Perjuangan Penjaga Terakhir 'Bahasa Yesus' di Suriah

AFP, CNN Indonesia | Rabu, 29/05/2019 10:32 WIB
Perjuangan Penjaga Terakhir 'Bahasa Yesus' di Suriah George Zaarour salah satu dari segelintir orang yang masih menguasai bahasa Aramaic di Suriah. (LOUAI BESHARA / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- George Zaarour membungkuk dan serius menekuni manuskrip tebal di depannya. Bahasa itu tampak asing dan sulit baginya. Itu adalah bahasa Yesus di kitab Injil, Aramaic.

Bahasa itu dahulu dipakai untuk bicara sehari-hari di pegunungan di Maalula, Suriah. Namun kini, hanya sedikit yang masih mengenalnya. Zaarour bahkan menjadi satu dari segelintir orang di Suriah yang masih bisa membaca bahasa kuno itu.

"Aramaic dalam bahaya," katanya, seperti dikutip dari AFP.


Bahasa itu sudah ada sejak 2.000 tahun lalu. Saat agama Kristen berawal di Timur Tengah pada masa 10 SM, bahasa itu tersebar luas. Namun, kata Zaarour, jika orang tak lagi pernah mempraktikkannya seperti sekarang, ia akan punah dalam lima sampai 10 tahun.


Menurut catatannya, 80 persen masyarakat Maalula sekarang tak lagi berbicara bahasa itu. Sementara 20 persen lainnya yang masih memahami Aramaic, usianya di atas 60 tahun.

Sebelum 2011 sebenarnya bahasa itu masih dikenal luas. Peziarah yang datang ke Maalula karena daerah itu dikenal sebagai simbol kehadiran agama Kristen di Damaskus, bukan hanya memotret bangunan-bangunan kuno. Mereka juga tertarik mendengar orang bicara Aramaic.

Namun perang Suriah pada 2011 mengubah semuanya.

Maalula dikuasai pemberontak dan jihadis yang dikait-kaitkan dengan Al-Qaida. Masyarakat Kristen pun tersudut, sampai akhirnya pergi. Saat pada April 2014 Suriah kembali, dua per tiga masyarakat yang dahulu menghuni Maalula benar-benar tidak kembali.


Zaarour pun berupaya melestarikan Aramaic dengan mengoleksi buku dan ensiklopedia dalam bahasa Aramaic di toko kecilnya di Maalula, salah satu kota tertua di Suriah. Ia juga menghabiskan waktunya dengan mempelajari dan menerjemahkan Aramaic.

Zaarour juga penulis. Ia sudah punya 30 buku yang diterbitkan. Kebanyakan tentang Aramaic dan sejarahnya di Maalula. Dahulu, ia rutin mendampingi mahasiswa yang menyelesaikan disertasi di Damaskus. Pada 2006 ia bahkan pernah membantu mendirikan pusat mengajar Aramaic di jantung Maalula. Sayang, saat perang 2011 tempat itu ditutup.

"Saya pikir George Zaarour adalah satu-satunya guru di Suriah yang spesialisasinya adalah bahasa Aramaic," ujar Wali Kota Maalula, Elias Thaalab kepada AFP.

Maka melestarikan bahasa itu sangat penting baginya.

George Zaarour memperlihatkan buku berisi bahasa Aramaic.George Zaarour memperlihatkan buku berisi bahasa Aramaic. (LOUAI BESHARA / AFP)
"Selama lebih dari 2.000 tahun kita menjaga bahasa Kristen itu di hati kita. Kita adalah orang-orang terakhir di dunia yang mendapat kehormatan melestarikannya," ujarnya. (rsa)