Georges Remi aka Herge, Sang 'Bapak' Tintin

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 19/01/2019 10:19 WIB
Georges Remi aka Herge, Sang 'Bapak' Tintin Georges Remi alias Herge, 'bapak' Tintin. (Foto: AFP PHOTO / BELGA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hampir satu abad sudah, Herge memulai petualangan Tintin lewat sebuah komik strip yang diterbitkannya di laman Le Petit Vingtieme. Berkat itu, namanya sebagai kartunis dari Belgia dengan cepat meraih popularitas.

Komik Tintin kemudian tercatat sebagai salah satu komik Eropa yang paling populer di abad ke-20. Namun di balik itu, perjalanan karier Herge bukan hanya seputar tokoh reporter muda yang khas dengan jambulnya saja. Setidaknya ada sekitar 16 karya lain yang diciptakannya.

Herge terlahir dengan nama Georges Remi pada Mei 1907 dan dibesarkan di Brussels.


Pada 1920, Herge memulai pendidikannya di College Saint-Boniface. Namun ia disebut begitu bosan bersekolah di sana. Demi mengatasi kebosanan, ia pun bergabung dengan kelompok Pramuka setahun setelahnya dan menerima nama sebutan 'Curious Fox'.


Dari kelompok tersebut, Herge unjuk gigi kemampuan menggambar untuk pertama kali. Karya pertamanya muncul di Jamais assez, majalah kepramukaan di sekolahnya. Mulai tahun 1923 karyanya muncul di Le-scout belge, majalah bulanan Belgian Boy Scouts.

Sejak saat itu, dikutip dari laman resmi Tintin, ia diketahui kerap menandai karyanya di bawah nama Herge, nama pena yang dibuat berdasarkan pelafalan inisial namanya, RG dalam bahasa Perancis.

Terinspirasi dari kegiatannya di dunia Pramuka, pada 1926, Herge menciptakan Totor (pendahulu Tintin), Pemimpin Patroli Les Hanneton di Le Boy-scout belge. Setahun setelah itu, ia vakum karena harus melakukan kegiatan wajib militer dan baru kembali ke Brussels pada 1929.

Setelah itu, Herge ditunjuk untuk menjadi pemimpin redaksi Le Petit Vingtieme, laman mingguan khusus anak-anak di Le Vingtieme Siecle. Edisi pertamanya diterbitkan pada 1 November. Dan pada awal 1929, tepatnya 10 Januari, Herge melahirkan karakter ikonis Tintin dan Snowy yang terbit di majalah tempatnya bekerja.


Pada 1930, dia turut menciptakan Quick and Flupke, para bajingan dari Brussels, yang akan muncul dalam cerita pendek di Le Petit Vingtième. Di tahun yang sama, Herge menerbitkan buku petualangan pertama Tintin - Tintin in the Land of the Soviet.

Dua tahun setelahnya, Georges Rémi menikahi Germaine Kieckens, sekretaris editor Le Vingtieme Siecle.

Selama awal masa hidupnya, dikutip dari New York Times, Herge berada di bawah pengaruh Norbert Wallez, seorang imam Katolik Roma kanan yang mengidolakan Mussolini. Wallez disebut mendorong kemampuan menggambar Herge dan memberinya pekerjaan di bagian anak-anak Le Vingtieme Siecle, sebuah koran Katolik konservatif yang disunting Wallez.

Wallez disebut membentuk pemikiran Herge, memilihkan seorang istri untuknya, dan bahkan memberi saran untuk petualangan pertama Tintin - Tintin in the Land of the Soviet, di mana ia mengirim pahlawannya ke Rusia sehingga dapat mengekspos kejahatan Bolshevisme.

Georges Remi aka Herge, Sang 'Bapak' Tintin **Kisah-kisah petualangan Tintin dalam puluhan edisi. (AFP PHOTO MEHDI FEDOUACH)

Sepanjang 1935 hingga 1940, Herge secara konsisten merilis kelanjutan seri Tintin usai meraih kesuksesan yang cepat. Di antaranya The Broken Ear, The Black Island, King Ottokar's Sceptre, serta Land of the Black Gold. Sementara, dalam kurun waktu enam tahun setelah itu, Herge disebut melakukan pertemuan penting dengan Edgar Pierre Jacobs, yang menjadi kolaborator pertamanya dan menggambar ulang pemandangan serta seragam King Ottokar's Sceptre sebagai edisi kedelapan Tintin.

Di sisi kolaborator pertama, ada kolaborator wanita kedua, Alice Devos yang bekerja untuk Herge selama beberapa tahun. Ia bertugas untuk menyusun kembali tata letak halaman, serta mengatur dalam format baru tetapi dalam warna seperti edisi lama.

Setelah membuat Explorers on the Moon pada 1950, Herge mendata sejumlah kolaborator dan mendirikan Studios Herge. Seiring perjalanan Tintin yang kian sukses, Herge pun tak ragu mengembangkan koleksi cetakan warna di mana Tintin berperan sebagai juru bicara untuk berbagai bidang pengetahuan.

Pada 1960, karya miliknya diadaptasi ke layar lebar dengan aktor Belgia Jean-Pierre Talbot memerankan tokoh Tintin untuk kisah Tintin and Mystery of the Golden Fleece. Talbot kembali memainkan peran yang sama untuk tema Tintin and the Blue Oranges, selang empat tahun kemudian.


Pada waktu bersamaan, Georges Rémi menemukan seni modern, dan baginya itu menjadi sumber gairah sejati untuk terus berkarya. Hanya saja, keberhasilan tersebut tak sejalan dengan kehidupan pribadinya. Ia berpisah dengan sang istri di tahun yang sama, setelah disebut kerap berselingkuh dengan beberapa wanita.

Dari pernikahannya tersebut, ia dan Kieckens tak dikaruniai anak karena dianggap steril setelah perawatan radiasi. Pada 1950-an ia sempat ditawari untuk mengadopsi dua anak saudaranya Paul, Denise dan George, ketika orang tua mereka mengalami masalah dalam rumah tangga.

Namun Paul menolak tawaran itu, dia merasa anak-anaknya tidak memiliki kasih sayang yang besar terhadap Herge dan menganggap saudara lelakinya itu canggung di sekitar anak-anak.

Setelah bercerai dengan istri pertamanya, Herge menikahi Fanny Vlamynck pada 1977.

Georges Remi aka Herge, Sang 'Bapak' Tintin **Tintin, reporter dengan latar kehidupan serba-rahasia. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Beberapa tahun sebelum itu, Herge lebih dulu mengunjungi Amerika Serikat untuk pertama kali dan menemui sejumlah penduduk aslinya. Ia mengunjungi sejumlah tempat termasuk Minnesota, South Dakota, Chicago, San Francisco, Los Angeles, Las Vegas, dan Kansas City.

Pada April 1972 ia melakukan perjalanan ke New York City untuk menghadiri konferensi internasional tentang kartun strip, di mana dirinya diperkenalkan pada Wali Kota John Lindsay dan bertemu dengan seniman pop Andy Warhol. Tujuh tahun setelah itu, King of Pop Art Warhol membuatkan Herge seri empat potret khas ciptaannya sebagai hadiah 50 tahun Tintin.

Nama Herge sempat diabadikan untuk sebuah planet yang baru ditemukan dan terletak di antara Mars dan Jupiter oleh Perhimpunan Astronomi Belgia sebagai kado ulang tahunnya yang ke-75, setahun sebelum ia menghembuskan nafas terakhir.

Herge wafat pada 3 Maret 1983 setelah didiagnosa menderita osteomielofibrosis yang membutuhkan transfusi darah lengkap, selama beberapa tahun. Beberapa saat sebelum kematiannya, pada 25 Februari 1983, Hergé mengalami serangan jantung dan dirawat di rumah sakit dalam perawatan intensif di Brussels 'Cliniques Universitaires Saint-Lu.


Kematian Herge menjadi sorotan utama di seluruh dunia dan menempati halaman depan di berbagai surat kabar Perancis, termasuk Libération dan Le Monde. Dalam wasiatnya, ia meninggalkan Fanny sebagai pewaris tunggal.

Pada November 1986, Fanny menutup Studios Herge, menggantikannya dengan Yayasan Herge. Dan pada 1988, majalah Tintin sendiri dihentikan.

Semasa hidupnya, terlepas dari kegemaran menggambar, Herge diketahui suka berjalan-jalan di pinggiran kota, bercocok tanam, mengoleksi barang-barang seni, dan menjadi penggemar musik jazz. Meski ia menyatakan tak suka tampil di publik, tapi ia berkeras untuk secara pribadi membalas surat dari penggemar, hal yang menghabiskan sebagian besar waktunya.

Baginya, "Jika tidak membalas surat dari anak-anak itu berarti mengkhianati mimpi mereka."

Menurut beberapa kolega, Herge merupakan sosok egosentris dan dikenal otoriter dengan pekerjanya. Sterckx mencatat, bahwa "Di satu sisi ia bisa menjadi jauh, bahkan sangat dingin, tetapi di sisi lain ia penuh kasih sayang."

Georges Remi aka Herge, Sang 'Bapak' Tintin **Kisah Tintin tak lepas dari kontroversi. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)

Tuduhan Rasis

Secara berulang kali, Herge dituduh akan isu rasisme karena penggambarannya atas berbagai kelompok etnis di seluruh The Adventures of Tintin. Salah satunya dalam Tintin in the Congo, Herge menggambarkan orang Kongo sebagai "baik hati tetapi terbelakang dan malas, serta masih di bawah penguasaan Eropa."

Namun di balik itu, seseorang mengatakan bahwa Hergé tidak menulis buku itu untuk menjadi 'sengaja rasis' dan sebenarnya itu mencerminkan rata-rata awal pandangan Belgia abad 20 tentang Kongo, yang lebih dipandang rendah daripada jahat.

Dalam petualangan berikut, Tintin in America, Herge menggambarkan anggota suku Blackfoot dari penduduk asli Amerika sebagai 'mudah tertipu, bahkan naif'.

Dalam The Blue Lotus, ia menggambarkan Jepang sebagai militeristik dan bergigi besar, yang juga menarik tuduhan rasisme.

Terlepas dari itu, Herge merupakan sosok berprestasi. Ia telah mengantongi ragam penghargaan seperti Adamson Awards, Swedia pada 1971, Lifetime Achievement Award di Festival of Lucca 1972, Grand Prix Saint Michel 1973, The Dalai Lama Bestowed the International Campaign for Tibet 2006, serta terpilih sebagai motif utama untuk koin peringatan Belgia dengan nilai nominal 20 euro sebagai penghormatan ulang tahunnya ke-100. (agn/rea)