Stephany Josephine
Penulis adalah seorang Corporate Communications Manager yang bekerja di sebuah perusahaan tech swasta di Jakarta. Ia mengisi waktu senggangnya dengan berburu kedai kopi & makanan enak, baca buku, nonton konser & film, solo traveling, dan menuliskan semua pengalaman itu di blog pribadinya, www.thefreakyteppy.com, sebuah blog gaya hidup yang sudah ia rintis sejak 2007.

Kolom

Teror Absurd 'Midsommar'

Stephany Josephine, CNN Indonesia | Rabu, 21/08/2019 16:54 WIB
Teror Absurd 'Midsommar' Film Midsommar dilarang tayang di Indonesia karena tidak lulus sensor. (Dok. A24 via YouTube)
Jakarta, CNN Indonesia -- Artikel berikut mengandung spoiler atau bocoran cerita/ adegan dari film Midsommar. 


Di suatu siang di pekan ketiga bulan Agustus ini, saya memutuskan untuk menonton Midsommar di sebuah bioskop tua di Perth, Australia. Sebuah tindakan aji mumpung karena saya tidak yakin film ini bisa ditonton di Indonesia ketika pulang nanti.

Maklum, banyak ulasan yang saya baca sebelum nonton menyebut ada banyak adegan yang terlalu mengganggu.


Ternyata benar.

Secara garis besar, Midsommar bercerita tentang Dani (Florence Pugh) yang baru saja mengalami peristiwa "kehilangan" yang traumatis. Ia kemudian pergi dengan pacarnya (Jack Reynor sebagai Chris), walau kondisi hubungan mereka sedang rapuh.

Ditemani teman-teman pacar Chris (Will Poulter, William Jackson Harper, Vilhelm Blomgren), mereka menyaksikan sebuah festival midsummer di sebuah desa di Swedia dengan ritual-ritual yang katanya hanya dilakukan setiap 90 tahun sekali.

Kebetulan salah satu teman Chris memang berasal dari tempat itu. Tapi ternyata, perjalanan yang harusnya menyenangkan ini berubah menjadi mimpi buruk di siang bolong. 

Dari kacamata penonton awam yang lebih mencari kenikmatan dan keseruan pengalaman menonton ketimbang menelisik pesan implisit suatu film, Midsommar buat saya tidak bisa diperlakukan seperti itu.

Jujur, saya tidak bisa menikmatinya.

Saya cinta horor, saya suka thriller, saya (sebenarnya) suka pemaknaan terselubung atau metafora dalam film. Namun untuk film satu ini, entah mengapa "aftertaste"-nya aneh luar biasa. Absurd.

Andai saja saya bisa menekan tombol pause ketika film sedang diputar, pasti sudah saya lakukan.

Mungkin saya yang kekurangan referensi film-film serupa, atau memang film seperti ini memang jarang ada. Saking anehnya, saya sampai bingung harus berkomentar apa setelah menontonnya.

Dua remaja bule di sebelah saya juga saling berkomentar: "Nih film aneh banget, ya!" Tentunya dalam bahasa Inggris dan dengan penekanan yang lebih kasar menggunakan kata terlarang berinisial F -- ungkapan yang memang mewakili perasaan saya.

Saya pikir film ini akan jadi teror seru -serta cenderung membuat trauma-yang membekas layaknya Hereditary, film pendahulu dari sutradara yang sama, Ari Aster. Memang benar sih saya trauma, tapi tidak semembekas atau se"menghantui" Hereditary.

Mungkin tidak adil juga kalau saya bandingkan. Yang jelas menonton Midsommar itu rasanya seperti mengonsumsi obat-obatan rekreasional yang bisa membuat diri halusinasi... tetapi di bawah paksaan.

Lepas dari segala keanehan dan keganjilan yang saya rasakan, Midsommar tetap film bagus. Terutama jika dilihat kualitas produksi baik dari sinematografi, scoring, desain suara, akting, special effect make up, kostum, dan semua detail-detail lain. Di mata saya, semua dikerjakan dengan sangat matang dan rapi.

Secara cerita, relatif.

Menurut Ari Aster, film ini berangkat dari situasi emosi pribadinya ketika sedang menulis skrip: putus cinta. Saat itu Aster baru saja putus dari sebuah hubungan yang sudah berjalan cukup lama. Dia pun mengawinkan sebuah film tentang kisah putus cinta yang buruk dengan folklore yang psychedelic dan extravagant.

Pilihan kata-kata ini adalah hasil rangkuman dari sekian banyak wawancara dan analisis yang saya lihat di YouTube.

Nah, apakah penonton akan terkesan dengan ceritanya? Bisa iya, bisa tidak. Terutama karena penyajiannya yang super-disturbing itu.

Tapi saya harus mengakui bahwa film ini sangat menarik. Kenapa? Karena karya ini bisa membuat saya membaca dan mencari tahu lebih banyak hal di balik pembuatannya: proses berpikir, easter egg (pesan atau gambar tersembunyi dalam film), mitos dan budaya di baliknya, dan lain-lain.

Saya bocorkan sedikit, ritual-ritual paganisme yang ditampilkan di film ini meliputi upacara mengakhiri hidup (attestupa) dengan dua orang sepuh di komunitas itu lompat dari atas tebing yang sangat tinggi, pada sebuah batu besar di bawahnya. Sudah bisa ditebak apa yang akan terjadi.

Beruntung saya tidak muntah di tempat ketika melihat wajah nenek yang pertama melompat di-close-up.

Kakek yang lompat setelahnya ternyata sedikit salah sasaran, sehingga cuma patah kaki. Dia cuma menderita, tidak mati. Karena belum mati, maka orang-orang lain di komunitas itu harus menyelesaikan misi mengakhiri hidup sang kakek dengan... memukul mukanya sampai hancur menggunakan gada. Was it hard to watch? Very much.

Untuk yang suka hal-hal sadis penuh darah dan fisik yang tak lagi berbentuk, mungkin adegan ini justru hiburan yang mewah bagi mereka.

Adegan absurd lainnya? Ada sebuah cara bagi gadis di desa untuk menarik perhatian laki-laki yang ia suka. Tujuannya untuk bereproduksi, menghasilkan keturunan baru di komunitas ini.

Caranya cukup menjijikkan. Sang perempuan harus diam-diam menaruh (maaf) seutas rambut kemaluannya di dalam makanan dan meneteskan darah menstruasinya dalam minuman yang harus dikonsumsi sang laki-laki. Jika sang lelaki sudah berhasil "terjebak" dan jatuh cinta pada sang perempuan, maka mereka akan melakukan ritual pembuahan (pada dasarnya hubungan badan) yang disaksikan oleh sekian banyak perempuan, baik tua maupun muda di dalam suatu ruangan.

Semua orang di ruangan itu telanjang. Ya. Selain dua orang tadi harus berkopulasi, semua saksi mata tadi juga telanjang bulat. Kadang mereka bernyanyi, kadang mereka ikut melenguh mengikuti suara sang perempuan yang sedang dibuahi.

Apakah keanehan berhenti di situ? Tentu tidak. Masih banyak lagi. Tapi dua adegan di atas termasuk yang sangat mengganggu saya.
 
Sejak pekerjaan mengharuskan saya untuk mengulas banyak film, walaupun tidak ada latar belakang pendidikan film dan saya tidak berani melabel diri movie geek karena volume referensi film saya biasa-biasa saja, setahun terakhir saya belajar untuk memerhatikan film dengan lebih detil, terutama easter egg-nya.

Di Midsommar, dan ini dikutip dari salah satu wawancara dengan dua pemain utamanya, kita bisa memerhatikan semua gambar di dinding dengan seksama. Dari situlah cerita dan adegan akan bergulir.

Buat saya, bagian komunitas pagan yang super aneh di festival midsummer Swedia dalam film ini sebenarnya cuma aksesoris. Cerita sebenarnya terletak pada perjalanan emosi masing-masing karakter utama, baik karma dan konsekuensi perilaku mereka, maupun closure bagi urusan masing-masing.

Karena sifat horornya yang hanya aksesoris ini lah, walau luar biasa absurd, aneh, mengganggu dan vulgar, sayang kalau penonton Indonesia tidak bisa menyaksikan film ini secara legal dan tanpa sensor.

Iya, kita semua mungkin tidak terbiasa dengan penyajian kekerasan yang sangat-sangat gamblang dan berpotensi membuat mual, tapi kita tidak akan terbiasa jika terus menerus diberi konten yang disensor.

Andai bisa, saya doakan Lembaga Sensor Film dan bioskop bisa benar-benar memperketat peraturan dan memeriksa KTP penonton sebelum masuk, agar yang 21 tahun ke atas punya kesempatan untuk menyaksikannya.

Kalau sebuah karya bisa membuat sekian banyak manusia dewasa berpikir semakin kritis dan terinspirasi berkarya, kenapa kita tebas kesempatan itu? (vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS


BACA JUGA