Mencari Kunci Film Indonesia Bisa Ikuti Jejak Korea

Christie Stefanie, CNN Indonesia | Minggu, 13/10/2019 16:33 WIB
Mencari Kunci Film Indonesia Bisa Ikuti Jejak Korea Film Indonesia memiliki mimpi untuk bisa dikenal dunia seperti Korea, terlihat dari film-film lokal yang terus dibawa ke berbagai festival internasional. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Film Korea Selatan kini sudah dikenal ke berbagai belahan dunia, bahkan sudah diakui oleh Hollywood. Bukan cuma Hollywood yang menerima film Korea, Indonesia pun begitu.

Segala pencapaian industri film Korea di usianya yang ke-100 tahun ini jelas tidak ditempuh dengan jalan yang mulus, mulai dari pengekangan oleh penjajah sampai pemerintah sendiri.

Sutradara Indonesia Yosep Anggi Noen berpendapat Korea saat ini memang tengah menikmati jerih payah mereka puluhan tahun lalu. Hal tersebut pada dasarnya tak bisa dibandingkan dengan perfilman Indonesia yang baru mulai 'bangkit' setelah reformasi.


"Korea bisa semaju ini karena mereka memulainya sejak lama. Sementara kita tahun 90an sempat dalam kondisi tak ada film sama sekali, bioskop mati," kata Yosep Anggi Noen.

"Jadi kita ini sedang dalam tahap perkembangan dan itu tak terjadi secara instan," lanjutnya saat ditemui CNNIndonesia.com di Busan International Film Festival 2019.

Film Indonesia pun memiliki mimpi untuk bisa dikenal dunia, terlihat dari film-film lokal yang terus dibawa ke berbagai festival di dunia, salah satunya film karya Yosep Anggi, The Science of Fiction yang tayang di BIFF 2019.
Mencari Kunci Film Indonesia Bisa Ikuti Jejak KoreaFilm-film lokal Indonesia terus dibawa ke berbagai festival di dunia, salah satunya film karya Yosep Anggi, The Science of Fiction yang tayang di BIFF 2019. (Dok. KawanKawan Media)

Namun untuk bisa mengikuti jejak Korea yang memiliki industri film maju di Asia, Indonesia masih banyak tugas yang harus dilakukan di tengah berbagai upaya mengembangkan industri tersebut di dalam negeri.

Anggi menyebut industri film Indonesia sebenarnya sudah mulai berkembang, dilihat dari kampus dan universitas yang mulai menjadikan film sebagai subjek studi.

Bagi Anggi, infrastruktur perfilman bukan hanya jumlah bioskop dan layar, tetapi juga bangku pendidikan.

Anggi juga menyebut Pemerintah Indonesia mulai berpihak kepada perfilman Indonesia, melalui Akatara yang merupakan forum pembiayaan film Indonesia oleh Badan Perfilman Indonesia (BPI). Belum lagi dukungan dari pemerintah daerah untuk membuka komisi film daerah.

"Jadi kita ini dalam tahap perkembangan. Kita harus menikmati perjalanan industri ini berkembang. Di situ dinamikanya," tutur sutradara film 'The Science of Fictions' tersebut.

Anggi juga menegaskan hal-hal tersebut harus tetap dilakukan oleh berbagai pihak supaya perfilman Indonesia semakin bisa besar di masa mendatang.

Bukan hanya soal pendidikan, penambahan dan pemerataan layar bioskop juga dipandang kritikus film Eric Sasono perlu dilakukan oleh Indonesia bila ingin memiliki industri film yang solid.

Mencari Kunci Film Indonesia Bisa Ikuti Jejak KoreaPenambahan dan pemerataan layar bioskop juga dipandang kritikus film Eric Sasono perlu dilakukan oleh Indonesia bila ingin memiliki industri film yang solid. (CNN Indonesia/Safir Makki)
"Di Indonesia, pusat-pusat screen-nya tuh masih di kota-kota besar, sekitar 69 persen. Jadi kebanyakan di kota bukan di kabupaten. Padahal dulu struktur bioskop di Indonesia sampai ke kecamatan kan," ucap Eric Sasono, dalam kesempatan terpisah.

Masalah layar yang 'menumpuk' ini lah yang dipandang Eric menjadi alasan capaian jumlah penonton bioskop Indonesia tak bisa dibandingkan dengan Korea.

Hingga kini, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! (2016) menjadi film terlaris di Indonesia dengan total penjualan lebih dari 6,8 juga tiket.

f
Sementara itu, The Admiral: Roaring Currents menjadi film terlaris di Korea Selatan sepanjang masa dengan penjualan lebih dari 17 juta tiket.

Eric mengatakan hal tersebut sangat dipengaruhi jumlah layar. Jumlah penduduk Indonesia jauh lebih banyak daripada Korea Selatan namun tak sejalan dengan total layar.

Indonesia diketahui memiliki setidaknya 1.900 layar di banyak daerah terutama kota-kota besar. Sementara itu, Korea Selatan memiliki 2.800 layar per April 2019.

Eric berharap layar bioskop di Indonesia benar-benar tersebar sampai ke tingkat kecamatan. Hal itu juga akan memengaruhi umur film di layar bioskop.
Mencari Kunci Film Indonesia Bisa Ikuti Jejak KoreaEric berharap layar bioskop di Indonesia benar-benar tersebar sampai ke tingkat kecamatan. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Menurutnya, ketika film sudah turun layar dari bioskop di kota-kota besar atau yang ia sebut sebagai bioskop kelas A, nantinya bisa terus tayang di bioskop-bioskop kecil atau yang ia sebut dengan kelas B.

"Walau telat tapi tetap hiburan kan? Tapi bioskop seperti itu sekarang sudah mati. makanya sekarang pertaruhan para pembuat film itu tinggi sekali mereka harus sukses di opening weekend, ketika mereka gagal opening weekend mati lah film mereka untuk selamanya," Eric menjelaskan.

Peran Pemerintah

Pengamat Budaya Pop sekaligus Anggota Dewan Kesenian Jakarta Hikmat Darmawan menyoroti faktor dukungan pemerintah dalam perkembangan film di Korea, usai melewati masa suram pada dekade '70-an.

Kala itu, disebut Hikmat, penggerak reformasi politik di Korea merupakan para sineas. Salah satunya adalah Lee Chang-dong yang kemudian menjabat Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Korea 2003-2004.

"Kebayangkan betapa perhatian terhadap film itu baik sebagai industri maupun produk kebudayaan sudah sangat lekat pada saat Korea mengalami reformasi. Dan buahnya terjadi pada tahun 2000-an," kata Hikmat, dalam kesempatan terpisah.

Menurut Hikmat, peran serta pemerintah memengaruhi perkembangan perfilman yang kemudian berujung pada peningkatan standar produksi dan infrastruktur.

Hal tersebut menjadi salah satu yang bisa diikuti Indonesia. Infrastruktur dinilai turut memengaruhi ketersediaan konten yang sudah menjadi masalah sejak dahulu.
Mencari Kunci Film Indonesia Bisa Ikuti Jejak KoreaMenurut Hikmat, peran serta pemerintah memengaruhi perkembangan perfilman yang kemudian berujung pada peningkatan standar produksi dan infrastruktur. (CNN Indonesia/M. Andika Putra)

"Itu selalu ya. Konten memang kurang sekarang. Dalam artian, kapasitas sekarang pun sedikit sekali supply konten," katanya.

"Kalau infrastruktur penyedia konten tidak dibangun, apakah orang-orang mau membuat konten mulai dari tahap menulis, membuat film, ketersediaan SDM dan apakah termakmurkan?" lanjut Hikmat.

Hikmat mengatakan Indonesia sesungguhnya memiliki banyak penulis serta sutradara cakap dari universitas ternama. Namun mereka berakhir dalam industri sinetron karena tak terserap di industri perfilman.

Hal itu kemudian berujung pada persaingan keras antar sineas. Ia menganalogikan layar bioskop Indonesia yang bisa menampung 80-120 judul film dan hanya bisa tayang dalam waktu singkat.

"Susah juga kan jadinya. Jadi yang bagus-bagus ke sinetron, novel atau Wattpad aja. Satu lagi yang saya tekankan, perjuangan film Indonesia tuh bukan perjuangan selera," kata Hikmat.

"Misalnya 'oh kita mesti banyak konten yg bagus', bukan begitu. Itu justru bagian yang akan terikutkan ketika perjuangan infrastrukturnya terbangun," lanjutnya.

Menurutnya, ketika infrastruktur dibenahi maka konten juga akan meningkat dan perfilman Indonesia akan terus tumbuh besar.

Hikmat bahkan memperkirakan jika industri perfilman Indonesia tetap berada di jalur yang benar, maka hasilnya sudah bisa terlihat 10-15 tahun kemudian. (end)