Ulasan Film: 'Shoplifters'

CNN Indonesia | Minggu, 06/01/2019 16:22 WIB
Ulasan Film: 'Shoplifters' Film 'The Shoplifters'. (dok. Aoi Pro, Inc/GAGA Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dunia ini sungguh abu-abu, ada baik di dalam buruk dan ada buruk di dalam baik. Premis itu yang coba dilukis tebal-tebal oleh Hirokazu Kore-Eda dalam film Shoplifters.

Film ini berkisah tentang kehidupan sebuah keluarga miskin di Jepang yang mencoba bertahan hidup dan menghasilkan uang dengan berbagai cara di tengah kondisi ekonomi global yang semakin sulit.

Sang ayah, Osamu Shibata (Lily Franky), merupakan seorang buruh bangunan yang lebih sering menghabiskan waktunya untuk mengutil sebuah toko. Kemudian sang ibu, Nobuyo Shibata (Sakura Ando), bekerja di tempat pencucian baju dengan gaji rendah.


Pasangan suami istri ini tinggal di sebuah rumah kecil bersama dengan sang nenek, Hatsue Shibata (Kirin Kiki), yang mengandalkan uang pensiun untuk membantu menghidupi keluarga tersebut.

Keluarga ini juga hidup lengkap dengan sepasang anak bernama Aki (Mayu Matsuoka) yang bekerja sebagai wanita penghibur dan Shota (Jyo Kairi) yang sering ikut beraksi dengan sang ayah menjadi pengutil.


Keluarga ini tampak normal dalam kesengsaraan mereka. Meski hidup serba kekurangan, mereka tetap saling peduli dan menciptakan kehangatan sebuah keluarga di tengah-tengah mereka.

Osamu dan Shibata juga berusaha untuk mengasuh kedua anak mereka dengan pengasuhan yang 'baik' menurut pandangan keduanya.

Kisah berlanjut ketika Osamu bertemu seorang anak kecil yang ditinggalkan orangtuanya untuk bermain di balkon apartemen pada malam yang dingin. Berbekal belas kasih, Osamu akhirnya berniat membawa pulang bocah perempuan itu untuk semalam lalu berencana memulangkannya keesokan harinya.

Anak perempuan bernama Yuri (Miyu Sasaki) itu memang tak banyak berbicara. Namun, luka di sekujur tubuhnya justru berbicara banyak bagaimana perlakuan orangtua Yuri kepadanya selama ini.

Film 'The Shoplifters'.Film 'The Shoplifters'. (dok. Aoi Pro, Inc/GAGA Pictures)

Terlebih saat hendak memulangkan Yuri ke rumahnya, Osamu dan Nobuyo mendengar perkelahian kedua orangtua Yuri tentang hilangnya Yuri. Keduanya menjadi enggan memulangkan Yuri ke rumahnya yang lebih menyerupai tempat penyiksaan bagi Yuri.

Akhirnya, Yuri pun masuk ke dalam keluarga tersebut bukan untuk semalam, tapi untuk selamanya. Masuknya gadis kecil ini turut membukakan pintu-pintu rahasia perihal terbentuknya keluarga tersebut yang sejatinya tak diikat dengan titel sedarah-sekandung.

Pertanyaan tentang makna keluarga dan orangtua sesungguhnya dikibarkan kepada penonton lewat kisah yang sangat berhasil mengacak-acak perasaan itu.

Shoplifters berhasil mengumpulkan isu sosial khususnya tentang anak, perempuan, dan lansia menjadi kesatuan puzzle. Kore-eda membuat penonton berkontemplasi tentang apa yang biasanya diyakini masyarakat perihal sebuah keluarga.

Salah satu isu yang digambarkan dengan tegas adalah penelantaran anak-anak. "Apakah Anda otomatis menjadi Ibu ketika Anda sudah melahirkan seorang anak?" ujar pemeran Nobuyo dalam sebuah adegan.


Dialog ini menjadi sebuah sindiran keras bagi para orangtua yang merasa sudah menjadi 'orangtua' hanya karena mampu melahirkan seorang anak, tanpa siap untuk membesarkan anak dengan cara yang tepat dan penuh kasih.

Meski bergenre drama, jangan harap menemukan adegan para tokoh di dalamnya bersikap 'menye' atau manja dengan menjual sisi sedih kemiskinan mereka. Film ini tak menghadirkan adegan melankolis berlebihan sebuah potret kemiskinan.

Para tokoh digambarkan sebagai pribadi yang hendak berusaha keras mencukupi kebutuhan hidup meski harus bertentangan dengan hukum dan norma masyarakat.

Para karakternya mewakili segala kemungkinan terburuk kala manusia berada dalam kondisi finansial melarat dengan menyelipkan isu penelantaran dan kekerasan pada anak. Uniknya, mereka dilukis secara halus dan penonton baru akan mendapatkan gambaran utuh sifat dari para karakter di akhir film.

Film ini turut melanjutkan karya Kore-eda yang memang konsisten mengangkat isu keluarga. Sebelumnya, ia sudah bergelut dengan tema ini dalam film 'Like Father, Like Son' (2013), 'Our Little Sister' (2015), 'Nobody Knows' (2004), dan masih banyak lagi.

[Gambas:Youtube]

Layaknya film-film sebelumnya, Kore-eda menampilkan banyak interaksi natural sebuah keluarga yang kecil tapi pada umumnya membawa kebahagiaan. Adegan seperti bermain ke pantai, makan bersama, hingga berbagi kisah dan masalah menjadi momen yang mengundang kehangatan.

Akting aktor/aktrisnya yang natural, dialog indah nan reflektif, serta jarak kejutan yang pas merupakan senjata utama Shoplifters menggambarkan permasalahan sosial secara bijaksana. Emosi penonton dibiarkan naik turun selama rajutan pengungkapan latar belakang tiap tokohnya terjalin.

Di film yang rilis pertama kali pada Mei 2018, penonton akan sulit menentukan karakter antagonis dan protagonis. Semua karakter digambarkan abu-abu, tak sepenuhnya baik namun juga tak selalu melakukan hal jahat.

Kore-eda menggambarkan manusia sebagai koin yang selalu memiliki dua sisi dalam menjalani kehidupan. Sangat padat filosofi. Shoplifters menawarkan pertanyaan-pertanyaan besar tentang tanggung jawab dan pilihan hidup.

Kualitas film ini telah mengantarkan keluarga Shibata ke berbagai festival film internasional. Bahkan, sederet penghargaan internasional telah disabet seperti Palme d'Or di Cannes Film Festival, Best Foreign Language Film di Boston dan Los Angeles Society of Film Critics. (dna/end)