Jatuh-Bangun Netral-NTRL Selama Seperempat Abad

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 16/01/2019 20:43 WIB
Jatuh-Bangun Netral-NTRL Selama Seperempat Abad NTRL menjalani proses yang tak sebentar dan tak mudah. (Foto: CNN Indonesia/M Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- NTRL sudah tidak asing di telinga pecinta musik Indonesia. Terbentuk pada 1993, sebelumnya band ini bernama Netral dengan Bagus Dhana (vokal/bas), Bimo Sulaksono (drum) dan Ricky Dayandani alias Miten (gitar) sebagai personel. Kini posisi Bimo digantikan Eno Gitara dan Miten digantikan Christopher Bollemeyer alias Coki.

Tahun lalu NTRL tepat berusia 25, usia itu mereka tandai dengan menggelar konser di I-Six, Kemang, Jakarta Selatan. Ruangan penuh sesak dengan penggemar yang disebut NTRLizer. Moshing dan crowd surfing jadi pemandangan lumrah dalam acara itu.

Ternyata, perayaan 25 tahun NTRL belum selesai. Awal tahun ini mereka merilis album box set yang berisikan cakram padat atau compact disc (CD), film dokumenter mengenai perjalanan 25 tahun Netral-NTRL dan kaus. NTRLizer yang mengoleksi rilisan fisik wajib memiliki album bertajuk XXV ini.


Sebelum jumpa media, film dokumenter perjalanan 25 tahun Netral-NTRL diputar. Awak media dan 200 orang pertama pembeli album XXV berkesempatan menyaksikan film garapan Anak Negeri Production ini. Pun Bagus, Eno dan Coki turut menyaksikan film itu.


Netral terbentuk secara tidak sengaja saat Bagus satu Sekolah Menengah Atas (SMA) bersama Bimo. Awalnya mereka hanya tampil membawakan lagu-lagu band lain seperti Led Zeppelin, Black Sabbath dan Jimi Hendrix. Lama-kelamaan mereka bosan hingga mendirikan Netral dengan mengajak Miten.

Dalam film, dijelaskan bahwa Bimo adalah orang yang mengusulkan Netral untuk menjadi nama band. Sebelumnya ia mengusulkan nama spektakuler karena dianggap membawa berkah. Tapi nama itu ditolak Bagus karena kurang enak diucapkan bila mereka tampil.

Netral mengalami proses jatuh bangun untuk bisa sukses seperti sekarang. Mereka berusaha keras membuat demo, bahkan Bimo sampai menjual mobil. Saat mengunjungi label-label rekaman Jakarta untuk menawarkan demo, hanya kalimat 'kami dengarkan dulu' atau 'nanti kami kabarkan' yang mereka dapat.

"Kalau label bilang seperti itu, udahlah pasrah aja," kata Bimo dalam film.


Beruntung mereka dipertemukan Jerry Bidara dari PT. Indosemar Sakti. Jerry menjadi produser album perdana Netral yang bertajuk Wa..lah (1995). Nama mereka mulai naik sejak video musik lagu Wa..lah yang dijadikan sebagai single tayang di televisi.

Perjalanan band beraliran rock ini terbilang lancar sampai merilis album kedua bertajuk Tidak Enak (1997) dan album ketiga bertajuk Album Minggu Ini (1998). Sayang, setelah album ketiga tersebut, Bimo mengundurkan diri. Kala itu ia merasa jenuh dan ingin memainkan musik lain.

Kebetulan, Miten kenal dengan Eno, seorang kawan mainnya yang memiliki studio musik. Studio itu dibangun oleh ayah Eno dengan tujuan anaknya bisa fokus bermusik.

"Miten sama Om Bagus main sama gue di studio, audisi gue di situ tapi mereka enggak bilang. Setelah itu ajak manggung dan gue ayo. Gue suka lagu dan musik merekam," kata Eno dalam film.


Dengan formasi baru itu Netral merilis satu album bertajuk Paten. Lagu Nurani yang melibatkan musisi Ahmad Dhani menjadi andalan. Video musik lagu tersebut disutradarai oleh Dimas Djayadiningrat.

Baru kembali berdiri, Netral kembali jatuh karena Miten memutuskan mundur. Kala itu ia ingin sekolah musik di Amerika Serikat. Bagus merasa kasihan pada Eno karena langsung tertimpa tangga saat baru masuk.

Namun Bagus tak patah arang. Ia mengajak dan menyemangati Eno untuk menggarap album berdua. Tentunya dengan bantuan pemain gitar tambahan bernama Apoy. Formasi ini berhasil melahirkan album Oke Deh (2001).

Sembari mencari personel, Netral merilis album The Best of Netral (2002). Selain mereka bertiga, Taras Bistara (gitar) dan Dessy Fitri (kibor) ikut berkontribusi pada album tersebut.


Lagi-lagi kebetulan, Eno yang sedang disponsori oleh salah satu produsen alat musik yang membuat gitar, bas dan drum. Ia harus keliling kota untuk mempromosikan drum bersama gitaris dan basis. Saat itulah ia bertemu dengan Coki yang tergabung dalam band Base Jam.

Eno tertarik dengan gaya Coki memainkan gitar. Tanpa pikir panjang ia mengajak Coki bergabung, memperkenalkannya pada Bagus. Gayung bersambut, Bagus menerima Coki dengan baik.

Dapat dikatakan formasi tersebut adalah formasi terbaik Netral. Bersama, mereka berhasil merilis enam album bertajuk Kancut (2003), Hitam (2005), Putih (2005), 9th (2007), The Story Of (2009) dan Unity (2012).

Netral mengalami masalah pada tahun 2012 sehingga harus berganti nama menjadi NTRL. Berawal dari Bimo yang mengajak Netral datang ke salah satu acara televisi untuk menghormati kepergian Miten. Sementara, Bagus merasa tidak enak kalau tidak datang bersama Eno dan Coki.


Saat itu Bimo geram dan mengancam mematenkan nama Netral ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual bila Bagus tidak datang. Dirinya pun melakukan persis seperti yang dikatakannya, alhasil yang menggunakan nama Netral harus dengan seizinnya.

Bimo menjelaskan nama Netral bisa digunakan selama membayar royalti. Ia meminta royalti 10 persen dari setiap pendapatan manggung yang dibagi tiga untuknya, keluarga Miten dan Bagus. Namun Bagus tidak menyetujui tawaran itu sehingga mengganti nama menjadi NTRL.

Dalam film Bimo menjelaskan saat itu ia hanya emosi sesaat. Pun saat ini ia sudah merelakan nama Netral dan tidak masalah bila Bagus, Eno dan Coki ingin memakai nama itu lagi, tetapi mereka bertiga sudah tak ingin mengganti nama.

"Tapi kita merasa dengan nama NTRL membawa berkah. Seperti Bimo bilang bikin nama band yang membawa berkah ternyata NTRL membawa berkah. Akhirnya nama naik lagi," kata Bagus saat jumpa media di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (15/1) malam.

Bagus melanjutkan, "Enggak kerasa, dari band SMA yang latihan enggak jelas, bikin demo, masuk label, bikin album terus ganti-ganti personel dan bisa sampai sekarang. Luar biasa banget." (adp/rea)