Menemukan Layar Tancap di Pengkolan Bintaro

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 06/04/2019 11:19 WIB
Menemukan Layar Tancap di Pengkolan Bintaro Layar tancap menjadi hiburan gratis bagi masyarakat kelas bawah. (Ilustrasi/CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perempatan Jalan Bintaro Utama 3 yang membelah Bintaro Plaza dan Stasiun Pondok Ranji itu tampak lebih ramai dari biasanya. Malam minggu, memang. Tapi ada suasana yang berbeda.

Di pengkolan Jalan Bintaro Utama 3A dan Jalan WR Supratman, terbentang layar putih berukuran 7x3 meter. Tali di ujung-ujung layar dikaitkan ke bambu.

Di dekat situ ada sebuah warung jamu beratapkan terpal. Ia dijadikan 'markas' bagi proyektor, power sound system dan DVD player. Alat-alat itu adalah 'penyokong' bagi film yang 'ditembakkan' ke layar. Praktis, kesibukan itu jadi layar tancap pinggir jalan.


Ia rutin ada setiap malam Minggu, dikepung kemacetan sekaligus padang beton perumahan warga Bintaro. "Ini ada setiap minggu supaya ramai kalau nongkrong. Kan enak, nongkrong sambil nonton," kata Neneng (bukan nama sebenarnya) yang memang biasa nongkrong di sana.
Menemukan Layar Tancap di Pengkolan Bintaro
Suasana kumpul bareng saat menonton layar tancap menjadi hal yang tak bisa tergantikan oleh bioskop gedung. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)


Budaya nongkrong itu sendiri, sudah mendarah daging di masyarakat Indonesia sejak dahulu. Karena itu pula layar tancap pada 1970-an sampai 1980-an laku keras.

"Karena budaya guyub, kebiasan mereka [orang Indonesia] menonton wayang ada di luar [ruang]. Wayang kan jarang ditayangkan di dalam ruang. Mereka sudah biasa dengan budaya berkumpul dan tidak terbatas," kata Satrio Pamungkas, dosen Sejarah Film Indonesia Fakultas Film dan Televisi (FFTV) Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Pemilik warung jamu yang enggan diwawancara, bahkan sengaja membayar pengusaha layar tancap kecil-kecilan bernama Hamid. Tak peduli ia harus merogoh kocek sebesar Rp150 ribu, demi memeriahkan tempat tongkrongan di mana ia berpotensi menjual lebih banyak jamu.

Niatnya sekaligus membantu Hamid, yang usianya sudah berkepala enam namun masih mencari uang dengan menjajakan layar tancap.

Setiap Sabtu, sejak pukul 17.30 WIB Hamid sudah tiba di pengkolan Bintaro dan siap menggelar layar tancap. Dibantu orang sekitar ia mulai memasang layar usai azan Magrib berkumandang.

"Layar tancap mulai sekitar 18.30 WIB, biasanya selesai sekitar jam 03.00 WIB. Ya kalau sudah masuk di atas jam 00.00 WIB suara dipelankan supaya enggak menganggu," kata Neneng.
Menemukan Layar Tancap di Pengkolan Bintaro
Pekerja merapikan roll film sebelum digunakan disebuah acara pernikahan, Bekasi.
(CNN Indonesia/Hesti Rika)

Dalam satu malam biasanya ada tiga sampai empat film yang diputar. Kebanyakan film-film lawas, seperti film silat yang dibintangi Barry Prima, drama yang dibintangi Rhoma Irama dan pastinya, yang selalu menjadi andalan, film Bollywood.

"Semua ada di sini [sembari mengangkat flash disk]. Tinggal colok ke DVD player," kata Hamid saat ditanya soal film-film yang ia bawa.

Layar tancap itu, meski pinggir jalan, ternyata tidak se-tradisional yang dibayangkan. Pemutar filmnya bukan lagi alat jadul dan filmnya tak pakai seluloid.

Semua peralatan layar tancap Hamid yang sediakan. Ia membawanya dengan motor, dari Kuricang, tempat tinggalnya, yang tak jauh dari perempatan Jalan Bintaro Utama 3.

"Ya sebenarnya kami pasang layar tancap setiap pekan juga karena kasihan sama Pak Hamid. Udah tua, setidaknya [biar] ada pemasukan setiap pekan," kata Neneng.

Berbeda dengan penjelasan Neneng, Hamid mengaku dirinya menarik tarif Rp250 ribu untuk satu malam layar tancap. Lebih mahal Rp 100 ribu dari biaya yang dibayar warung jamu.

Berkali-kali dipastikan, Hamid terus menegaskan, "Pokoknya Rp 250 ribu per malam."
Koleksi roll film yang dimiliki Ahyan, pemilik usaha layar tancapKoleksi roll film yang dimiliki Ahyan, pemilik usaha layar tancap. (CNN Indonesia/Hesti Rika)

Sayang, layar tancap pinggir jalan itu tak ada lagi belakangan. Seorang perempuan yang mengangkat telepon Hamid suatu malam berkata, layar tancap tidak beroperasi sepanjang April karena dekat dengan masa Pemilihan Presiden 2019.

"Saya juga kagak tau dah kenapa enggak boleh muter layar tancep, lagi Pilpres katanya," kata perempuan yang menjadi perwakilan Hamid tersebut.

Semoga layar tancap di perempatan Jalan Bintaro Utama 3 kembali ada setelah Pilpres usai pertengahan April mendatang. Setidaknya itu bisa menjadi hiburan gratis di pinggir jalan, bagi mereka yang 'pengap' dibekap suasana perkotaan. (adp/rsa)