PM Inggris Mengaku Suka The Clash, Netizen Mengamuk

CNN Indonesia | Jumat, 15/11/2019 05:25 WIB
PM Inggris Mengaku Suka The Clash, Netizen Mengamuk Warganet mengamuk setelah mendengar pengakuan Boris Johnson bahwa Perdana Menteri Inggris tersebut menyukai band legendaris The Clash. (AP Photo/Matt Rourke)
Jakarta, CNN Indonesia -- Warganet mengamuk setelah mendengar pengakuan Boris Johnson bahwa Perdana Menteri Inggris tersebut menyukai band punk legendaris The Clash.

Amarah di jagad maya ini mulai merebak setelah tim kampanye Johnson merilis video iklan yang merekam kegiatan sang PM di markas Partai Konservatif.

Dalam video itu, Johnson terlihat berkeliling sembari menjawab sejumlah pertanyaan. Pada satu momen, Johnson ditanya mengenai band favoritnya.

"The Clash dan The Rolling Stones, dan saya sangat sering mendengarkan The Rolling Stones belakangan ini," ucap Johnson.


Para penggemar musik menganggap Johnson asal bicara karena The Clash dikenal sangat anti-monarki. Sikap tersebut juga tercermin dalam lirik sejumlah lagu mereka yang keras.

"David Cameron suka The Jam, Boris Johnson suka The Clash. Apakah para pria tak berleher ini mendengarkan liriknya?" tulis pemilik akun Twitter @unionlib.



Senada, pemilik akun Twitter @chrissybhoy777 juga mempertanyakan pernyataan Johnson. Berkelakar, ia kemudian menyebut Johnson tak mungkin menjadi PM kesukaan The Clash.

"@BorisJohnson jadi band kesukaanmu @TheClash!!! Satu lagi kebohongan. Namun, saya yakin Anda tidak mungkin jadi PM favorit The Clash. Anda mewakili SEMUA yang ditolak The Clash," tulisnya.



Sementara itu, pengguna akun @estellecostanza menganggap Johnson memanfaatkan nama The Clash demi mendulang suara dalam pemilihan umum mendatang.

"Tolong beri tahu anggota The Clash agar mereka memberi tahu Boris Johnson bagaimana tanggapan mereka setelah dimanfaatkan untuk pemilu," katanya.



Johnson memang akan bertarung dalam pemilu pada Desember mendatang. Posisinya dipertaruhkan di tengah peningkatan ketegangan politik menjelang tenggat proses Inggris keluar dari Uni Eropa alias Brexit pada Januari 2020 mendatang. (has/has)