Habis Gelap Terbit Terang di Panggung Srimulat

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Sabtu, 28/09/2019 13:38 WIB
Habis Gelap Terbit Terang di Panggung Srimulat Srimulat nyaris tamat di akhir '80-an. Tepat setelah mencicip ketenaran nasional beberapa tahun sebelumnya melalui TVRI. (Dok. Eko Saputro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Srimulat nyaris tamat di akhir '80-an. Tepat setelah mencicip ketenaran nasional beberapa tahun sebelumnya melalui TVRI.

Di akhir dekade itu, beragam masalah datang bersamaan. Fredy Aris alias Gepeng yang notabene merupakan magnet penonton hengkang dari grup Srimulat di Jakarta, sementara Srimulat Surabaya dan Solo juga salah kelola hingga merugi.

Di usia 40 yang mestinya mapan, Srimulat malah suram. Salah satu sebabnya, Teguh Slamet sebagai pendiri sekaligus motor penggerak, memilih pensiun dan beristirahat bersama istrinya, Jujuk Juwariah di rumah.


Terus merugi usai Gepeng pergi, Srimulat Jakarta bubar pada 1989. Satu tahun sebelumnya cabang Semarang tutup panggung pada 1988. Para pemain di kedua kota ini pun pulang kampung.

Srimulat Surabaya berusaha bertahan bahkan setelah di depan lokasi manggung mereka di Taman Hiburan Rakyat (THR) didirikan pusat perbelanjaan.

Momen suram tersebut tak akan pernah pergi dari benak Eko Saputro, alias Koko, anak sulung Teguh Slamet Rahardjo sang pendiri Srimulat dan Jujuk Juwariyah.

Ia merasakan kekecewaan mendalam atas kondisi tersebut.

Bukan hanya karena Srimulat jadi tempat ayah dan ibunya bertemu dan mencari rezeki, melainkan karena Koko sedang belajar keras meneruskan pekerjaan ayahnya mengelola grup tersebut.
Habis Gelap Terbitlah Terang di Panggung SrimulatTerus merugi usai Gepeng pergi, Srimulat Jakarta bubar pada 1989. (Dok. Srimulat Jakarta)

"Saya merasa sedih karena beberapa tahun terakhir saya harus belajar manajemen Srimulat, tapi tiba-tiba Srimulat dibubarin. Saya harus apa? Itu waktu bapak masih ada," kata Koko saat kami temui di Solo, Juli lalu.

Ia akhirnya banting setir ke usaha mebel yang ternyata memberinya pundi-pundi cukup lumayan. Hal ini juga yang membuat Koko yakin melepaskan Srimulat, sebagaimana Teguh Slamet pernah melakukannya juga.

Namun hal berbeda dialami Jujuk yang di masa mudanya juga pernah menjadi bintang Srimulat. Permintaan Teguh kepada dirinya untuk memiliki kesibukan lain di luar mentas memang ia geluti, tapi darah seni yang bergejolak tak bisa ia bohongi. Jujuk tak rela Srimulat tamat.

Ia pun mendatangi mantan sepanggungnya di Srimulat Jakarta, Kadir Mubarak, dengan suatu misi.

Kadir Si Pemodal

Kadir adalah salah seorang anggota Srimulat Jakarta yang terbilang berkarier singkat di panggung grup lawak beken itu.

Kadir memulai profesi sebagai pelawak di atas panggung ludruk dan sandiwara gambus. Ia kemudian bergabung dengan Srimulat Solo pada 1983 setelah berlatih bertahun-tahun dan berhasrat lolos seleksi ke Srimulat.

Setelah di Srimulat Solo, ia pindah ke cabang Surabaya pada 1985. Alasannya, bayaran lebih besar.

Namun rezeki memang tak ke mana. Tak lama Kadir bergabung dengan Srimulat Surabaya, ia dipanggil cabang Jakarta. Kala itu, panggung Srimulat di ibu kota baru ditinggal Gepeng dan butuh tambahan pemain.
Habis Gelap Terbitlah Terang di Panggung SrimulatKadir adalah salah seorang anggota Srimulat Jakarta yang terbilang berkarier singkat di panggung grup lawak beken itu. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Pergilah Kadir merantau ke Jakarta pada Februari 1986. Namun, baru beberapa bulan mencicip panggung Srimulat Jakarta yang bermarkas di Taman Ria Senayan, Kadir memilih hengkang pada Agustus di tahun yang sama.

Kadir keluar dari Srimulat atas ajakan Basuki dan Timbul. Bersama mereka dan Nurbuat juga Rohana, Kadir membentuk grup lawak baru bernama Grup Merdeka.

Tapi grup itu pun tak bertahan lama. Bubar dan berganti identitas menjadi Batik yang terdiri dari Basuki, Timbul dan Kadir.

Batik menjadi titik balik karier Kadir. Ia kebanjiran tawaran tampil, mulai dari panggung hingga film.

Kadir kemudian mereguk ketenaran setelah sukses memerankan karakter bernama Sandrak di film 'Cintaku di Rumah Susun' (1987). Karakter itu pula yang membuatnya terkenal dengan logat Madura.

Dengan ketenaran seperti itu, Kadir mendulang banyak uang. Namun ia tak ingin kembali hidup sengsara seperti dulu.

Ia kemudian mulai menata hidup. Dimulai dari menikah, membeli rumah di Bekasi, sampai membangun rumah untuk orang tua dan mertua di kampung.

Tak lupa, Kadir juga menginvestasikan hartanya melalui sejumlah aset yang kini masih dengan nyaman ia nikmati ketika tim CNNIndonesia.com menyambanginya.
Habis Gelap Terbitlah Terang di Panggung SrimulatKadir keluar dari Srimulat atas ajakan Basuki dan Timbul. Bersama mereka dan Nurbuat juga Rohana, Kadir membentuk grup lawak baru bernama Grup Merdeka. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Kadir baru rampung salat Jumat ketika kami sambangi di Bekasi. Cuaca terik di akhir Agustus 2019 kala itu tak terasa saat memasuki rumahnya yang teduh dengan sejumlah kucing peliharaan hilir mudik.

Ia jelas masih mengingat kejayaannya lebih dari 30 tahun silam. Sejumlah foto lawas terpasang di pigura dan bertengger di dinding ruang tamu, berisi beragam foto, mulai dari aksinya di panggung hingga foto keluarga dan foto wisuda putri-putrinya.

Berkaus biru, Kadir berbincang dengan kami mengingat usahanya kembali membangkitkan Srimulat dari keterpurukan di dekade '90-an.

"Tahun 1995 Bu Jujuk minta tolong bikin reuni Srimulat, saya semua yang biayai tur itu. Cuma, saya minta secarik kertas ya, saya akan memberi royalti jadi enggak ada tuntutan apa-apa begitu lho," kata Kadir.

[Gambas:Video CNN]

Tak Pernah Lagi Sama


Kadir tak ingat pasti jumlah uang yang ia rogoh untuk menghadirkan Srimulat kembali. Sekitar Rp100-200 juta, katanya. Kini pada 24 tahun kemudian, uang itu setara sekitar Rp811 juta-1,6 miliar.

Jumlah uang yang fantastis itu digunakan untuk biaya sewa truk pengangkut barang, transportasi pemain, dan pesawat. Sebagian besar pemain Srimulat ia kumpulkan untuk tampil di Semarang, Solo, Yogyakarta, dan Jakarta.

"Saya mainkan reuni pertama kali itu Februari 1995 di Senayan. Duass bess, jebel-jebel tenan. Ya bagi saya Srimulat sudah kayak organisasi saja," kata Kadir sembari tersenyum.

Taman Ria Senayan dan Taman Ismail Marzuki menjadi mainan baru Kadir. Setiap Reuni Srimulat tampil, penonton selalu membludak. Sampai akhirnya mereka dilirik salah satu stasiun televisi swasta, Indosiar, yang tertarik menayangkan Srimulat.
Penampilan Aneka Ria Srimulat Jakarta, terkadang mereka mengundang pelawak di luar Srimulat untuk ikut tampil.Penampilan Aneka Ria Srimulat Jakarta, terkadang mereka mengundang pelawak di luar Srimulat untuk ikut tampil. (Dok. Eko Saputro)
Tak lama setelah itu, Koko, Jujuk, Kadir, Margono alias Gogon dan Mamiek Prakoso rapat dengan Indosiar.

Menurut Koko, Jujuk banyak diam saat rapat karena tidak mengerti hal teknis di balik panggung. Sedangkan Koko yang sebenarnya mengerti, memilih tak banyak bicara.

Tak ada peran Teguh Slamet dalam negosiasi dengan Indosiar itu. Sejak Srimulat reuni dan kembali manggung, Teguh Slamet sendiri sudah ogah-ogahan ikut campur tangan. Ia juga lebih fokus mengurus kesehatannya yang digerogoti darah tinggi dan kencing manis.

Di rapat-rapat bersama Indosiar, Kadir lah yang jadi perwakilan Srimulat yang paling sering berbicara karena secara tidak langsung ia menjabat sebagai koordinator, dan pemodal. Akhirnya mereka mencapai kesepakatan dengan Indosiar membeli hak siar Srimulat.

Berbeda dari TVRI yang banyak menyiarkan penampilan Srimulat di studio, Indosiar menyiarkan penampilan Srimulat dari satu tempat ke tempat lain. Saat itu, Kadir masih membiayai kebutuhan akomodasi dan transportasi Srimulat.

"Terus hasilnya ya itu tadi diambil sama Indosiar, kami dibayar. Dari awal rendah, kemudian naik, naik lagi sampai akhirnya setiap tahun naik," kata Kadir.

Setiap satu penampilan, Srimulat disebut kurang lebih mengantongi pendapatan kotor sebesar Rp75 juta. Kadir yang saat itu menjabat sebagai kontraktor dan pemain mendapat bagian 10 persen.


Teguh bersama istri kedua, Jujuk Juwariyah, dan keempat orang anaknya.Teguh bersama istri kedua, Jujuk Juwariyah, dan keempat orang anaknya. (Dok. Eko Saputro)
Pemain sendiri mendapat gaji beragam, antara Rp3-4 juta. Mereka yang sudah punya nama tenar tentu bisa mendapat bayaran lebih tinggi. Misalnya saja Agus Basuki. Kadir ingat mengupahnya gaji Rp6 juta untuk setiap penampilan, pada 1995.

Perlahan tapi pasti saat itu Srimulat kembali meraih status sebagai grup lawak kenamaan Indonesia.

Koko menjelaskan Srimulat sempat diwacanakan mendapat penghargaan Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI) sebagai kelompok komedi yang tampil setiap minggu selama 13 tahun. Tapi hingga kini hanya sekadar wacana.

"Tahun 2000 pergantian, Bu Jujuk minta pengelolaan dikembalikan. Ya sudah saya kembalikan. Tapi karena anaknya, Koko, belum bisa apa-apa masih muda, Bu Jujuk enggak bisa mengelola sendiri," kata Kadir.

"Akhirnya Bu Jujuk kerja sama dengan saya. Tetap saya dapat bagian separuh. Enggak lama kerja sama itu sampai tahun 2003. [Selama] kerja sama itu enggak ada masalah." lanjutnya.

Kejayaan Srimulat di Indosiar pun resmi berakhir pada 2003.

[Gambas:Youtube]

Pada 2008 mereka sempat mencoba kembali muncul di televisi melalui Srimulat Mencari Bakat, dan pada Srimulat Night Live pada 2014, serta Saatnya Srimulat pada 2015.

Namun era milenium memang bukan masanya Srimulat. Mereka tak pernah mencapai posisi yang sama lagi seperti dulu.

Satu-satunya cabang Srimulat yang masih bergeliat ada di Surabaya. Itu pun hidup segan mati tak mau. Manggung hanya setiap beberapa bulan sekali. Pada akhirnya, tawa dan guyon khas Srimulat pun kini hanya menjadi kenangan masyarakat. Bahwa pada suatu masa ada kelompok lawak yang demikian dahsyat.

Artikel ini merupakan bagian dari Liputan Khusus CNN Indonesia. Ikuti selengkapnya di sini: Srimulat Tak Pernah Tamat. (end/vws)