iTunes Pernah Jadi Penyelamat Industri Musik

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 04/06/2019 10:29 WIB
iTunes Pernah Jadi Penyelamat Industri Musik iTunes pernah menyelamatkan industri musik. (Ilustrasi/dangquocbuu/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- iTunes yang per Senin (3/6) 'dimatikan' oleh Apple, pernah menyelamatkan industri musik.

Ia hadir ketika penjualan rekaman musik fisik melambat, menawarkan solusi pada pencinta musik yang tak mampu mengeluarkan uang terlalu banyak untuk mengoleksi lagu.

Mereka bisa membeli musik apa saja hanya dengan 99 sen atau sekitar Rp15 ribu.


Cara orang membeli musik pun berubah. Persis saat industri itu sedang meredup oleh pembajakan dan situs berbagi, iTunes muncul pada 2001. Toko musiknya menyusul dua tahun kemudian. Dibanding platform lain saat itu iTunes yang paling mudah, nyaman dan murah.


Platform seperti Napster pun keok oleh keagungan Apple dan iTunes.

"Kami pikir orang ingin membeli musik mereka di internet dengan membayar unduhan, seperti mereka membeli LP, kaset, seperti mereka membeli CD," ujar bos Apple Steve Jobs saat itu.

Tak hanya asal unduh, iTunes juga memungkinkan penggunanya mengatur musik mereka sendiri.

Dengan mudah iTunes menciptakan jalannya sendiri menuju puncak. Ia memperkenalkan model bisnis baru yang kemudian diekori yang lain. Tak hanya menyelamatkan industri musik, iTunes juga menjadi dasar bagi era baru industri film, televisi bahkan buku.

Mengutip tulisan Kevin Roose di NY Times, iTunes mengisi gap teknologi pada masa internet mulai marak tapi masih sedikit yang punya ponsel pintar yang didukung paket data melimpah sehingga bisa digunakan untuk streaming media berkualitas tinggi.


Itu bertahan lama. Usia iTunes mencapai 18 tahun.

Pada 2008, menurut data IHS Markit yang dikutip dari CNN, pelanggan servis iTunes tak mencapai 10 persen. Namun ia naik menjadi lebih dari 80 persen pada 2018.

Namun era kemudian berganti. Pada dekade kedua iTunes mulai disaingi layanan musik streaming macam Spotify dan Pandora. Pelanggan hanya perlu membayar per bulan-juga murah-untuk bisa menikmati musik apa pun yang ada di layanan itu. Seperti all-you-can-eat.

Banyak orang kemudian lebih memilih 'menyewa' musik secara bulanan, alih-alih membeli musik mereka sendiri seperti yang diprediksi Steve Jobs, meski sama-sama murah.

Layanan streaming tumbuh besar. Penjualan unduhan musik ganti yang melambat. Menurut catatan Recording Industry Association of America, penjualan unduhan musik kini justru kalah dibanding album fisik, seiring alasan nostalgia dan 'record store day' digemborkan.


Steve Jobs rupanya tak meramal sampai ke sana. Kini, ucapkan selamat tinggal pada iTunes. (rsa)