Meraup Ratusan Juta dari Sesama Penggemar K-Pop

CNN Indonesia | Minggu, 03/02/2019 11:33 WIB
Meraup Ratusan Juta dari Sesama Penggemar K-Pop Ilustrasi fans K-Pop menunjukkan aneka merchandise. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada banyak cara untuk mendulang cuan dari penggemar, seperti pada K-Popers. Sebagian penggemar bahkan ikut mengeruk untung dari sesamanya.

Seperti yang dilakukan oleh seorang perempuan yang hanya ingin disebut H. Dia merupakan fan K-Pop yang mengaku kepada CNNIndonesia.com menjalankan bisnis dengan memenuhi hasrat para K-Popers, termasuk dirinya sendiri.

Bahkan, H yang mengaku mengidolakan boyband VIXX ini bertindak lebih jauh. Ia memilih menempuh studi magister di Korea pada 2015, salah satu alasannya karena ingin lebih mudah bertemu dengan idolanya itu. Dan sejak tinggal di Korea itulah, bisnisnya berjalan.


H mengakui dirinya cukup fanatik dengan VIXX. Ia mengaku pernah membeli berbagai album VIXX hingga 600 unit demi mendapatkan peluang lebih besar memenangkan kesempatan fansign, atau memperoleh tanda tangan dari idola.


Padahal satu unit album tersebut seharga 17.500 won, atau sekitar Rp218 ribu. Bila membeli 600 unit album, berarti H telah mengeluarkan 10,5 juta won, atau setara dengan Rp130,8 juta, hanya untuk dapat peluang fansign.

"Enggak mungkin minta uang ke orang tua, mereka kirim uang buat kuliah dan biaya hidup di sini. Jadi harus cari uang sendiri, itu yang membuat aku berbisnis," kata H.

"Sempat kerja paruh waktu di toko handphone dan penerjemah, tapi waktunya enggak fleksibel dan [saya] tipe yang enggak bisa disuruh. Jadi aku mikir apa yang bisa dihasilkan dari kegemaran," lanjutnya.

Saat ini H yang masih menetap di Korea mengaku menjalankan tiga bisnis, pemandu wisata privat, jasa titip pembelian album, merchandise serta tiket konser dan menjual album.

Ilustrasi penggemar K-Pop.Ilustrasi penggemar K-Pop. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

Ia membuka harga 100 ribu won atau setara dengan Rp1,2 juta untuk memandu wisata privat selama satu hari di Korea Selatan. Harga itu belum termasuk konsumsi, transportasi dan akomodasi.

Kemudian untuk jasa titip pembelian tiket konser, H mengambil keuntungan 50 ribu won atau sekitar Rp600 ribu per tiket. Sedangkan untuk jasa titip alias jastip pembelian merchandise dan album, H mengambil keuntungan 10-30 persen dari harga setiap benda.

Sementara itu, untuk album, H mengaku hanya menjual album yang pernah ia beli sebelumnya alias 600 unit untuk fansign tersebut. Untuk menyiasati agar laris, ia menjualnya lebih murah dibanding harga di toko. Bahkan ia tak sungkan memotong hingga setengah harga.

"Terkadang aku juga buka pra-pesan sebelum beli album untuk fansign, itu aku umumkan melalui Twitter. Semua laku, bahkan ada yang sampai kehabisan," kata H.



H menyebut dirinya tidak terlalu berorientasi pada keuntungan semata karena bisnis ini bersifat sementara. Ia mengaku tak akan menjadi pemandu wisata atau buka jastip bila ia biaya memenuhi kegemarannya sudah tercukupi.

Beruntung selama menjalani bisnis ini H tidak pernah merasakan masalah yang berarti. Paling hanya tamu yang ngaret atau upaya kompetitor menyebar gosip untuk menjatuhkan usahanya.

Kasihan Berbuah Penipuan

Upaya mendulang cuan sembari memenuhi hasrat akan K-Pop bukan hanya dilakukan oleh H. Viianti, seorang K-Popers lainnya, juga melakukan hal yang sama. Vianti menjalankan bisnis jastip pembelian merchandise, album, dan tiket konser sejak 2017 kala baru lulus kuliah.

"Gue konsisten jalanin bisnis ini karena menguntungkan dan suka dagang. Kebetulan gue kuliah jurusan akuntansi, dari dulu punya cita-cita bangun usaha sendiri, enggak kerja sama orang lain," kata Viianti saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Viianti hanya menerima jastip pembelian tiket konser musisi K-Pop yang tampil di Indonesia. Ia ingat pernah membuka jasa pembelian tiket konser Wanna One, GOT7, BLACKPINK, Day6, BTS dan Stray Kids. Tarif jasa titip pembelian bergantung pada seberapa sulit membeli tiket.


Ia mencontohkan tarif titip pembelian tiket konser BLACKPINK dan BTS sebesar Rp200-500 ribu per tiket, karena sulit didapat. Dengan keuntungan tersebut, dalam satu konser omzetnya bisa mencapai Rp200 juta.

Sementara tarif titip pembelian tiket konser Stray Kids atau GOT7 sebesar Rp100-120 ribu per tiket karena tergolong mudah. Dengan keuntungan tersebut, dalam satu konser omzet hanya sekitar Rp10 juta.

"Kemarin sudah mulai coba buka jasa titip beli tiket konser BTS di Singapura. Kalau ini jasanya bisa lebih mahal dari pada konser di Indonesia," kata Viianti.

Untuk tarif jasa titip pembelian album dan merchandise, Viianti membeli langsung dari Korea Selatan. Pembelian ia lakukan lewat temannya yang asli orang Korea Selatan dan temannya yang sedang berlibur ke Korea Selatan.

Viianti tak lupa membagi keuntungan pada teman yang membantu bisnisnya. Namun secara keseluruhan, ia tidak mengambil banyak untung dari jasa titip pembelian album dan merchandise, ia hanya mengambil untung Rp20-100 ribu per barang.

Kerumuman K-Popers jelang konser idola mereka.Kerumuman K-Popers jelang konser idola mereka. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

"Kadang gue mengambil lebih sedikit dari untung itu. Merasa kasihan dengan sesama penggemar K-Pop. Ya gue mengerti juga bagaimana jadi penggemar yang ingin punya album atau merchandise," kata Viianti.

Selama menjalani bisnis ini, Viianti mengaku beberapa kali mengalami masalah yang besar. Salah satunya ketika merchandise dan album yang dikirim dari Korea Selatan tertahan di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Ia harus membayar cukai agar barang tersebut tidak disita.

Ia mengingat pernah menerima barang dari Korea Selatan dengan total harga lebih dari Rp10 juta. Kala itu Viianti diminta membayar Rp5 juta, uang yang lebih banyak ketimbang untung miliknya dalam penjualan barang tersebut.

"Akhirnya gue bilang ke pembeli, gue jelaskan bahwa ini barang ketahan, mau patungan atau tidak. Mereka mengerti dan mau patungan," kata Viianti.

[Gambas:Youtube]

Masalah lain yang pernah ia alami adalah pembeli tiket konser yang kabur tanpa melunaskan biaya jasa dan tiket. Viianti terkadang merasa kasihan dan mengizinkan pembeli menonton konser dengan syarat membayar lunas tiket setelah konser selesai. Alih-laih, ia malah tertipu.

"Sampai sekarang hilang begitu saja. Kejadian ini pas konser BLACKPINK kemarin, ada tiga orang yang kabur, gue rugi sekitar Rp3 juta," kata Viianti.

Viianti tidak ingin lapor karena yakin polisi tidak akan membantu dan memproses kasus tersebut. Temannya yang berbinis jasa titip pembelian tiket juga pernah ditipu dan melapor, namun sampai saat ini disebutnya polisi tidak bertindak. (adp/end)