Pistol 'Berdarah' yang Bunuh Van Gogh akan Dilelang

AFP, CNN Indonesia | Selasa, 18/06/2019 11:28 WIB
Pistol 'Berdarah' yang Bunuh Van Gogh akan Dilelang Pistol yang 'membunuh' Vincent van Gogh akan dilelang. (REUTERS/Alkis Konstantinidis)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rumah lelang Paris akan mengantar senjata api milik pelukis Vincent van Gogh ke 'ketukan palu.' Senjata itu disebht-sebut digunakan Van Gogh untuk bunuh diri pada 1890.

Dilabeli sebagai 'senjata paling terkenal dalam sejarah seni,' ia berupa pistol 7mm Lefaucheux. Diperkirakan, pistol itu akan laku sebesar US$67 ribu (Rp960 juta).

Van Gogh diduga bunuh diri dengan pistol itu di sebuah desa bernama Auvers-sur-Oise di Paris, Prancis. Ia memang menghabiskan beberapa bulan terakhirnya di desa itu.


Pistol itu dipinjamnya dari pemilik penginapan tempatnya tinggal. Sekitar 36 jam setelah sempoyongan di kegelapan kamarnya, van Gogh ditemukan meninggal dunia.


Namun baru pada 1965 pistol yang digunakannya untuk bunuh diri ditemukan oleh seorang petani. Lokasinya juga di tempat Van Gogh menghabiskan malam-malam terakhirnya.

Pistol itu kemudian dipamerkan di Van Gogh Museum di Amsterdam.

Lembaga yang akan melelang pistol itu, Art Auction, mengatakan sebenarnya tidak ada cara untuk menelusuri dan meyakinkan bahwa senjata yang akan dijual itu adalah yang digunakan Van Gogh untuk bunuh diri. Serangkaian tes menunjukkan senjata itu sudah terkubur di dalam tanah selama sekitar 75 tahun. Artinya, sekarang orang hanya bermodal percaya.

Kematian Van Gogh sendiri masih menjadi pertanyaan.


Kebanyakan sejarawan percaya ia bunuh diri. Sementara beberapa periset punya asumsi lain bahwa tembakan yang mematikan itu sejatinya tak sengaja dilontarkan oleh dua anak muda lokal yang sedang bermain-main dengan senjata di lapangan dekat Van Gogh tinggal.

Teori itu yang dipakai untuk membuat biopik Van Gogh, yang dimainkan Willem Dafoe.

Sutradara biopik berjudul At Eternity's Gate percaya Van Gogh tidak berniat bunuh diri. Ia menghasilkan 75 lukisan selama 80 hari di Auvers-sur-Oise, tidak seperti orang depresi.

Anggapan sutradara yang juga pelukis asal Amerika, Julian Schnabel itu didukung penulis naskahnya, Jean-Claude Carriere. Ia menganggap tidak ada bukti bahwa Van Gogh bunuh diri.


"Apakah saya percaya Van Gogh bunuh diri? Tentu tidak!" ujarnya menegaskan.

Yang mana pun teori yang benar, itu masih melibatkan senjata yang akan dilelang.

Itu juga bukan kali pertama Van Gogh melukai diri sendiri. Pada 1888 ia mengiris telinganya sebelum menawarkannya pada seorang wanita di rumah bordil di Arles, Prancis. (rsa)