Ulasan Film: 'DreadOut'

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 05/01/2019 14:21 WIB
Ulasan Film: 'DreadOut' 'DreadOut' menjadi film yang terasa 'nanggung' horornya. (Foto: dok. Screenplay Films)
Jakarta, CNN Indonesia -- DreadOut adalah film horor yang kurang menakutkan dan kurang menegangkan. Hampir setiap adegan yang seharusnya bisa memacu adrenalin seperti direm secara paksa.

Kemungkinan besar hal itu terjadi karena sutradara dan penulis naskah Kimo Stamboel tidak leluasa menulis naskah. Ia sempat menyampaikan bahwa produser memintanya membuat film dengan klasifikasi 17 tahun ke atas.

Kimo sendiri mengaku kesulitan menggarap DreadOut yang diadaptasi dari gim video bertajuk sama karena batasan usia tersebut. Wajar saja, karena film ini menjadi karya pertama Kimo yang ditujukan untuk usia 17 tahun ke atas.



Dari cerita, DreadOut merupakan prekuel gim video yang berdurasi selama dua jam delapan menit. Cerita fokus pada konteks mengapa dan bagaimana kejadian mistis dalam gim bisa terjadi. Terutama pada karakter Linda yang diperankan Caitlin Halderman.

Diceritakan, Linda diminta oleh seniornya, Erik (Jerfri Nichol), Beni (Muhammad Riza Irsyadillah), Alex (Ciccio Manassero), Dian (Suzana Sameh) dan Jessica (Marsha Aruan) untuk menemani masuk ke gedung tua. Tak sengaja, Linda malah membuka portal dunia gaib.

Seharusnya banyak adegan yang menegangkan dan menakutkan ketika portal dunia gaib sudah dibuka, tapi ternyata tidak, karena adegan terasa tanggung. Adegan pocong pembawa celurit bahkan sama sekali tidak seram, celurit terasa seperti pajangan untuk menakut-nakuti, tetapi gagal. 

Karakter hantu yang cukup seram adalah hantu kebaya merah yang diperankan Rima Melati Adams. Hampir setiap degan yang menampilkan hantu kebaya merah terasa cukup menegangkan, terlebih ketika ia mengeluarkan kekuatannya.


Meski begitu, DreadOut masih menarik untuk disaksikan karena mengandung cerita yang misterius sejak awal. Rasa penasaran penonton seolah dipupuk lewat adegan demi adegan.

Bila diperhatikan ada beberapa bagian cerita yang terasa bolong. Hal itu nampaknya disengaja karena produser berencana membuat sekuel DreadOut.

Kelebihan dari film ini adalah transisi yang rapi dari adegan serius ke adegan humor yang berhasil membuat tertawa. Salah satunya ketika Erik, Beni, Alex dan Dian membicarakan portal alam gaib dengan petugas keamanan gedung.

[Gambas:Youtube]

Selain itu, akting-akting aktor dan aktris muda dalam film ini layak mendapat tepuk tangan. Kimo sukses mengarahkan mereka dengan baik hingga akting terasa natural dan sesuai dengan keperluan cerita.

Hal lain yang patut dipuji dalam film ini adalah efek visual. Kurang lebih sebanyak 40 persen film DreadOut akan dipoles dengan efek visual, semuanya terlihat bagus. Pun kalau ada yang kurang bagus masih nyaman untuk disaksikan.

DreadOut rilis di bioskop seluruh Indonesia sejak Kamis (3/1) kemarin. Film ini dapat disaksikan di jaringan bioskop 21, CGV dan Cinemaxx. (adp/rea)