Review Film: The Peanut Butter Falcon

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Jumat, 11/10/2019 18:51 WIB
Review Film: The Peanut Butter Falcon 'The Peanut Butter Falcon' termasuk film tak boleh dilewatkan bagi penonton yang membutuhkan ketenangan dan kehangatan batin. (dok. Roadside Attractions)
Jakarta, CNN Indonesia -- Film The Peanut Butter Falcon jadi suguhan yang tak disangka membuat hati terasa hangat, baik saat menonton ataupun usai keluar dari bioskop.

Dari segi sinematografi, scoring, lagu pengiring, hingga karakter utama film ini berhasil memberi kesejukan yang mungkin tak disadari para penonton butuhkan.

Film garapan sutradara Mark Twain ini berfokus pada petualangan dari orang-orang yang sedang dalam pelarian untuk mengejar mimpi dan kenyamanan hidup yang didamba.


Zak (Zack Gottsagen), pria dengan sindrom Down terjebak di panti jompo karena tak memiliki siapapun lagi. Ia berulang kali mencoba dari tempat yang dirasa bukan untuk dirinya.

Bukan hanya karena merasa tak nyaman, pelarian itu ia lakukan juga demi mengejar impian menjadi pegulat seperti sang idola, The Salt Water Neck (Thomas Haden Church).

Tujuan Zak untuk kabur tergolong sederhana, pergi ke sekolah gulat milik Salt Water Neck dan berguru langsung.

Dalam pelarian tersebut, Zak bertemu dengan Tyler (Shia LaBeouf), seorang nelayan yang kabur usai membakar perangkap ikan di pelabuhan.

Tyler sebelumnya hidup tenang. Tapi usai kepergian sang kakak, hidupnya berantakan. Untuk meneruskan hidup, Tyler harus sikut-sikutan dengan nelayan lain. Puncaknya, pembakaran perangkap itu.

Review Film: The Peanut Butter FalconDalam pelarian tersebut, Zak bertemu dengan Tyler (Shia LaBeouf), seorang nelayan yang kabur usai membakar perangkap ikan di pelabuhan. (dok. Roadside Attractions)

Setelah itu, Tyler memilih kabur ke sebuah pesisir yang disebut sebagai tempat para nelayan kecil bertahan hidup. Dalam pelarian itu, Tyler bertemu Zak.

Keduanya bersama melalui lika-liku petualangan, bersenang-senang di tepi pantai, sampai menemukan keyakinan akan Tuhan.

Bukan hanya itu, mereka juga berhasil membujuk Eleanor (Dakota Johnson), petugas panti yang semula merawat Zak, untuk ikut bergabung dalam petualangan.

The Peanut Butter Falcon menawarkan perjalanan yang menyenangkan, sekaligus menenteramkan perasaan. Memang masih ada konflik, namun tak seberapa dibanding ketenangan yang muncul usai menyaksikan film ini.

Film ini juga tak menggunakan banyak tempat yang mengagumkan, hanya sekadar di kawasan sungai, padang, dan pantai juga laut.

Tapi, kesederhanaan itu mampu membuat penonton hanyut seolah ingin ikut menyusuri sungai dengan kapal rakit sembari bersenda gurau dan bergalau tentang hidup dengan kawan karib.

Kesederhanaan tapi bermakna juga muncul lewat pesan dan cerita yang dibawa The Peanut Butter Falcon.

Kisahnya film ini memang sederhana dan tipikal Hollywood, yaitu upaya mewujudkan mimpi, kesetiaan dalam persahabatan, mengikuti kata hati, dan menikmati juga memaknai hidup yang sudah dimiliki.

Meski klise, pesan itu sebenarnya penting dan mampu ditampilkan hingga menyentuh ke relung hati. Karena di tengah arus deras perubahan zaman, seringkali manusia lupa akan suara kalbu dan bersyukur atas hidup yang telah dimiliki.

Sutradara Mark Twain juga menampilkan setiap karakter dalam film ini dengan amat baik.

[Gambas:Youtube]

Tiga tokoh utama The Peanut Butter Falcon masing-masing memiliki kisah hidup yang menyentuh, tanpa membuat seorang lebih dominan dibanding yang lainnya.

Melalui kisah hidup ketiganya, film ini juga memberikan pengingat kepada penonton untuk terus menjalani hidup.

Apresiasi khusus layak diberikan untuk Zack Gottsagen. Sebagai orang dengan sindrom Down yang sesungguhnya, ia tetap bisa menyampaikan cerita dan pesan dalam film ini dengan amat baik.

Bukan hanya itu, tingkah dirinya yang menggemaskan dan kepolosannya membawa keceriaan tersendiri dalam film ini.

The Peanut Butter Falcon bukan hanya sekadar memiliki cerita yang menyentuh, pesan dalam film ini juga semakin meresap ke benak penonton berkat sinematografi apik dan musik yang membuat nuansa makin syahdu.

Bagi penonton yang membutuhkan ketenangan dan kehangatan batin usai menonton film, The Peanut Butter Falcon jelas tak boleh dilewatkan.

[Gambas:Video CNN]
(end)