Ulasan Film : 'Mary Poppins Returns'

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Jumat, 28/12/2018 18:26 WIB
Ulasan Film : 'Mary Poppins Returns' Si pengasuh yang ajaib Mary Poppins kembali untuk mengasuh dan memperbaiki kehidupan keluarga yang berantakan, masih sama, dengan segala daya magisnya. (dok. Walt Disney Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lebih dari lima dekade sejak film fantasi Mary Poppins ditayangkan, Disney memutuskan untuk membuat kelanjutan kisahnya dalam sekuel yang diberi tajuk 'Mary Poppins Returns'.

Meski terpaut hampir setengah abad, tapi cerita dalam sekuel tersebut hanya terpaut 25 tahun sejak kejadian di film pertama.

Kisah Mary Poppins Returns berlatar di London pada 1930-an. Ritme ceritanya masih sama dengan yang dulu. Ia kembali kala keluarga Banks menghadapi masalah dan pergi ketika tugasnya selesai.


Kedatangan dan kepergiannya pun masih ditandai dengan perubahan angin.


Mary Poppins, yang sebelumnya diperankan oleh Julie Andrews dan kini diperankan Emily Blunt, kembali mengunjungi kakak-adik Michael Banks (Ben Whishaw) dan Jane Banks (Emily Mortimer).

Terakhir kali, Michael dan Jane bertemu Mary Poppins kala keduanya masih kanak-kanak, 25 tahun lalu.

Namun kini Mary Poppins datang bukan untuk mengasuh kakak-adik tersebut, melainkan membantu Michael yang rumah tangganya berantakan usai sang istri meninggal dunia.

Dikisahkan, semenjak sepeninggal sang istri, tak ada lagi yang mengurus anak-anak dan mengatur keuangan keluarga.

Puncaknya, Michael dituntut untuk melunasi seluruh utangnya ke bank setelah telat membayar selama tiga bulan berturut-turut.

Bila tak mampu, ia beserta anak-anaknya Annabel Banks (Pixie Davis), Georgie Banks (Joel Dawson) dan John Banks (Nathanael Saleh) harus angkat kaki dari rumah yang merupakan peninggalan orangtua.


Satu-satunya penolong Michael dan Jane untuk mempertahankan rumah itu hanyalah saham yang ditinggalkan sang ayah di bank. Namun ia butuh bukti untuk dapat mencairkan dana yang ada di saham itu.

Di tengah upaya mencari sertifikat penyelamat keluarga itu, anak-anak Michael berada di bawah pengawasan serta asuhan Mary Poppins.

Adegan kala Mary Poppins bersama anak-anak Michael menjadi kunci utama dari film ini.

Penonton dibawa menyelam dunia imajinasi dan magis khas Disney yang membuat para penonton dewasanya akan turut bernostalgia masa kanak-kanak.

Secara tersirat, film ini turut menjadi pengingat bagaimana imajinasi dan keajaiban perlahan terlupakan seiring bertambahnya umur. Hal itu terlihat dari tokoh Michael yang selalu menyangkal setiap pengalaman anak-anaknya.

Meski ceritanya pasti mudah ditebak, namun film ini tetap memiliki nilai tersendiri. Apa lagi kalau bukan pesan pengasuhan yang mampu disampaikan dengan baik tanpa ada nuansa menggurui.

[Gambas:Youtube]

Hal itu terlihat kala Mary Poppins memberikan kesempatan para bocah asuhannya menentukan keputusannya sendiri. Dirinya hanya cukup menemani dan memantau, serta membantu hanya dalam kondisi genting.

Bukan hanya pesan pengasuhan yang menjadi nilai dari film ini. Sinematografi yang memanjakan mata disertai dengan pertunjukan musikal juga menjadi pengalaman menyenangkan kala menonton Mary Poppins Returns.

Masing-masing aksi para aktor dan aktris tampaknya tak perlu diragukan. Kehadiran tokoh-tokoh pendukung pun menambah keseruan. Di antaranya aksi Lin Manuel Miranda, Meryl Streep, hingga Dick Van Dyke yang membuat penampilan kembali setelah dulu turut membintangi film pertamanya.

Secara keseluruhan, film ini cukup membawa penyegaran di musim liburan akhir tahun untuk ditonton bersama keluarga. (end)