20 Detik Keajaiban di Balik Layar 'I La Galigo'

CNN Indonesia | Jumat, 14/06/2019 11:33 WIB
20 Detik Keajaiban di Balik Layar 'I La Galigo' Tim produksi I La Galigo. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- I La Galigo, pentas musikal yang diadaptasi sutradara Robert Wilson dari mitos penciptaan suku Bugis dan sudah dipertunjukkan di berbagai negara, segera 'pulang kampung' ke Indonesia. Di tanah kelahirannya sendiri, I La Galigo tetap dipentaskan secara 'wah.'

Tari, gerak tubuh, soundscape dan tata musik yang digubah Rahayu Supanggah menggunakan 70 instrumen, mulai dari instrumen tradisional Sulawesi, Jawa, dan Bali. Alat-alat musik itu dimainkan 12 musisi, untuk mengiringi pementasan yang berdurasi sekitar dua jam 15 menit.

Tata cahaya serta panggung di Ciputra Artpreneur Juli mendatang pun dijanjikan memukau.



Standarnya sama seperti saat mereka pertama tampil di Esplanade, Singapura 2004 lalu. Aksinya pun akan sama seperti saat I La Galigo melanglang buana ke sembilan negara selama 18 tahun, mengunjungi New York, Amsterdam, Barcelona, Prancis, Italia, Taipei, Melbourne, dan Milan, di mana pentas itu selalu mendapat sambutan hangat dan pujian.

Di Indonesia sendiri, sebelum ke Jakarta I La Galigo sudah ke kampung asalnya di Makassar dan menghibur peserta Annual Meetings IMF-World Bank Group 2018 di Bali.

Di balik pentas-pentas itu, termasuk yang nanti digelar pada 3,5,6, dan 7 Juli, para penggawanya seperti Coach Movement B. Kristiono Soewardjo bekerja keras.

Sejak bergabung di I La Galigo pada 2000, ia harus latihan minimal delapan jam per hari.


"Disuruh apa saja, kayak dikerjain. Pegang properti tidak ada yang ringan, jadi harus jaga stamina. Bayangkan, selama dua jam memegang properti berbentuk jerapah dari kayu jati. Mungkin kalau tidak latihan dengan benar bisa pingsan," ia bercerita dalam konferensi pers menjelang pementasan I La Galigo di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (13/6).

Saat tampil, kostum jadi tantangan. Kata pria yang disapa Kris itu, pemain bisa berganti kostum sedikitnya 12 kali. "Ganti bajunya harus cepat, rata-rata beres dalam 15 detik."

Beratnya persiapan di balik layar I La Galigo juga dirasakan tim penata kostum. Airlangga Komara, Koordinator Desain dan Kostum I La Galigo mengatakan bahwa ia menghabiskan banyak waktu untuk riset ketika harus merancang kostum terbaik I La Galigo.

"Kami pilih benang sendiri lalu memintalnya buat bahan-bahan kostum, kami juga mengikutsertakan diri dalam gerakan-gerakan semua, karena Robert maunya yang nature dan organik, jadi perlu pertimbangkan agar tidak gampang robek," tuturnya bercerita.


Timnya juga harus mempertimbangkan warna yang tepat untuk kostum ketika kena sorot lampu.

"Ada bahan-bahan yang warnanya berbeda ketika kena cahaya lampu. Untuk kerja ini semua, kami juga dibantu oleh ahli dari Jerman namanya Joaquin. Dia mengajarkan bagaimana membuat kostum teater karena satu orang ada yang bisa ganti 15 kali," tambahnya.

Sementara dari tata rias, sejak tahun 2000, legenda Indonesia, Martha Tilaar langsung turun tangan. Kata Wulan Tilaar, anak Martha, ibundanya riset khusus untuk itu.

"Tantangannya bagaimana mengeluarkan karakteristik dari perannya, raut wajah. Robert itu sangat detail, saat make up test dia detail banget. Shading, kontur, sampai sesuai. Dan kami punya '20 second magic', bagaimana ganti riasan dan tata rambut dalam 20 detik."

"Ini pengalaman yang luar biasa," ujarnya.


Meski berat, rata-rata tim produksi tetap semangat karena merasa I La Galigo adalah sebuah panggilan untuk memperkenalkan budaya Indonesia. "Ini kekayaan Indonesia, dari hikayat Bugis yang sangat kuno. Jadi kenapa tidak?" ujar Kris, bertanya retoris.

I La Galigo diadaptasi dari naskah kuno Bugis, Sureq Galigo yang menceritakan petualangan perjalanan, perang, kisah cinta terlarang, pernikahan yang rumit, dan pengkhianatan.

Kisah itu berpusat pada kehidupan Sawerigading yang jatuh cinta pada saudara kembarnya We Tenriabeng. Namun karena ia terjebak dalam cinta terlarang yang dapat membawa petaka, Sawerigading akhirnya menikahi seorang putri cantik dari Cina bernama We Cudaiq.

Dari hubungan itu, ia dikaruniai seorang anak bernama I La Galigo. (agn/rsa)