Teguh Karya, Christine Hakim, dan 'Bumi Manusia'

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 16/08/2019 18:12 WIB
Teguh Karya, Christine Hakim, dan 'Bumi Manusia' Christine Hakim adalah 'korban' obsesi Teguh Karya atas karya-karya Pramoedya Ananta Toer, termasuk 'Bumi Manusia'. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Surabaya, CNN Indonesia -- Bagi Christine Hakim, kisah Bumi Manusia memiliki kenangan tersendiri. Ia mengenal Bumi Manusia pertama kali di awal kariernya, empat dekade silam.

Kala itu, Christine Hakim adalah anak didik sutradara maestro Teguh Karya. Dan melalui Teguh Karya pula, Christine Hakim berkenalan dengan Bumi Manusia.

Kisah mahakarya Pramoedya Ananta Toer adalah 'buku wajib' bagi Christine Hakim saat bergabung dalam Teater Populer yang diasuh oleh Teguh Karya dan Slamet Rahardjo.


"Dan kami memang secara tidak langsung, mau tidak mau harus membaca itu. Kalau tidak, seperti out of the box [terasingkan]," kata Christine Hakim, saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu di Surabaya.

Christine ingat betul sosok Teguh Karya yang memenangkan enam piala Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia itu amat terbius dengan Bumi Manusia.

Sang pendiri Teater Populer itu kerap menjadikan karya Pram sebagai referensi serta inspirasi menciptakan karya.

Bahkan, Christine menyebut Teguh Karya sebenarnya sudah mempersiapkan sebuah cerita bertajuk Kipas Akar Wangi yang diadaptasi dari Bumi Manusia, juga sekuelnya, Anak Semua Bangsa.

"Film itu akhirnya tidak jadi dibuat, karena pelarangan itu. Zaman Orde Baru kan kalau nyerempet politik agak sensitif," kata Christine.

Namun pelarangan tak menghentikan imajinasi dan obsesi sutradara bernama asli Steve Liem Tjoan Hok itu. Karya Pram adalah mimpi yang menjadi obsesi Teguh karena mendorongnya membuat gambaran berlatar masa kolonial.

Salah satu wujud mimpi Teguh Karya dari karya Pramoedya Ananta Toer adalah November 1928 (1979). Film ini mengisahkan sekelompok penduduk Jawa yang memberontak pemerintahan Hindia-Belanda.
Teguh Karya (tengah).Teguh Karya (tengah). (Uncredited via Wikimedia Commons)
November 1928 memenangkan lima piala Citra Festival Film Indonesia 1979 untuk sutradara, sinematografi, pemeran pendukung pria, tata artistik, dan cerita asli.

Film ini sekaligus memberikan Piala Citra ketiga bagi Teguh Karya sebagai sutradara terbaik FFI.

Obsesi Teguh Karya akan buah tangan Pramoedya Ananta Toer ini lah yang menjadi pendorong dirinya menularkan kepada orang lain, termasuk Christine Hakim.

Christine Hakim sendiri mengakui bahwa kewajiban dirinya untuk membaca Bumi Manusia di masa lalu sama sekali bukan sebuah beban. Bahkan ia mengakui menerima banyak manfaat dari buku karya Pram di pengasingan di Pulau Buru itu.

Setidaknya, Buku Manusia membuat Christine Hakim yang menggemari ilmu pasti ini tertarik dengan sejarah, terutama sejarah Indonesia.

"Kita perlu mengenal diri kita sendiri, siapa diri kita. Dalam scoop kecil tentunya keluarga. Tapi luasnya keluarga punya latar belakang, negara kita beragam," kata Christine Hakim.

"Kebetulan saya lahir dengan Banyak campuran, ada Aceh, Banten, Padang, Jawa. Jadi, mau tak mau dengan membaca buku-buku berlatar cerita kolonialisme, itu amat sangat bantu," lanjutnya.

Kini, begitu buku itu diadaptasi ke dalam film yang diarahkan sutradara Hanung Bramantyo, Christine pun merasa ini menjadi langkah untuk membumikan kisah Bumi Manusia.
Obsesi Teguh Karya untuk Christine Hakim Lewat 'Bumi Manusia'Buku Manusia membuat Christine Hakim yang menggemari ilmu pasti ini tertarik dengan sejarah, terutama sejarah Indonesia. (Dok. Falcon Pictures)
Bumi Manusia bercerita tentang Minke, seorang pribumi yang bersekolah di HBS. Ia merasa gelisah melihat nasib pribumi lainnya yang tertindas.

Melihat kondisi di sekitarnya itu, Minke tergerak untuk memperjuangkan nasib pribumi melalui tulisan.

Minke sendiri terinspirasi dari sosok Tirto Adhi Soerjo, pendiri surat kabar berbahasa Melayu pertama di Indonesia yang belakangan dikenal juga sebagai Bapak Pers Nasional.

Selain tokoh Minke, kisah yang berlatar di Surabaya pada masa pendudukan Hindia Belanda 1898 ini juga menggambarkan seorang 'nyai' bernama Nyai Ontosoroh.

Pada masa itu, nyai dianggap sebagai perempuan yang tidak memiliki norma kesusilaan karena statusnya sebagai istri simpanan.

Status seorang nyai telah membuatnya sangat menderita, karena ia tidak memiliki hak asasi manusia sepantasnya. Nyai Ontosoroh sadar betul akan kondisi itu dan berusaha keras belajar, agar dapat diakui sebagai seorang manusia.

"Saya melihat sebagai sebuah karya sastra memang luar biasa, kuat dan berat. Dengan diangkat ke layar lebar, media film itu, bisa di-adjust supaya masyarakat lebih tertarik, karena memang kalau mau lihat setting produksi, tujuannya memang untuk generasi milenial," ujar Christine.

"Mungkin dengan pendekatan dengan mas Hanung dan Falcon, ini sangat strategis. Jadi lebih menarik, dan lebih mudah untuk dirasakan. Mudah-mudahan ini menjadi awal dari bagaimana ketertarikan mereka untuk kembali membaca karya sastra Indonesia," lanjutnya.

[Gambas:Video CNN] (agn/end)