LIPUTAN KHUSUS

Membentang Layar Tancap dari Kuburan hingga Sawah

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Sabtu, 06/04/2019 13:52 WIB
Membentang Layar Tancap dari Kuburan hingga Sawah Ada banyak kenangan jadi tukang layar tancap bagi Rizal dan Ibet, mulai dari salah putar film, menyeberangi sawah, hingga memutar di tepian kuburan keramat. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Segelas kopi hitam yang menemani Rizal sudah habis separuh ketika gerimis mulai turun dari langit desa di pelosok Bojong Gede, Bogor, pada sebuah sore di awal Maret 2019. Gerimis menemani Rizal yang bersarung duduk lesehan di depan pintu rumahnya.

Asap mengepul lemah dari sebuah rokok yang terselip di antara jemari Rizal. Perbincangan dengan CNNIndonesia.com sore itu diselingi tawa kecil kala ia mengenang perjalanannya menjalani bisnis layar tancap yang sudah dilakoni kurang lebih empat tahun terakhir.

Selama empat tahun itu pula, pria 38 tahun itu merasakan banyak pengalaman, termasuk berbagai kisah kocak, yang tak ia dapatkan dari pekerjaan tetapnya sebagai sekuriti sebuah hotel di Jakarta. Jelas pengalaman berbisnis layar tancap lebih berkesan baginya, karena sudah jadi obsesi sejak muda.


"Waktu itu, ada anak kecil jatuh kesundul pantat emaknya terus nyemplung ke got," kata Rizal sembari tertawa. "Mending kalau ke jalan, ini ke got!"

Rizal ingat betul malam kejadian nahas bagi si anak tersebut. Kala itu, beberapa tahun yang lalu, Rizal mendapatkan tawaran layar tancap di sebuah pemukiman di Jatinegara, Jakarta Timur.

Rizal sudah bersiap dengan segala peralatannya dari Bojong Gede. Kala itu, dia sendiri yang turun tangan ke Jakarta. Semuanya pun berjalan dengan normal, seperti acara-acara layar tancap pada umumnya.

Namun memang saat itu, penonton membludak. Rizal rasanya mengingat acara tersebut merupakan agenda Rukun Warga, bukan hajatan seperti yang lain, sehingga penduduk sekitar ikut membantu Rizal mendirikan layar.

Seingat Rizal, penonton memadati jalanan di sekitar layar tancap hingga ke tepian got. Beruntung bagi penonton yang kebagian ruang sepetak untuk duduk. Bila tidak, maka berdiri adalah jalan menikmati tontonan layar tancap.

Rizal, tukang layar tancap di Bojong Gede, Bogor.Rizal, tukang layar tancap di Bojong Gede, Bogor. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)

Rizal memantau film komedi yang ia putar dengan santai. Penonton pun larut dalam jenaka. Suara tawa bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anak bercampur dalam malam yang cerah namun gerah itu.

Hingga kemudian teriak seorang ibu pecah di tengah tawa. "Ya ampun anak gue!!" teriak ibu itu yang masih terngiang dalam ingatan Rizal.

Ibu itu, diceritakan Rizal, langsung menjulurkan tangannya ke dalam selokan selebar jengkal sedalam sekitar semeter itu. Tak lama, tangannya berisi sesosok anak yang sudah berlumur lumpur hitam tanda selokan tak pernah dibersihkan.

Baunya menyeruak menyengat ke tengah-tengah penonton.

Anak itu ternyata jadi korban keasyikan ibunya menonton. Sang ibu tak sadar bahwa di belakangnya ada sang anak yang 'nyempil' karena tak kebagian tempat. Mereka pun sudah berdiri di tepi got demi menonton layar tancap.

Kala adegan lucu keluar terus-menerus, si ibu tak bisa menahan tawanya. Ia tertawa terbahak-bahak dan tanpa sengaja mendorong anaknya hingga tercebur ke got. Nasib anak malang itulah yang menyadarkan si ibu dari asyiknya tertawa.

"Saya mau tertawa tapi kasihan juga," kata Rizal sembari cengengesan dan mulai mengambil gelas kopi.

"Lalu ada syuting di makam angker juga," kata Rizal tiba-tiba usai menyeruput seteguk kopi hitam yang mulai dingin.

Rizal mengenang, malam itu dirinya mendapatkan tawaran layar tancap dari sebuah hajatan di kampung seberang. Tawaran yang sebenarnya bukan hal asing. Selama ini memang hajatan perkawinan biasa menjadi momen menayangkan layar tancap.

Membentang Layar Tancap dari Kuburan hingga SawahRizal dengan komputer 'hibrida' rakitannya sendiri. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)

Tapi tawaran itu bukan tawaran biasa. "Yang punya hajat tukang layar kawakan," kata Rizal meyakinkan, dan mulai menghisap rokoknya dan membuangnya ke luar ruangan. Asap rokok kretek filter pun menguar ke teras.

Berhubung Rizal saat itu tergolong 'junior' di kalangan tukang layar tancap di kampungnya dan 'senior' ingin mengenal lebih dekat dengan dirinya, maka ia tak punya alasan untuk menolak. Hitung-hitung jalin silaturahmi.

Rizal pun mengiyakan tanpa pikir panjang. Biasanya, dia kepo soal lokasi dan identitas acara yang datang kepadanya. Namun kali ini, karena senior yang meminta, maka ia 'jabanin'.

Malam hari-H pun datang. Lepas asar, Rizal pamit dengan istrinya. Membawa semua 'alat perang', ia menuju lokasi yang sudah ditentukan bersama anaknya dengan motor.

Setiba di lokasi, tenda hajatan dengan keramaiannya pun menyambut. Saat itulah Rizal baru sadar akan memasang layar tancap di lahan di tengah pekuburan, yang disebutnya memiliki makam kuno nan dipercaya angker oleh penduduk setempat.

"Pas ke sana, kuburannya banyak banget," kata Rizal yang menggambarkan lahan kuburan itu luas membentang.

Lepas magrib, layar rampung berdiri dan membentang, alat sound sudah terpasang. Komputer 'hibrida' berupa layar yang dipasang ke CPU rakitan Rizal sudah 'stand by'. Rizal pun menunggu memutar film lepas pukul 20.00 WIB.

It's showtime. Rizal pun mulai memutar film. Satu per satu film diputar, penonton pun menyimak dan larut dalam tayangan. Hingga kemudian, Rizal baru sadar ia memasukkan koleksi film horor lawas Suzzanna, Malam Satu Suro, saat tampilan aktris yang disebut Ratu Horor Indonesia itu muncul.

Membentang Layar Tancap dari Kuburan hingga SawahMasyarakat menonton layar tancap. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)

Malam itu, film setan Suzzanna itu menjadi terasa lebih horor. Apalagi, Rizal ternyata duduk tepat di samping makam kuno yang disebut banyak orang angker itu.

Rizal ingat betul, suasana menjadi serasa ganjil dan mencekam. Hanya sebagian penonton yang masih bertahan di depan layar, itu pun banyak yang mulai tiduran mengantuk kena sepoi angin. Sisanya, pulang ke rumah.

"Setan muncul sih enggak ada," kata Rizal, lega. "Namun hawa-hawanya ada," lanjutnya, pelan.

"Saya menyeduh kopi hitam dan sebelumnya saya tuang sedikit ke makam, sambil minta izinlah," lanjutnya.

Rizal beruntung agenda layar tancap itu selesai tak lama dari lewat tengah malam. Tak ingin berlama-lama, Rizal langsung membereskan alat dan pamit pulang. Apalagi, anaknya mulai merasa "tak nyaman".

Kenangan Rizal kembali ke masa kini, sebuah sore yang gerimis rintik-rintik di kampung pedalaman Bojong Gede, Bogor. Kopinya sisa sedikit, rokoknya sudah berganti, entah yang ke berapa kali sembari terus mengisahkan perjalanannya menjadi tukang layar tancap kepada CNNIndonesia.com.

Suara televisi di ruang tengah terdengar. Lampu mulai dinyalakan seiring matahari yang mulai terbenam di barat. Rizal lalu menyebut dirinya juga pernah memutar layar tancap hingga menyeberang lahan persawahan.

"Sebenarnya kalau dapat sampai ke sawah-sawah begitu, enggak mau mengambil. Cuma karena yang pesan minta tolong, jadinya tak enak," kata Rizal mengisahkan pengalamannya yang lain.

Membentang Layar Tancap dari Kuburan hingga SawahLayar tancap masih eksis di tepian ibu kota. (CNN Indonesia/Hesti Rika)


"Pernah saya ke sawah, gotong-gotong speaker, sampai nyemplung ini kaki!," lanjutnya menunjuk betis dengan tepi telapak tangannya. "Ya alhamdulillah walau enggak banyak yang nonton tapi seru," lanjutnya, tersenyum.

Bukan cuma Rizal yang mengalami banyak pengalaman tak biasa saat menjalani profesi tukang layar tancap. Ibet, seniornya di Persatuan Layar Tancap Indonesia juga banyak mengalami pengalaman menarik, bahkan ia pernah lupa mencopot layarnya yang 'segede gambreng' itu.

"Waktu itu saya pernah putar film di sebuah daerah, biasanya habis putar film semuanya diberesin," kata pria 37 tahun tersebut dalam kesempatan terpisah.

Namun entah apa yang dipikirkan oleh Ibet atau kadung kepingin pulang. Ia membereskan alat sesegera mungkin. Film, alat, kabel, semua sudah di tangan. Dirinya pun pamit pulang.

Saat tiba di rumah, dia mendapatkan telepon dari pemberi hajat. "Ternyata layar saya masih terpasang, dia tanya layarnya apa memang buat di sana atau bagaimana," katanya sambil terkekeh-kekeh.

"Saya juga pernah salah putar. Salah kaleng [film]. Saya putar film yang tidak sesuai dengan yang mereka mau," lanjutnya.

Baik Rizal maupun Ibet, sejumlah kenangan itu mungkin sedikit alasan yang tetap membuat mereka bertahan menjadi tukang layar tancap di tengah perkembangan film modern.

"Ya serunya ada, menghiburnya ada, kocaknya ada, sedihnya ada. Suksesnya kami itu tergantung penonton. Kalau penontonnya tertawa, menangis karena film, kami sukses," kata Rizal, mematikan rokoknya dan menutup perbincangan itu sembari terdengar azan magrib di kejauhan.

[Gambas:Video CNN] (end)