Analisis

Semua karena Freddie Mercury, Rami!

Tim, CNN Indonesia | Senin, 25/02/2019 15:41 WIB
Semua karena Freddie Mercury, Rami! Rami Malek memenangi Aktor Utama Terbaik di Oscar 2019. (REUTERS/Mike Blake)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rasanya pantas menyematkan predikat aktor terbaik tahun ini kepada Rami Said Malek.

Dua bulan terakhir ia malang melintang ke berbagai ajang penghargaan. Hampir dari semuanya ia membawa pulang piala. Best Actor dari Golden Globe 2019, dan yang terakhir juga Best Actor dari Oscar 2019. Itu membuat 'koleksi' piala Malek lengkap. Sebelumnya piala Emmy Awards sudah lebih dahulu nangkring di lemarinya, dari perannya di Mr. Robot.

Namun piala yang belakangan diborong Malek berkat Farrokh Bulsara alias Freddie Mercury. Memerankan pentolan Queen itu dalam Bohemian Rhapsody (2018) membuat namanya melambung.



Tentu itu sejalan dengan usaha Malek. Bukan perkara mudah memerankan karakter yang sangat ikonis seperti Freddie. Dalam kehidupan nyata Freddie merupakan orang berdarah Inggris-Timur Tengah dengan orientasi homoseksual. Dari perawakan fisik, ia bergigi tonggos.

Di luar karakternya yang ikonis, Freddie sudah meninggal tanpa Malek sempat bertemu dengannya. Apalagi belajar langsung. Itulah yang membuatnya sempat ragu ketika mendapat tawaran untuk memerankan Freddie. Ia khawatir tak bisa menyamai Freddie asli.

Namun kemudian sebuah pemikiran lain menyeruak. "Hanya orang naif yang mengira bahwa seorang aktor harus memerankan suatu karakter sama dengan aslinya," kata suara di otaknya.

Malek pun memberanikan diri mengambil peran itu. Aktor 37 tahun itu ingin mengulik lebih dalam soal beberapa hal tentang Freddie yang belum diketahui banyak orang.


Seiring risetnya Freddie menemukan rasa malu, kesepian dan perjuangan menemukan identitas.

Latihan demi latihan Malek lakukan. Ia bertemu dengan koreografer agar bisa tampil serupa dengan Freddie di atas panggung. Sampai ia sadar bahwa Freddie lebih banyak bergerak spontan saat tampil. Malek pun memilih berlatih dengan pelatih gerakan (movement coach).

Segala riset itu dilakukan Malek agar ia bisa menjiwai dan menjelma jadi Freddie, bukan sekadar menirunya. Hasilnya tak sia-sia. Dalam Bohemian Rhapsody ia tampak sangat serupa dengan Freddie saat tampil di atas panggung, seperti bisa dilihat di video dokumenternya.

Liuk tubuh Malek energik seperti Freddie. Apalagi gayanya saat sesekali memainkan tiang mik. Khas Freddie. Teriakannya, fisiknya, pun seakan menjelma menjadi Freddie.


Malek dan Freddie memang punya kesamaan. Keduanya imigran. Kedua orang tua Malek berasal dari Mesir, kemudian berlabuh di AS. Meski terletak di Benua Afrika, sejak pertengahan abad 20 Mesir dianggap sebagai Timur Tengah. Tak heran Malek memiliki wajah Timur Tengah, seperti Freddie yang kelahiran Zanzibar dari orang tua India yang bermigrasi ke Inggris.

Bedanya gigi Malek tidak tonggos, sehingga ia harus mengenakan gigi palsu demi serupa secara fisik dengan Freddie. Itu tak nyaman, tapi hasilnya sangat membanggakan.

Malek mendapat penghargaan karena perannya sebagai Freddie. Artinya ia mendapat pengakuan bahwa kualitas aktingnya benar-benar baik. Ia membuktikan dirinya bisa bermain dalam film besar sebagai karakter utama, tak lagi sekadar serial seperti Mr. Robot.

Di balik usahanya yang patut diapresiasi, tak bisa dipungkiri penghargaan yang didapat Rami juga berkat Freddie. Ia sangat digemari sebagai anggota Queen. Bila bukan memerankan Freddie, belum tentu Malek bisa mendapat penghargaan bergengsi.

Rami Malek sebagai Freddie Mercury.Rami Malek sebagai Freddie Mercury. (dok. 20th Century Fox)
Maka tak berlebihan kiranya jika berkata, "Semua ini juga karena Freddie, Rami."

Pantas Malek mengucapkan terima kasih pada Freddie saat menerima penghargaan Best Actor Golden Globe 2019. "Terima kasih kepada Freddie Mercury, kebahagiaan seumur hidup. Saya menyayangimu, pria baik. Ini untuk dan karenamu, tampan," katanya sambil mengangkat piala.

Di Oscar 2019 yang berlangsung di Dolby Theatre, Los Angeles, Minggu (24/2) malam waktu setempat, Malek tidak menyebut nama Freddie. Namun ia bicara soal mendedikasikan kemenangannya untuk imigran, yang seperti keduanya, mungkin juga berjibaku dengan dirinya sendiri untuk menemukan identitas mereka. Filmnya, katanya, adalah untuk mereka.

"Kita membuat film tentang seorang homoseksual, imigran, yang hidup tanpa sesal sebagai dirinya sendiri. Faktanya, saya merayakan dirinya dan ceritanya dengan kalian di sini malam ini, adalah bukti bahwa kita merindukan cerita seperti ini," ujar Malek, yang selain mendapat piala, juga mendapat kekasih-Lucy Boyntoyn-dari Bohemian Rhapsody.

(adp/rsa)