Petuah Mamiek Prakoso untuk Sang Adik 'Berlian', Didi Kempot

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 27/07/2019 12:16 WIB
Petuah Mamiek Prakoso untuk Sang Adik 'Berlian', Didi Kempot Didi Kempot hingga kini masih menyimpan pesan terakhir kakak tercintanya, Mamiek Prakoso yang meninggal pada 2014 silam. (dok. Didi Kempot Official)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rokok yang terselip di antara jari Didi Kempot membakar dirinya sendiri secara perlahan. Asap kecil keluar dari rokok itu seiring Didi yang melambat mengisahkan kenangannya bersama sang kakak, mendiang Mamiek Prakoso.

Tempo bicara Didi yang semula cepat mendadak melambat ketika pertanyaan seberapa dekat dirinya dengan Mamiek terlontar dalam perbincangan bersama CNNIndonesia.com di Solo, pada sebuah siang Juli 2019.

"Saya dan mas Mamiek itu dikhitan bareng," jawab Didi mantap begitu pertanyaan usai terlontar. "Selalu. Di rumah juga, ya bapak saya tidak kaya, tidur pun ya sama dia [Mamiek]. Berdua," lanjutnya dengan nada yang lebih berat.


"Ya entah ya, dari kecil itu...kenapa Tuhan kasih itu..ya istilahnya ya, kalau dikasih kebisaan, Mamiek jadi pelawak, saya jadi penyanyi. Apa karena saya sudah bareng-bareng tidur, disunatin, atau karena bapak, akhirnya dapat duit dari seni juga," kata Didi, mengenang kebersamaannya dengan Mamiek.

Mendiang pelawak sekaligus anggota Srimulat, Mamiek Prakoso memang salah satu sosok di balik kesuksesan Didi Kempot.

Mamiek merupakan kakak sekaligus teman Didi ketika keduanya dididik seni oleh ayah mereka, Ranto Edi Gudel atau Mbah Ranto yang berprofesi sebagai pemain ketoprak.

Sejak kecil, Mamiek dan Didi yang berjarak usia lima tahun, selalu diajak Mbah Ranto ke lokasi bekerja. Keduanya duduk menyaksikan ayah mereka pentas, melawak, bermain musik, hingga membuat lagu.

Didi mengingat ia dan Mamiek biasa duduk di tempat alat musik gamelan. Sembari bermain dengan Mamiek, Didi memperhatikan ayahnya berlatih. Sesekali, Mbah Ranto memberikan nasihat kepada Didi dan Mamiek mengenai dunia seni.

[Gambas:Instagram]

Pesan dari ayah yang disebut Didi sebagai "guru besar" dalam hidupnya itu pun membentuk mereka berdua untuk menjadi seniman. Bedanya, Mamiek ke seni pentas, Didi ke seni musik. Namun keduanya tetap saling mendukung.

Bahkan, bisa dibilang Mamiek adalah pengkritik sekaligus penggemar berat Didi. Hingga mereka dewasa.

Salah satu dukungan Mamiek kepada Didi ketika musisi ini sudah dewasa adalah ketika pemain Srimulat itu menemani Didi bertemu dengan orang Suriname yang berujung Didi berhasil konser di luar negeri untuk pertama kalinya.

Mamiek juga sering menilai lagu Didi, seperti ketika Didi memperdengarkan lagu 'Pantai Klayar' kepada Mamiek. Respons Mamiek kala itu menganggap lagu itu bagus dan bisa sukses.

"Mamiek sering memuji saya, 'wah lagumu bagus'. Kasih dukungan terus. Sampai saya tua pun masih terus memberikan dukungan. Jadi ia ingin adiknya baik. Itu yang saya ingat," kata Didi.
Petuah Mamiek Prakoso untuk Sang Adik 'Berlian', Didi KempotMamiek Prakoso selalu mendukung Didi Kempot dalam berkarya. (dok. Didi Kempot Official)
Bagi Didi, Mamiek memang sosok yang amat peduli dengan orang lain, apalagi itu adiknya sendiri.

"Waktu kecil, kalau makan, mas Mamiek sering mengalah dan menambahkan lauk ke saya. Zaman dulu susah. Telur digoreng, terus dibelah," kata Didi mengenang masa-masa mereka masih anak-anak.

Pesan Mamiek Terakhir

Jeda antar kata dalam kalimat Didi semakin lebar. Ia terkenang akan momen terakhirnya dengan sang komedian pada 3 Agustus 2014. Rasanya masih kemarin Didi menerima sanjungan dan nasihat dari kakak tersayangnya itu.

Kala itu, Didi sedang ada di Solo. Pagi itu, dia masih berkomunikasi dengan Mamiek yang sudah dirawat di rumah sakit karena penyakit liver yang ia derita.

Meski terbaring di ranjang rumah sakit, Mamiek masih berkomunikasi dengan lingkungannya. Bahkan, memberikan kabar melalui BlackBerry Messenger kepada kawan-kawan Srimulat yang lain.

[Gambas:Youtube]

Bukan hanya itu, Mamiek juga berencana menggelar road show ke beberapa kota. Namun ketika dirinya pulang ke Solo, ia justru jatuh sakit.

Didi ada di samping Mamiek pada 3 Agustus pagi pukul 8.00. Sengaja ia ingin menemani sang kakaknya kala itu. Di tengah perbincangan, Mamiek berujar kepada Didi.

"Di, ini kamu kalau saya ibaratkan berlian, baru separuh yang kamu dapatkan," kata Mamiek. "Jadi kamu itu masih punya [peluang], masih mesti berkarya,"

Didi hanya mengiyakan kata kakaknya itu. Apalagi, sesekali Mamiek masih melempar guyong ke tengah-tengah perbincangan dirinya dengan keluarga dan sahabat yang menjenguk.

"Hei Di, nanti anakku diajak renang yo," kata Mamiek kepada Didi.

"Weh, kan nanti kamu sembuh juga bisa ajak anakmu renang?" balas Didi.

"Ya pokoknya nanti kamu ajak renang anakku," timpal Mamiek.

[Gambas:Youtube]

Ternyata, itu adalah percakapan terakhir Mamiek dengan Didi di siang itu. Pada 3 Agustus 2014 pukul 14.00 WIB, Mamiek dinyatakan meninggal dunia. Ia meninggalkan tiga istri dan lima anak.

Pandangan Didi kembali ke tengah-tengah perbincangan dengan kami pada sebuah siang Juli 2019. Tak lama usai mengisahkan perbincangan terakhirnya dengan Mamiek, Didi mengungkapkan hasil pemahamannya.

"Bahasa yang saya tangkap, anak kecil itu kalau menghadapi air, ada yang bahaya. Ada yang tenang, ada yang laut [beriak]. Saya diminta untuk ikut mengawasi anak-anaknya," kata Didi.

"Itu filosofi yang disampaikan oleh Mamiek yang saya ingat sampai sekarang.... Dia mau meninggal saja masih berpesan." lanjutnya, mematikan rokok yang sedari tadi terbakar sendiri. (adp/end)