Ulasan Film: 'Si Doel the Movie 2'

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Rabu, 05/06/2019 18:33 WIB
Ulasan Film: 'Si Doel the Movie 2' Setelah setahun ditinggal ketidakpastian atas keputusan Doel akan Sarah, kini anak Betawi itu datang kembali melalui 'Si Doel the Movie 2'. (dok. Falcon Pictures/Karnos Film)
Jakarta, CNN Indonesia -- Setelah setahun ditinggal ketidakpastian atas keputusan Doel akan Sarah, kini anak Betawi itu datang kembali melalui Si Doel the Movie 2. Kali ini harus saya katakan bahwa film sekuel ini kembali ke jiwa asalnya, sinetron ala dekade '90-an.

Bukan tanpa alasan kesan seperti dua dekade silam muncul kembali. Pertama, Si Doel 2 ini lebih banyak berlatar di rumah keluarga Doel yang legendaris itu, sama seperti sinetronnya. Hal ini yang kemudian membuat segala drama dan nuansa yang terbangun -agak- persis seperti dulu kala.

Hal itu berbeda pada film sebelumnya yang sebagian besar berada di Belanda. Film Si Doel the Movie 1 memang membangkitkan kembali kenangan nostalgia akan serial Si Doel Anak Sekolahan, namun dengan latar cerita di Belanda, rasanya kurang 'Betawi'.



Alasan kedua adalah semua karakter dalam film Si Doel the Movie 2 hidup dengan porsinya masing-masing. Kali ini, Doel (Rano Karno) punya porsi dialog yang lebih banyak dibanding tahun lalu. Begitu pula dengan karakter lain, mulai dari Atun (Suti Karno), Mandra (Mandra), hingga Mak Nyak (Aminah Cendrakasih).

Bila mengenang film sebelumnya, Doel lebih banyak diam dan termangut menerima fakta-fakta soal Sarah dan anak mereka, Dul (Rey Bong) di tengah kehidupan Belanda. Kini, Doel mengungkapkan konflik dan isi pikirannya secara terbuka yang membuat penonton jadi lebih mudah memahami masalah.

Seiring Doel yang semakin 'hidup', Atun dan Mandra juga memiliki peran penting dalam mengatur konflik yang ada dalam diri Doel. Kedua karakter bersaudara itu bahkan bisa disebut membuat film ini lebih dinamis.

Ulasan Film: 'Si Doel the Movie 2' Si Doel 2 ini lebih banyak berlatar di rumah keluarga Doel yang legendaris itu, sama seperti sinetronnya. (dok. Falcon Pictures/Karnos Film)

Dalam Si Doel the Movie 2, Atun dan Mandra membangkitkan kembali aksi bertengkar yang pernah mereka mainkan saat versi sinetron dulu. Namun bedanya, Atun kali ini tampak lebih dewasa dan matang sedangkan Mandra semakin kekanak-kanakan. 

Bahkan, untuk kali pertama, saya geregetan melihat Mandra terlalu banyak 'bacot' setelah pada film pertama penampilannya begitu menghibur. Walaupun, Mandra tetap memegang peranan penting memberikan lelucon yang sedikit-banyak bisa membuat bibir, minimal, tersenyum.

Namun saya harus kecewa karena kurang merasakan kegalauan dan kepedihan Zaenab yang mestinya bisa dimainkan dengan sangat baik oleh Maudy Koesnaedi. Maudy memang murung dan terlihat galau, namun perasaan Zaenab kurang keluar dari layar lebar bioskop dan menjangkau penonton.


Selain itu, tampaknya Rano Karno kurang memerhatikan hal detail dalam film ini, terutama kebiasaan Zaenab dalam membawa rantang saat berkunjung.

Kejutan datang dari Cornelia Agatha. Setelah pada film pertama saya merasa ia masih amat kaku memerankan sosok Sarah, kali ini Cornelia lebih luwes dan santai. Bahkan, tugasnya untuk memancing penonton menitikkan air mata terbilang dilaksanakan cukup baik. Apalagi, ia melakukannya bersama dengan Aminah Cendrakasih.

Namun tak semua karakter memerankan peran penting dalam sekuel ini. Sejumlah kehadiran karakter sebenarnya tak perlu ada lantaran hanya terlibat dalam beberapa adegan dan tak berpengaruh dalam jalan cerita, kecuali Rano Karno punya ide lain selain menambah durasi film.

Ulasan Film: 'Si Doel the Movie 2'Seiring Doel yang semakin 'hidup', Atun dan Mandra juga memiliki peran penting dalam mengatur konflik yang ada dalam diri Doel. (dok. Falcon Pictures/Karnos Film)

Kesan kembali ke jiwa sinetron juga muncul dari inisiatif Rano membawa sejumlah kenangan dari serial tersebut. Jelas kualitas gambar menjadi kendala. Namun bagi mereka yang sudah pernah menonton serialnya, setidaknya satu dekade lalu, hal itu rasanya masih bisa dimaklumi.

Bila dari segi cerita Si Doel the Movie 2 mengalami peningkatan dibanding sebelumnya. Hal sebaliknya terjadi dengan penyuntingan gambar. Beberapa adegan muncul dengan hasil CGI yang masih kasar. Bahkan teknik filter dan suntingan yang digunakan dalam sejumlah adegan terbilang 'lebay'.

Secara umum, film Si Doel the Movie 2 tampaknya bukan lagi sebagai pemancing untuk mendapatkan pasar baru seperti yang dilakukan pada versi prekuelnya. Namun film ini sudah masuk dalam bahasan sajian bagi penggemar sejati serial Si Doel.

[Gambas:Video CNN]

Si Doel the Movie 2, bersama prekuelnya tahun lalu dan juga kelanjutannya tahun depan, sejatinya adalah penyelesaian cerita cinta segitiga yang menggantung di akhir serialnya pada 2006 lalu.

Sebagian penggemar memang menginginkan cerita akhir cinta ini dibuat dalam serial. Namun menurut hemat saya, keputusan Rano untuk memadatkan dalam saga film sudahlah tepat.

Mengingat konten yang dilihat cocok bagi penggemar sejati Si Doel dan bila ditilik dari segi komersial, saya harus katakan Si Doel the Movie 2 tak memiliki daya tarik sebesar film pertamanya yang berhasil menggaet 1,7 juta penonton.

Ulasan Film: 'Si Doel the Movie 2'Setelah pada film pertama saya merasa ia masih amat kaku memerankan sosok Sarah, kali ini Cornelia lebih luwes dan santai. (dok. Falcon Pictures/Karnos Film)

Sehingga faktor yang akan menentukan daya tahan film ini di layar bioskop nantinya adalah seberapa besar keinginan para penggemar Si Doel, yang secara demografi rata-rata kini berusia di atas 25 tahun, bersedia datang ke bioskop dan strategi Falcon Pictures selaku studio untuk menggaet mereka.

Hal itu jadi penting karena para penggemar cerita Si Doel bukan hanya mesti datang ke bioskop sekali. Namun mereka mesti datang ke bioskop lagi pada tahun depan untuk menyaksikan akhir kisah cinta segitiga Doel-Sarah-Zaenab yang sesungguhnya, bila mengutip janji Rano Karno. (end)