Analisis

'Benci tapi Cinta' Grammy Awards kepada K-pop

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 21/11/2019 14:19 WIB
'Benci tapi Cinta' Grammy Awards kepada K-pop Bangtan Boys atau BTS gagal masuk nominasi Grammy Awards 2020. (Courtesy of Big Hit Entertainment)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gelaran Grammy Awards tak bisa menyenangkan semua pihak setiap tahunnya. Tahun ini misalnya, pengumuman nominasi Grammy Awards 2020 mengecewakan ARMY, sebutan bagi penggemar boyband Korea Selatan, BTS (Bangtan Boys).

Kekecewaan itu muncul tak lama setelah pihak Grammy mengumumkan puluhan nominasi pada Rabu (20/11) waktu setempat dan BTS tak masuk salah satu dalam satu pun kategori acara penghargaan musik bergengsi tersebut. Ungkapan rasa kecewa itu sempat menjadi trending topic dunia lewat #ThisisBTS.

Korea dan Grammy selama ini bisa dibilang memiliki 'love-and-hate relationship'. Grammy kerap melibatkan musisi asal Korea Selatan dalam acara tahunan mereka, tetapi hampir tidak pernah memasukkannya dalam nominasi.
Sejak musik Korea atau K-pop menarik perhatian dunia, terutama Barat lewat Hallyu Wave pada akhir 2009-an hingga kini, hampir tak ada nama musisi asal Korea Selatan yang tertulis dalam nominasi Grammy.


Mantan leader 2NE1, CL, sempat tercatat dalam nominasi Grammy Awards 2016. Namun, hal itu berkat kolaborasinya bersama DJ Amerika Serikat Diplo, Riff Raff & OG MacO dalam lagu 'Doctor Pepper'.

Awal 2019 seperti menunjukkan 'kecintaan' Grammy kepada musisi Korea Selatan. Sejumlah artis Korea diundang menghadiri acara tersebut mulai dari rapper Crush di karpet merah, hingga BLACKPINK yang mendapat kesempatan tampil di showcase Grammy.

Banyak sejarah dicetak kala itu. BLACKPINK menjadi girlband pertama asal Korea Selatan yang tampil dalam showcase Grammy yang diselenggarakan sejak 2014.

Sejarah itu ditambah fakta bahwa BTS menjadi boyband asal Korea Selatan pertama yang memberikan penghargaan di Grammy Awards. Juga, nama BTS masuk daftar nominasi kategori Best Recording Package melalui album 'Love Yourself: Tear'.
Bangtan Boys atau BTS gagal masuk nominasi helatan Grammy Awards 2020. (Big Hit Entertainment)
Best Recording Package merupakan penghargaan atas album dengan visual terbaik. Oleh sebab itu, piala berbentuk gramofon tersebut diberikan kepada art director, bukan kepada sang musisi.

Pun Love Yourself: Tear yang menang kala itu, piala Grammy diberikan kepada HuskyFox selaku art director, bukan kepada BTS.

Dalam kesempatan itu, BTS bersama CEO Big Hit Entertainment Bang Si-hyuk juga secara resmi diundang Grammy untuk menjadi salah satu voting member dan anggota profesional.

Sehingga, wajar rasanya apabila ARMY berharap BTS bisa memenangkan setidaknya satu penghargaan Grammy. Apalagi, 2019 menjadi salah satu tahun gemilang BTS.

Sejumlah prestasi ditorehkan, seperti menempati puncak tangga lagu Billboard 200 pada April lalu dengan album 'Map of the Soul: Persona', serta menjadi album ketiga BTS yang berhasil menempati posisi pertama tangga lagu Billboard 200 dalam kurun 11 bulan. Capaian tersebut setara dengan rekor band The Beatles pada 1966.

Namun, harapan tersebut berubah menjadi pil pahit ketika nama BTS tak masuk salah satu nominasi.

Absensi nama-nama musisi Korea Selatan di Grammy bukan sebuah fenomena baru. Grammy memang selama ini terindikasi Amerika-sentris. Hal tersebut turut diungkapkan solois Halsey, salah satu teman kolaborasi BTS tahun ini.

"Saya tak kaget kalau mereka (Grammy) belum menyadarinya. Amerika memang tertinggal dalam gerakan ini. Waktunya akan datang," cuit Halsey.




Upaya Merebut Pasar Amerika

Nama musisi Korea Selatan memang hampir tak pernah masuk nominasi Grammy Awards. Namun, hal itu tak menyurutkan agensi serta para musisi mengepakkan sayap di negeri Paman Sam.

Ambil contoh, BTS. Sejumlah musisi Amerika Serikat seolah berlomba berkolaborasi dengan mereka, seperti Lauv, Halsey, Ed Sheeran, dan Steve Aoki. BTS pun muncul di sejumlah talkshow salah satunya adalah The Ellen Show.

Tahun ini, MONSTA X pun lebih banyak beraktivitas di Amerika Serikat. Boyband buatan Starship Entertainment tersebut juga merilis sejumlah lagu berbahasa Inggris yang pastinya lebih mudah dimengerti pasar Amerika.

[Gambas:Youtube]

Demikian juga NCT 127. Di bawah agensi SM Entertainment, mereka perlahan mulai menyasar pasar AS. NCT 127 bisa dibilang lebih banyak beraktivitas di Amerika dibandingkan Korea Selatan tahun ini.

Tak hanya itu, CEO SM Entertainment Lee Soo-man bahkan membentuk boyband baru, Super M, untuk fokus di AS. Album Super M, 'Jopping', bertahan di tangga lagu Billboard 200 selama tiga minggu berturut-turut.

[Gambas:Youtube]

YG Entertainment tak ketinggalan, meski mereka sedang menghadapi sejumlah permasalahan di sepanjang 2019. 'Anak' termuda YG, BLACKPINK, mencetak sejarah dengan menjadi girlband pertama asal Korea yang tampil di Coachella, salah satu festival musik terbesar di AS.

Hal itu menunjukkan Grammy Awards tidak menjadi tolak ukur para musisi untuk berhenti atau lanjut berkarya. Musisi Korea Selatan terus bermusik, berkarya dan menjalani tur dunia.

Dukungan penggemar dari penjuru dunia, tanpa diragukan, akan tetap mengalir kepada musisi Korea meski tak meraih penghargaan di Grammy Awards. (chri/rea)