Kala itu, Christine Hakim adalah anak didik sutradara maestro Teguh Karya. Dan melalui Teguh Karya pula, Christine Hakim berkenalan dengan Bumi Manusia.
Kisah mahakarya Pramoedya Ananta Toer adalah 'buku wajib' bagi Christine Hakim saat bergabung dalam Teater Populer yang diasuh oleh Teguh Karya dan Slamet Rahardjo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, Christine menyebut Teguh Karya sebenarnya sudah mempersiapkan sebuah cerita bertajuk Kipas Akar Wangi yang diadaptasi dari Bumi Manusia, juga sekuelnya, Anak Semua Bangsa.
"Film itu akhirnya tidak jadi dibuat, karena pelarangan itu. Zaman Orde Baru kan kalau nyerempet politik agak sensitif," kata Christine.
Namun pelarangan tak menghentikan imajinasi dan obsesi sutradara bernama asli Steve Liem Tjoan Hok itu. Karya Pram adalah mimpi yang menjadi obsesi Teguh karena mendorongnya membuat gambaran berlatar masa kolonial.
Salah satu wujud mimpi Teguh Karya dari karya Pramoedya Ananta Toer adalah November 1928 (1979). Film ini mengisahkan sekelompok penduduk Jawa yang memberontak pemerintahan Hindia-Belanda.
Teguh Karya (tengah). (Uncredited via Wikimedia Commons) |
Film ini sekaligus memberikan Piala Citra ketiga bagi Teguh Karya sebagai sutradara terbaik FFI.
Obsesi Teguh Karya akan buah tangan Pramoedya Ananta Toer ini lah yang menjadi pendorong dirinya menularkan kepada orang lain, termasuk Christine Hakim.
Christine Hakim sendiri mengakui bahwa kewajiban dirinya untuk membaca Bumi Manusia di masa lalu sama sekali bukan sebuah beban. Bahkan ia mengakui menerima banyak manfaat dari buku karya Pram di pengasingan di Pulau Buru itu.
Setidaknya, Buku Manusia membuat Christine Hakim yang menggemari ilmu pasti ini tertarik dengan sejarah, terutama sejarah Indonesia.
"Kita perlu mengenal diri kita sendiri, siapa diri kita. Dalam scoop kecil tentunya keluarga. Tapi luasnya keluarga punya latar belakang, negara kita beragam," kata Christine Hakim.
"Kebetulan saya lahir dengan Banyak campuran, ada Aceh, Banten, Padang, Jawa. Jadi, mau tak mau dengan membaca buku-buku berlatar cerita kolonialisme, itu amat sangat bantu," lanjutnya.
Kini, begitu buku itu diadaptasi ke dalam film yang diarahkan sutradara Hanung Bramantyo, Christine pun merasa ini menjadi langkah untuk membumikan kisah Bumi Manusia.
Buku Manusia membuat Christine Hakim yang menggemari ilmu pasti ini tertarik dengan sejarah, terutama sejarah Indonesia. (Dok. Falcon Pictures) |
Melihat kondisi di sekitarnya itu, Minke tergerak untuk memperjuangkan nasib pribumi melalui tulisan.
Minke sendiri terinspirasi dari sosok Tirto Adhi Soerjo, pendiri surat kabar berbahasa Melayu pertama di Indonesia yang belakangan dikenal juga sebagai Bapak Pers Nasional.
Pada masa itu, nyai dianggap sebagai perempuan yang tidak memiliki norma kesusilaan karena statusnya sebagai istri simpanan.
Status seorang nyai telah membuatnya sangat menderita, karena ia tidak memiliki hak asasi manusia sepantasnya. Nyai Ontosoroh sadar betul akan kondisi itu dan berusaha keras belajar, agar dapat diakui sebagai seorang manusia.
"Saya melihat sebagai sebuah karya sastra memang luar biasa, kuat dan berat. Dengan diangkat ke layar lebar, media film itu, bisa di-adjust supaya masyarakat lebih tertarik, karena memang kalau mau lihat setting produksi, tujuannya memang untuk generasi milenial," ujar Christine.
"Mungkin dengan pendekatan dengan mas Hanung dan Falcon, ini sangat strategis. Jadi lebih menarik, dan lebih mudah untuk dirasakan. Mudah-mudahan ini menjadi awal dari bagaimana ketertarikan mereka untuk kembali membaca karya sastra Indonesia," lanjutnya.
[Gambas:Video CNN] (agn/end)
Teguh Karya (tengah). (Uncredited via Wikimedia Commons)
Buku Manusia membuat Christine Hakim yang menggemari ilmu pasti ini tertarik dengan sejarah, terutama sejarah Indonesia. (Dok. Falcon Pictures)