Akhir Kisah Buku 'Game of Thrones' Dijamin Beda dari Serial

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 20/08/2019 13:08 WIB
Akhir Kisah Buku 'Game of Thrones' Dijamin Beda dari Serial Serial 'Game of Thrones' memang sudah usai, namun lain hal dengan novel yang ditulis oleh George R.R Martin. (dok. HBO)
Jakarta, CNN Indonesia -- George R.R. Martin mengungkapkan bahwa dia akan tetap setia pada akhir kisah Game of Thrones yang telah disusunnya. Dia menegaskan bahwa nasib cerita di serial yang tamat pada Mei lalu tidak akan mempengaruhi apa yang telah ia tulis ke dalam dua novel terakhirnya.

"Tidak, itu tak akan berpengaruh. Itu tidak akan mengubah sama sekali dari semuanya. Kau tidak bisa memuaskan semua orang, maka kau harus memuaskan dirimu sendiri," katanya kepada The Observer menanggapi akhir cerita serial Game of Thrones yang menimbulkan kontroversi.

Meski demikian, Martin masih menahan diri untuk mengungkapkan tentang bagaimana kisah Game of Thrones itu akan ia akhiri di dalam buku. Dia hanya dapat membocorkan bahwa dari beberapa teori yang disampaikan penggemar, ada yang benar.


"Beberapa teori itu benar dan beberapa teori salah. Mereka akan menemukan kebenarannya ketika saya merampungkannya," lanjutnya, dikutip Variety.

Di samping berbicara tentang kelanjutan buku yang tak kunjung usai sejak molor pada 2015, Martin juga membuka kehidupannya setelah serial HBO itu berakhir. Dia mengaku kini dirinya semakin sulit menulis, juga tak merasa bebas.

"Saya tidak berpikir [serial TV] itu akan sangat baik bagi saya. Hal yang seharusnya mempercepat saya menulis tapi justru memperlambat," ungkapnya.

"Setiap hari saya duduk untuk menulis dan bahkan jika saya memiliki hari yang baik, saya merasa tidak enak karena berpikir, 'Ya Tuhan, saya harus menyelesaikan buku ini'. Saya hanya menulis empat halaman ketika saya seharusnya menulis 40," tambahnya.

Selain itu, ketenaran yang ia raih berkat buku serta kesuksesan serial pun membuatnya sulit merasakan kebebasan. Martin mengaku merindukan hari-hari ketika dirinya melenggang ke toko buku tanpa dibuntuti banyak orang. Sebuah kegiatan yang dulu pernah jadi hal favoritnya di dunia.

"Untuk masuk dan berkeliaran dari tumpukan demi tumpukan, mengambil beberapa buku, membaca sedikit, pergi dengan tumpukan besar, mendengar hal-hal baru ketika saya masuk. Sekarang, ketika saya pergi ke toko buku, saya dikenali dalam 10 menit dan ada kerumunan di sekitar saya," katanya.
Penulis 'Game of Thrones', George R.R Martin mengaku dirinya sudah tak bisa sebebas sebelum karyanya populer. (REUTERS/Mike Blake)
"Jadi kau mendapatkan banyak buku, tetapi juga kehilangan banyak hal," tambah Martin.

Martin menulis kisah tentang Game of Thrones dalam buku seri berjudul A Song of Ice and Fire pertama kali pada 1996. Tak disangka, setahun setelah dirilis novel itu banyak mendapat nominasi dan penghargaan.

Tiga tahun berselang, Martin merilis novel A Clash of Kings sebagai lanjutannya. Novel tersebut lebih tebal karena ceritanya lebih rumit dan seru. Banyak kejadian mengejutkan.

Penulis berusia 70 tahun ini konsisten meneruskan seri novel A Song of Ice and Fire. Ia merilis A Storm of Swords (2000), A Feast for Crows (2005) dan A Dance With Dragons (2011). Seiring itu, penggemar seri novel A Song of Ice and Fire pun semakin bertambah.

Terlebih saat jaringan televisi berbayar HBO mengadaptasi kisah tersebut. Pada 2011 HBO menayangkan musim pertama serial televisi Game of Thrones. Seperti novelnya, serial televisi GoT berkembang menjadi salah satu yang paling terkenal dan sukses.

Saat ini Game of Thrones telah menyudahi musim kedelapan atau finalnya. Namun, Martin justru belum melanjutkan seri novel A Song of Ice and Fire. Ia masih menyisakan dua novel, The Winds of Winter dan A Dream of Spring.

[Gambas:Video CNN] (agn/rea)