, pertanyaan sendiri, gumam protes, hingga merasa menyesal telah membeli tiket hingga dipilih sebagai film terburuk tahun ini.



Film terburuk menurut Rizky Sekar Afrisia:

'Eiffel... I'm in Love 2'

Menonton film ini tanpa mengerutkan kening penuh tanda tanya adalah tantangan tersendiri. Cerita Eiffel... I'm in Love 2 dipenuhi 'lubang' yang membuatnya seakan tak masuk akal.

Upaya Soraya Intercine Films merilisnya tepat pada Hari Valentine memang patut dihargai. Namun anak muda sekarang perlu diberi suguhan yang lebih dari sekadar buaian kekayaan semata.

Menghadirkan kembali tokoh Adit dan Tita yang masih dibintangi Samuel Rizal dan Shandy Aulia tidak lantas membuat penonton terpukau. Setelah 14 tahun, keduanya seakan tidak ke mana-mana. Tita masih manja, Adit masih sok misterius.

Belum lagi pamer kekayaan yang ditampilkan. Ditambah minus logika di beberapa adegan, membuat film ini lebih tak masuk akal dari fiksi.

'A Wrinkle in Time'

Fiksi ala Disney dapat dimaklumi jika terlalu visioner dan tak masuk akal. Namun cerita 'A Wrinkle in Time' seakan penuh kerutan membingungkan yang membuat penonton pun ikut berkerut mengurainya satu per satu.

Film ini juga kurang mengeksplorasi kemampuan akting pemainnya. Chris Pine yang di film lain bisa amat menawan, kalah oleh pesona Charles Walace yang diperankan Deric McCabe.

Bukan hanya itu, segala macam Mrs di film ini pun menambah aneh, alih-alih menarik dan "wow" dari segi efek visual. Hubungan antara imajinasi, makhluk dari dimensi lain dan isu keluarga serta perundungan dicampur aduk sampai tak jelas.

Tak heran jika 'A Wrinkle in Time' tak lama tayang di Indonesia. Peminat cerita Disney yang terlalu aneh kali ini tidak sebanyak peminat kisah putri-putrian.


Film terburuk menurut Endro Priherdityo:

'Danur 2 Maddah'

Sebagai pencinta film horor, terutama yang berkaitan dengan dedemit, kisah kelanjutan petualangan Prilly Latuconsina sebagai Risa dalam 'Danur 2 Maddah' membuat saya kesal usai keluar dari bioskop.

Film sekuel yang diangkat dari novel -dan pengalaman pribadi- Risa Saraswati ini bobol secara eksekusi. Taringnya tumpul. Banyak babak cerita yang terlewatkan untuk dieksplorasi lebih lanjut.

Apalagi, kemunculan setan 'noni' Belanda di film ini bukan hanya tak seram, melainkan cenderung aneh dan imajinatif. Hal ini 'jomplang' bila di 'Danur: I Can See Ghosts' (2017) muncul sosok Asih yang secara 'gila' dimainkan oleh Shareefa Daanish.

Dengan kesuksesan 'Danur: I Can See Ghosts' dan didukung fan fanatik Prilly Latuconsina, seharusnya pihak studio tidak boleh kendor dalam menggarap versi sekuelnya.

Jarak setahun belum waktu yang cukup untuk menggodok cerita berkualitas, apalagi hanya untuk kembali mengeruk uang.

'Insidious: The Last Key'

Setelah 'dibantai' kritikus karena Insidious: Chapter 3, Leigh Whannell dan James Wan sebagai penelur kisah seri Insidious tampaknya benar-benar bekerja keras untuk mempersiapkan serial sekuelnya.

Namun lahirnya Insidious: The Last Key ini cenderung memiliki pengembangan cerita yang nyaris memaksakan demi mengejar keuntungan, walaupun ada sedikit perbaikan dari sebelumnya.

Apalagi, sejumlah babak dari cerita film yang memfokuskan diri pada cenayang Elise Rainer (Lin Shaye) membuat kening berkerut dan menambah kerumitan dari kisah Insidious yang dipaksa untuk menjadi sebuah semesta.

Selain itu, semakin lama, kisah Insidious tak lagi menakutkan seperti kala dulu menontonnya.


Film terburuk menurut M Andika Putra:

'22 Menit'

Alih-alih menegangkan karena mengisahkan tragedi bom yang diadaptasi dari kisah nyata, '22 Menit' malah sangat membosankan.

Film ini juga 'PHP'. Pada bagian awal secara tak langsung dikisahkan film ini akan dikisahkan dari lima sudut pandang. Nyatanya, dari pertengahan sampai akhir film hanya fokus pada beberapa karakter. Yang lain terasa cuma tempelan.

Terlebih film ini seperti menjadi propaganda Kepolisian Republik Indonesia alias Polri. Polri dikisahkan seakan tak punya cacat. Slogan Polri 'Profesional Modern Terpercaya (Promoter)' yang terlihat jelas dalam film menguatkan kesan tersebut.

'Mile 22'

'Mile 22' adalah film yang miskin konteks dengan cerita yang tidak jelas. Dari awal sampai akhir terlalu banyak cerita yang bolong dan tidak berujung. Film ini hanya menjual adegan laga dan khusus di Indonesia, menjual sosok Iko Uwais. 

Lucunya, mereka sudah menyiapkan naskah sekuel film ini sebelum rilis. Entah akan seburuk apa sekuel film tersebut. (end)