Cerita Pevita Pearce dari Perbatasan Indonesia

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 15/06/2019 11:48 WIB
Cerita Pevita Pearce dari Perbatasan Indonesia Pevita Pearce berperan di 'Rumah Merah Putih.' (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pevita Pearce siap memamerkan akting terbaru dalam Rumah Merah Putih. Film itu sekaligus menjadi penanda kembalinya kolaborasi antara Pevita dengan rumah produksi Alenia Pictures, yang sebelumnya sama-sama mengawali debut di Denias, Senandung di Atas Awan (2006).

Kali ini, aktris berusia 26 tahun itu didapuk untuk memerankan seorang perempuan bernama Maria Lopez yang tinggal di perbatasan di Timur Indonesia. Ia dikisahkan mengasuh keponakan bernama Oscar yang telah ditinggal oleh kedua orang tuanya.

"Maria sudah seperti kakaknya Oscar dan sehari-harinya dia jual asam. Dia orang yang sederhana dan bahagia dengan kesederhanaan itu," papar Pevita saat bertamu ke kantor CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.


Menurut Pevita, perannya adalah refleksi perempuan perbatasan di wilayah Atambua, Belu, Nusa Tenggara Timur.


"Meski mereka hidup hanya bertetangga tapi perlakuannya sudah seperti keluarga. Seperti hubungannya dengan Rosalia [diperankan Shafira Umm]. Mereka saling sayang dan dekat, apalagi di usia Maria yang muda ini ia jadi banyak belajar dari Rosalia yang sudah punya dua orang anak," ujarnya lagi.

Demi peran ini, Pevita mengungkapkan bahwa ia harus melakukan sejumlah perubahan fisik dan belajar menggunakan bahasa setempat. Dari fisik, misalnya, Pevita harus mewarnai rambut agar mirip masyarakat setempat.

"Mereka kan tinggal dekat laut dan air tuh bisa mengubah warna rambut jadi ada highlight-nya. Akhirnya diubah menjadi kemerahan dan menggelapkan kulit juga," katanya.

Sementara untuk mempelajari bahasa, Pevita harus berlatih selama kurang lebih satu bulan di Jakarta dan dua minggu di Atambua sebelum mulai syuting.


"Yang paling sulit itu, bahasa Belu, ada tarikan-tarikannya ketika diucapkan. Dan menurut aku, yang bikin bagus kalau kita dengar dan ngomong terus, itu seperti pakai soul. Bukan kayak baca," tuturnya.

Pevita menambahkan, "Dan mereka itu ekspresif kalau berbicara. Kalau cerita menggebu-gebu, senang sedih itu menggebu-gebu. Kesannya kayak marah terus."

Syuting selama beberapa pekan di NTT, Pevita mengaku terkesan dengan makanan, pemandangan, dan terutama keramahan masyarakat Atambua.

"Orang-orang sana itu pure dan tulus. Timbal balik yang mereka mau itu hanya persahabatan, rasa sayang dan itulah yang membuat terkesan," katanya.


Shafira Umm langsung menimpali dengan mengatakan bahwa masyarakat Atambua terbuka dan tidak pernah membeda-bedakan.

"Mereka enggak pernah melabelkan sesuatu. Ini dari Jakarta atau apa, semua sama rata. Percaya diri mereka sama seperti yang di kota besar. Mereka orang yang punya mental kuat sebagai orang yang berada paling depan Indonesia," kata Shafira.

Rumah Merah Putih, film yang membuat Pevita dan Shafira sampai bisa berjalan-jalan ke tepi Indonesia, bercerita tentang kehidupan sepekan jelang perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) di wilayah perbatasan Indonesia dengan Timor Leste.

Kisahnya difokuskan pada Farel dan Oscar, yang diperankan oleh anak NTT asli bernama Patrick Rumlaklak dan Amori De Purivicacao. Meski hidup sederhana di perbatasan, mereka tetap mencintai Tanah Air dengan sangat dalam.

[Gambas:Youtube]

Bersama kedua kawannya, Anton dan David, mereka mengikuti lomba panjat pinang, dalam rangka memeriahkan 17 Agustus. Namun, di tengah perlombaan itu mereka bertengkar tentang hadiah mana yang harus diambil duluan. Mereka pun gagal dan saling menyalahkan.

Masalah makin rumit ketika dua kaleng cat merah putih milik Farel hilang entah ke mana.

Takut dimarahi ayahnya, Farel dan Oscar berupaya mengumpulkan uang untuk membeli cat pengganti. Dari Om Oracio mereka kemudian mengetahui bahwa akan ada lomba panjat pinang yang berhadiah cat merah putih. Namun, saat panjat pinang Oscar terjatuh.

Rumah Merah Putih ini dijadwalkan tayang pada 20 Juni 2019. (agn/rsa)