Rihanna Dinobatkan jadi Musisi Perempuan Terkaya di Dunia

CNN Indonesia | Rabu, 05/06/2019 01:59 WIB
Rihanna Dinobatkan jadi Musisi Perempuan Terkaya di Dunia Rihanna (REUTERS/Carlo Allegri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rihanna menempati posisi teratas sebagai musisi wanita terkaya di dunia versi Forbes. Rihanna memiliki kekayaan US$600 juta (Rp8,5 triliun). Kekayaannya ini bersumber dari kiprahnya sebagai penyanyi dan pengusaha.

Kekayaan wanita berusia 31 tahun ini berhasil mengungguli Madonna (US$570 juta), Celine Dion (US$450 juta), dan Beyonce (US$400 juta). Suami Beyonce, Jay-Z juga baru mengantongi predikat sebagai penyanyi rap pertama dunia yang menjadi miliuner.

Rihanna mulai masuk ke panggung hiburan pada 2003. Sukses bermusik, ia pun meluncurkan lini produk kosmetik sendiri, Fenty Beauty yang juga dimiliki raksasa barang mewah asal Perancis LVMH. Produk ini dijual secara online dan lewat toko ritel kosmetik Sephora.

Menurut Forbes, sebagian besar kekayaannya didapat dari perilisan musik dan tur.
Tahun ini, Rihanna akan mengeluarkan album reggae terbaru. Tapi, bisnis lingrie Savage X Fenty juga ikut menyumbang pemasukan.

Mei lalu, Rihanna juga meluncurkan merek fesyen mewah berbasis di Paris. Merek ini lagi-lagi merupakan hasil kerjasama dengan LVMH. Merek besutan Rihanna ini menyediakan pakaian siap pakai, sepatu, dan aksesoris.

Merek fesyen Fenty besutan Rihanna berhasil duduk di samping merek-merek ternama seperti Dior, Louis Vuitton, Fendi, dan Givenchy. Munculnya Rihanna di industri fesyen mewah berskala besar dan dipimpin oleh wanita kulit hitam menjadi perkembangan besar di dunia mode.

"Saya hanya ingin melihat segala sesuatunya dari perspektif saya. Saya seorang wanita kulit hitam muda yang suka dan mendukung energi dari anak muda," jelasnya seperti dikutip AFP saat meluncurkan labelnya di Paris beberapa waktu lalu.

Kesuksesan wanita ini bukan tanpa sandungan. Ia sempat terbelit kasus dengan ayahnya yang mengambil keuntungan atas namanya. Serta kasus kekerasan rumah tangga dengan Chris Brown pada 2009. 


(AFP/eks)