Kemendikbud Targetkan 58 Juta Penonton Film Indonesia di 2019

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 30/03/2019 18:22 WIB
Kemendikbud Targetkan 58 Juta Penonton Film Indonesia di 2019 Ilustrasi: Mengalami tren kenaikan penonton sejak 2015, Kemendikbud berencana menargetkan 58 juta penonton film Indonesia pada 2019, naik 10 juta dari capaian 2018. (CNN Indonesia/Rizky Sekar Afrisia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menargetkan penonton film Indonesia pada 2019 tembus 58 juta. Capaian ini lebih tinggi 10 juta dari perolehan penonton Indonesia pada 2018, yaitu 48 juta penonton.

"[Target untuk 2019] ya 58 juta, itu untuk film Indonesia. Tren [penonton] film Indonesia naik setiap tahun," kata Kepala Pusat Pengembangan Film Kemendikbud Maman Wijaya di kantornya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (29/3).

Berdasarkan data box office yang belum secara resmi dirilis Kemendikbud, Maman menyebutkan, ada 16 juta penonton film Indonesia pada 2015. Angka tersebut naik drastis menjadi 36 juta pada 2016, 42 juta pada 2017 dan 48 juta pada 2018.


Maman menjelaskan salah satu faktor yang mendukung peningkatan penonton film Indonesia adalah masa tayang film di bioskop.


Maman menginginkan film Indonesia yang diputar di bioskop, di semua kelas, memiliki rentang waktu yang sama. "Misal tayang dua pekan di kelas A, lalu dua pekan di kelas B dan dua pekan di kelas C, itukan lebih panjang," kata Maman.

Akan tetapi, selama ini bioskop menjalankan sistem pasar bebas sehingga durasi bertahan film di bioskop bergantung pada jumlah penonton yang didapat masing-masing film. Semakin laris film, makin lama film bertahan di layar.

Meski begitu, demi mewujudkan keinginan ini, Maman menyebutkan pihaknya tengah bekerja sama dengan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk mengatasi masalah ini.

Selain itu, Maman menyorot masalah izin pendirian bioskop. Ia menyebut tengah berusaha untuk mempermudah pendirian bioskop, terutama di daerah, demi menjangkau penonton di pelosok.

Selama ini, bioskop didirikan di pusat perbelanjaan atau mal karena mampu dianggap lebih berpeluang menjaring penonton. Selain itu, menyewa lapak di mal dianggap lebih murah dibandingkan memiliki gedung sendiri.


"Kami dorong dengan cara perizinan lebih mudah, misal mau bangun bioskop di mal [di kabupaten] izin enggak usah ada lagi," kata Maman.

Kemendikbud juga menghitung rata-rata penonton per judul karena penting untuk menghitung keuntungan, kerugian atau impas yang biasa disebut break even point (BEP). Tahun 2018, rata-rata penonton per judul tercatat ada 287 ribu.

"Kalau BEP kasar itu sekitar 278 ribu penonton, berarti rata-rata penonton kita per judul di atas BEP semua," kata Maman.

Selain itu, Kemendikbud juga menghitung jumlah penonton film impor setiap tahun. Terhitung tahun 2016 ada 87 penonton film impor, turun menjadi 58 juta pada 2018.

"Setidaknya jumlah penonton film impor tidak naik, syukur kalau turun. Kalau jumlahnya tetap sama akan bertemu [dengan target penonton film Indonesia 2019]," kata Maman. (adp/end)