Laporan dari Busan

Cara Studio Korea 'Menembus' Pasar Asing Termasuk Indonesia

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Minggu, 13/10/2019 15:12 WIB
Cara Studio Korea 'Menembus' Pasar Asing Termasuk Indonesia Ilustrasi. Film 'Extreme Job' salah satu film Korea yang laris di Indonesia. (dok. CJ Entertainment
Busan, CNN Indonesia -- Gelombang invasi budaya Korea atau yang dikenal sebagai hallyu sejatinya tak langsung memudahkan para pelaku industri hiburan Korea Selatan menembus pasar negara lain.

Perusahaan sekelas CJ E&M yang berada di bawah naungan CJ Groups adalah salah satu yang harus bersabar menjajal pasar baru di luar Korea Selatan.

Kepada CNNIndonesia.com, Kepala Bisnis Film Internasional CJ E&M Jerry Ko mengatakan timnya masih harus menghadapi tantangan tiap kali ingin masuk ke pasar baru atau negara asing.


"Ketika masuk ke kawasan baru, sebagai perusahaan asing, kami membutuhkan waktu dan usaha untuk benar-benar mengerti budaya masing-masing pasar termasuk kebutuhan yang belum tersentuh," ucap Jerry Ko, baru-baru ini.

Ia mengatakan pada dasarnya CJ E&M ingin mengkombinasikan budaya Korea dengan budaya lokal dari setiap pasar. Namun, Jerry menyadari hal itu tak mudah saat dilaksanakan.

Kesulitan dirasakan ketika mesti mengidentifikasi jenis konten atau kekayaan intelektual yang bakal diterima di negara tujuan. Bukan hanya itu, mereka juga mesti menentukan elemen budaya yang bisa menarik perhatian penonton lokal.
Film 'Parasite' adalah salah satu film di bawah naungan CJ Entertainment.Film 'Parasite' adalah salah satu film di bawah naungan CJ Entertainment yang menembus pasar global. (dok. CJ Entertainment/Korean Film Council)

Permasalahan tersebut biasanya ditemui ketika hendak masuk ke negara berkembang, seperti Indonesia.

Untuk menjalani segala riset dan uji coba ini, mereka mengaku setidaknya butuh dua sampai tiga tahun dalam bentuk kerja sama dengan perusahaan lokal. Semua dilakukan demi memenuhi aspek yang belum bisa dilakukan perusahaan hiburan lokal.

"Selama itu, kami berusaha memahami dinamika pasarnya, kebutuhan audiens, dan budaya bisnis dengan berbagai uji coba," kata Jerry Ko.

"Pada tahap itu juga kami biasanya menjaga hubungan dengan mitra lokal yang andal yang dapat menghasilkan sinergi dengan kami," lanjutnya.

"Sementara kami bisa membantu membangun rencana baru yang selama ini kurang disadari perusahaan lokal," tambahnya.

Selain itu, perkembangan industri media yang sangat cepat membuat mereka semakin sulit memprediksikan kebutuhan pasar di masa kini. Maraknya platform media baru diyakini mengubah cita rasa penonton terhadap film.

"Mengetahui dan memprediksi tren konten global dan lokal akan sangat penting bagi kami untuk bisa beroperasi di luar negeri," tambahnya.

Saat ini CJ Group menaungi sejumlah perusahaan, salah satunya adalah CGV Cinemas. Di Indonesia, CGV Cinemas memiliki 50 bioskop dengan 314 layar yang tersebar di 23 kota dan 11 provinsi.

Sementara itu, CJ E&M juga terlibat dalam produksi sejumlah film Indonesia seperti 'Sunyi', 'Bebas' dan 'Perempuan Tanah Jahanam'.

Jerry Ko tak menampik keberadaan CGV memberikan keuntungan bagi perusahaannya, terutama ketika film-film produksi CJ Entertainment tayang di sejumlah negara seperti Indonesia. Keuntungan bisnis produksi disebut bisa bertahan dalam waktu lama.

Keberadaan CGV diakui berdampak pada melestarikan penetrasi budaya Korea. Keberadaan CGV diakui berdampak pada melestarikan penetrasi budaya Korea ke pasar asing. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
"Kami tak hanya meningkatkan jumlah lokasi di mana bisa menayangkan filmnya Kami juga meningkatkan pasar secara keseluruhan," ucap Jerry Ko.

Menurutnya, kondisi pasar yang kuat dan seperti itu bisa membuat mereka memiliki rencana investasi jangka panjang di pasar tersebut.

Keberadaan CJ di Indonesia ini tak lepas dari kebijakan pemerintah RI yang sempat merevisi daftar negatif investasi asing termasuk di industri perfilman melalui Peraturan Presiden No. 39 Tahun 2014 tentang Daftar Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal.

Peraturan itu membuat perusahaan asing bisa menanamkan modal di bisnis bioskop.

Namun, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menilai revisi tersebut belum ampuh mendongkrak investasi secara umum. Pelaku usaha dinilai masih enggan untuk memanfaatkan kesempatan yang diberikan pemerintah.

Ketika Pemerintah RI membuka keran bagi asing untuk mendongkrak investasi di bidang perfilman, Pemerintah China justru semakin memperketat penayangan film asing. Namun ini tak menyurutkan negara tersebut menjadi salah satu pasar dan industri film besar di dunia.

Pemerintah China diketahui memiliki kebijakan bahwa film asing terutama Hollywood harus diedarkan dari distributor milik pemerintah dan dilarang merilis langsung di bawah nama mereka di China.

Hal itu berujung pada hanya sekitar 35 judul film Hollywood yang tayang tiap tahunnya di China.

Peraturan ini dibuat bukan hanya untuk menjaga industri perfilman lokal tak tergilas oleh Hollywood dan asing, tetapi juga membiarkan perfilman lokal menjadi tuan di rumahnya sendiri. (end)