LIPUTAN KHUSUS

FOTO: Menancap Layar di Tepi Ibu Kota

Hesti Rika, CNN Indonesia | Sabtu, 06/04/2019 15:12 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Layar tancap masih ada. Mereka terbentang bukan di ibu kota, melainkan di tepian, tempat masyarakat dapat menikmatinya secara bersahaja.

Ahyan pemilik Pendi Film, salah satu pengusaha layar tancap yang masih eksis sejak tahun '90-an. Pendi Film merupakan usaha turunan sang ayah yang memiliki ratusan roll film lawas. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Tak hanya memiliki film 35 mm yang lebih modern, Pendi Film juga mempunyai beberapa koleksi lawas film 16 mm. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Pekerja membersihkan roll film seluloid di gudang Pendi Film. Tak ada perawatan khusus terhadap film seluloid tersebut, hanya saja diletakan ditempat kering tidak lembab. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Sempat merasakan puncak kejayaan di era '80-an hingga '90-an, layar tancap mulai meredup saat masuknya bioskop gedung dan digitalisasi film. Kini layar tancap mulai terpinggirkan. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Layar tancap saat ini hanya dinikmati sebagian warga pinggiran Jakarta, biasanya diputar saat ada perayaan, seperti pernikahan atau syukuran. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Kain putih yang dijadikan layar dibentangkan di halaman pemilik hajat. Semalam suntuk film diputar hingga dini hari. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Harga sewa layar tancap bervariasi tergantung lokasi pemutaran dan judul film yang diminta. Film dengan aktor laga tempo dulu memiliki tarif sewa yang lebih mahal. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Film-film yang selalu jadi favorit penonton adalah film lawas tentang silat, komedi, horor dan film Bollywood. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Suasana kumpul bareng saat menonton layar tancap menjadi hal yang tak bisa tergantikan oleh bioskop gedung. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Selain menjadi sarana hiburan, layar tancap juga memberi pengalaman berbeda kepada generasi muda untuk menikmati sebuah film seluloid. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)