Ulasan Film: 'Keluarga Cemara'

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Sabtu, 05/01/2019 13:06 WIB
Ulasan Film: 'Keluarga Cemara' 'Keluarga Cemara' sudah bisa ditonton di bioskop. (Dok. Visinema Pictures via youtube)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ringan, sederhana dan bermakna adalah tiga kata yang dapat menggambarkan film Keluarga Cemara. Kurang lebih selama satu jam 50 menit penonton disuguhi cerita menghibur yang masih menyajikan karakter yang sudah dikenal: Abah, Emak, Euis, dan Ara.

Ceritanya pun masih seperti Keluarga Cemara yang muncul sejak 1970-an. Tentang suatu keluarga kecil yang harus bertahan hidup setelah tulang punggung keluarga mereka jatuh miskin. Mereka sampai harus pindah rumah dan anak-anak ikut membantu bekerja.

Diawali dengan adegan-adegan ringan, perlahan kisah Keluarga Cemara mulai menggugah emosi. Beberapa adegan membuat penonton ikut terenyuh, misalnya ketika Abah dan Emak berbicara bahwa mereka benar-benar bangkrut. Akting Ringgo dan Nirina Zubir patut diacungi jempol.



Mereka bermain dengan luwes sehingga nyaman disaksikan. Begitu pula dengan Zara JKT 48 yang menjadi Euis dan Widuri Puteri yang memerankan si kecil Ara.

Tak hanya menyuguhkan kesedihan, Keluarga Cemara yang pernah populer dalam format sinetron pada 1996 sampai 2004 juga bisa membuat tertawa dan bahagia. Selain dihibur adegan-adegan humor, kehadiran karakter perempuan nyentrik yang diperankan Asri Welas juga mencuri perhatian. Kepolosan Ara juga terkadang menjadi hiburan tersendiri.

Kisah ringan Keluarga Cemara menjadi semakin menarik ketika banyak pesan-pesan yang bermakna sepanjang film. Film ini mengajarkan betapa pentingnya artis sebuah keluarga.


Dengan segala kelebihannya, patut dikatakan bahwa Keluarga Cemara adalah sebuah hiburan yang utuh untuk dinikmati sekeluarga saat akhir pekan. Naskah yang ditulis oleh Gina S Noer dan Yandy Laurens yang juga berperan sebagai sutradara pun saling melengkapi.

Keluarga Cemara tidak kehilangan kehangatan yang membuatnya tenar saat dimainkan Adi Kurdi cs. Ia seakan membuat nostalgia, namun tetap relevan di masa sekarang.

Sayangnya, ada beberapa detail kekinian yang justru mengganggu, seperti kehadiran penyedia transportasi daring. Kemunculan yang cukup sering dan dikesankan sebagai penyelamat itu membuat Keluarga Cemara terasa mempromosikan mereka.

[Gambas:Youtube]

Beberapa adegan juga masih terasa seperti sinetron layar kaca. Misalnya saat Abah kecelakaan. Penonton seakan diberi 'kode' lewat pergerakan kamera dan dialog bahwa kecelakaan itu akan terjadi, persis seperti adegan-adegan dalam sinetron.

Keluarga Cemara pertama kali tayang di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2018 pada November lalu. Film ini rilis di layar lebar sejak Kamis (3/1) kemarin. (adp/rsa)