Analisis

Selisik Kelayakan 'Bohemian' Jadi Film Terbaik Golden Globe

CNN Indonesia | Senin, 07/01/2019 19:02 WIB
Selisik Kelayakan 'Bohemian' Jadi Film Terbaik Golden Globe Film 'Bohemian Rhapsody'. (dok. 20th Century Fox)
Jakarta, CNN Indonesia -- Film biopik Queen, Bohemian Rhapsody, meraih dua penghargaan bergengsi di Golden Globe Awards 2019. Film yang diproduksi 20th Century Fox itu mendapat Best Motion Picture - Drama dan Best Actor in a Motion Picture - Drama lewat Rami Malek.

Tak lain dan tak bukan, Malek berperan sebagai vokalis Farrokh Bulsara alias Freddie Mercury. Tentu saja peran itu tidak mudah. Terlebih Freddie sudah meninggal sehingga Malek tak bisa belajar langsung.

"(Peran) ini bisa sangat salah (untuk saya), peran itu bisa jadi merugikan karier seseorang bila tidak berjalan dengan benar," kata Malek beberapa waktu lalu.


Malek sempat ragu ketika mendapat tawaran untuk memerankan karakter Mercury. Namun ia berpikir hanya orang naif yang mengira bahwa seorang aktor bisa memerankan suatu karakter sama dengan aslinya.


Alasan Malek mengambil peran tersebut adalah karena ada beberapa hal tentang Mercury yang belum diketahui banyak orang. Seperti rasa malu, rasa kesepian dan perjuangan untuk menemukan identitas.

Aktor berdarah Mesir ini mendalami karakter dengan menganalisa musisi yang menjadi inspirasi Mercury. Beberapa di antaranya adalah Jimi Hendrix, David Bowie dan Liza Minnelli. Uniknya ia lebih merasa berguna untuk syuting kala menonton Liza dibandingkan sosok Mercury.

Saat latihan bernyanyi, Malek juga bertemu dengan koreografer agar bisa serupa dengan aksi panggung Freddie. Lama kelamaan ia sadar bahwa Freddie bergerak secara spontan saat tampil. Akhirnya ia memilih berlatih dengan pelatih gerakan atau movement coach.

Dari kejadian itu bisa dilihat bahwa Malek benar-benar memperhatikan Freddie. Ia seolah ingin benar-benar menjadi Freddie, bukan sekadar akting sebagai atau menirukan Freddie.

[Gambas:Instagram]

Setelah gerakan, pekerjaan lain yang harus ia lakukan adalah mengenakan kostum. Dalam video promosi bertajuk Becoming Freddie, ia bercerita tentang pengalamannya mencoba kostum.

"Kami menghabiskan sekitar 50 jam di ruang kostum, dengan sepatu berhak platform setinggi empat inci, celana satin paling ketat dan kostum yang terbuat dari Lycra," ungkap Malek dalam video.

Tak lupa, ia juga mengenakan gigi palsu agar penampilan fisiknya serupa dengan Freddie. Dalam wawancara dengan New Yorker, Malek mengungkapkan ia menyimpan set gigi palsu yang dipakainya untuk keperluan syuting.

Semua usaha Malek berbuah manis. Aktingnya dalam Bohemian Rhapsody sangat bagus dari berbagai aspek. Terlebih ketika adegan Queen tampil di berbagai panggung, Malek seperti 'kesurupan' Freddie.


Liuk tubuh, tangan dan kaki benar-benar serupa dengan Freddie. Termasuk ketika ia mengangkat tangan sembari melompat dan memainkan tiang mik sembari mondar-mandir kanan-kiri panggung.

Tak heran bila ia meraih penghargaan Best Actor in a Motion Picture Golden Globe 2019. Ia memang layak mendapat itu dan masih mungkin mendapat penghargaan dari ajang yang lain.

Terlepas dari aksi Malek yang sangat bagus, sebenarnya Bohemian Rhapsody kurang layak mendapat Best Motion Picture - Drama. Ya, harus diakui film tersebut bagus, tapi tidak untuk sekelas pemenang film terbaik Golden Globe Awards.

Bohemian Rhapsody sejatinya terasa seperti film yang dibuat dengan tujuan utama mendapatkan uang, bukan menghasilkan sebuah mahakarya sinematik.

Film 'Bohemian Rhapsody'.Film 'Bohemian Rhapsody'. (Dok. 20th Century Fox)

Ada beberapa cerita yang dikompromikan agar menarik dan bisa dijual. Tentu film anak juga akan menjadi menarik bila diberi bumbu, termasuk film biopik sekali pun.

Salah satu cerita yang dikompromikan adalah ketika Freddie mengaku mengidap HIV/AIDS. Dalam film Freddie mengaku pada Brian May (Gwilym Lee), Roger Taylor (Ben Hardy) dan John Deacon (Joe Mazzello) sebelum tampil di festival musik Live Aid pada 1985. Bahkan ada adegan Freddie ke rumah sakit untuk cek HIV/AIDS.

Kenyataannya, Freddie melakukan tes darah pada 1986, atau satu tahun setelah Live Aid. Jelas, pengakuan Freddie sebelum tampil di Live Aid dibuat agar film lebih dramatis dan menarik.

Dari segi cerita, Bohemian Rhapsody sebenarnya seperti film tidak konsisten. Tidak konsisten ingin menceritakan Queen atau Freddie.

Kemungkinan besar 20th Century Fox khawatir kalau hanya menceritakan Queen maka kurang menjual, pasalnya sosok Freddie sangat terkenal.


Sebaliknya, 20th Century Fox juga khawatir bila hanya menceritakan Freddie juga akan mengalami hal serupa. Ini jadi bak buah simalakama.

Biar bagaimana pun, Queen adalah legenda dan salah satu band tersukses di dunia. Dengan begitu kombinasi cerita Queen dan Freddie dianggap sangat baik secara komersial meski akan terasa tidak konsisten.

Bila dibandingkan dengan semua nominasi film terbaik, rasanya A Star Is Born lebih layak untuk mendapatkan gelar tersebut.

Bukan hanya kenyataan bahwa film tersebut tipikal Hollywood yang mengusung 'mimpi', namun juga secara kualitas cerita, sinematografi, musik, hingga pesan sosial yang dibawa oleh film tersebut lebih berbobot dibanding Bohemian Rhapsody.

Ya apa mau dikata, Hollywood Foreign Press Association telah memilih Bohemian Rhapsody menjadi pemenang Best Pictures - Drama pada Golden Globe Awards 2019.

[Gambas:Youtube] (adp/end)