Music at Newsroom

Sir Dandy, Musisi Eksentrik Minim Pretensi

CNN Indonesia | Jumat, 22/11/2019 20:25 WIB
Sir Dandy, Musisi Eksentrik Minim Pretensi Berawal dari keisengan mengulik gitar, Sir Dandy tak menyangka bisa membentuk proyek musik solo yang kini sudah menghasilkan satu album dan album mini. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berawal dari keisengan mengulik gitar, Dandi Achmad Ramdhani alias Sir Dandy tak menyangka bisa membentuk proyek musik solo yang kini sudah menghasilkan satu album dan album mini.

Semua bermula pada awal medio 2000-an. Lulus pada 2002 dari Jurusan Desain Produk Institut Teknologi Nasional, musisi yang kerap disapa Acong ini awalnya memilih profesi sebagai ilustrator lepas.

Usai lulus, ia pun pindah ke Jakarta pada tahun 2003. Tinggal dalam kamar kos dan bermodalkan komputer, ia tekun menjadi ilustrator lepas. Kadang, ia juga melukis bila ada permintaan dari klien.


"Jadi bekerja depan komputer, segala macam pekerjaan dari klien. Kalau selesai melukis, sambil menunggu (lukisan) kering, main gitar akustik," kata Acong saat mengunjungi kantor CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Namun, Acong tidak memiliki kemampuan bermain gitar yang mumpuni. Sir Dandy memang sudah memiliki band Teenage Death Star sejak 2002, tapi ia bertindak sebagai vokalis.

Berbekal alat pinjaman dari gitaris Sore, Ade Paloh, Acong belajar secara otodidak lewat situs ultimate-guitar.com. Sir Dandy mulai mengulik lagu band-band kesukaannya, seperti The Libertines.

Sangat sulit bagi Sir Dandy mengikuti alur musik para musisi jagoannya. Ia menyerah. Namun, upaya belajarnya tak sia-sia. Setidaknya, Sir Dandy bisa memainkan kunci-kunci dasar pada gitar.

Sering menghabiskan waktu di kamar kost, Sir Dandy mulai berselancar di internet dan terdampar di satu video yang diunggah oleh temannya, Anto Arief, gitaris 70's Orgasm Club.

Dalam video itu, Anto memainkan gitar dengan gaya idolanya, Mus Mujiono. Tergelitik, Sir Dandy mulai membuat lagu untuk membalas Anto yang punya julukan Antreufunk.

"Gue bikin lagu Ode To Antreufunk itu untuk balas-balasan sama dia lewat YouTube," kata Acong sambil tertawa.

Acong melanjutkan, "Gue upload di YouTube biar dilihat. Nanti Anto muncul lagi, terus gue bales lagi. Makanya kan ada Ode To Antreufunk Part 2. Tapi gua tuh lupa password akun itu hahaha, tahun 2009 itu gue unggah."

[Gambas:Youtube]

Nomor "Ode To Antreufunk" itu akhirnya menjadi lagu pertama yang menjadi bekal materi untuk album perdana Sir Dandy, Lesson #1.

Bila diperhatikan, kebanyakan lagu Sir Dandy sangat sederhana, hanya berputar-putar pada kunci C, D, Am dan G. 

Liriknya pun sederhana dan mudah dipahami. Tema yang diambil juga seputar keseharian.

Ada pula beberapa lirik yang bisa membuat pendengar tertawa, seperti pada lagu "Juara Dunia", "Sekdrag", atau "Ayo Kita Kerja".

Sir Dandy mengaku bahwa gaya penulisan sederhana seperti ini terinspirasi dari tembang "Tince Sukarti Binti Machmud" milik Iwan Fals dalam album Sore Tugu Pancoran (1985).

Proses awal lagu-lagu itu bisa terangkum dalam satu album pun sederhana, berawal dari pertemuan Sir Dandy dengan personel Maliq & D'Essentials, Widi Puradiredja.

Sir Dandy, Sir Dandy saat berkunjung ke kantor CNNIndonesia.com. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Saat itu, Sir Dandy juga memiliki usaha furnitur bernama Harrington Home. Ternyata, Widi merupakan salah satu pelanggannya.

"Gue ketemu lagi sama Widi setelah ketemu saat jual furnitur dulu. Di situ gue bilang mau manggung di Rossi Fatmawati, gua minta bantuan dia untuk main drum dan kibor. Dulu formasi gue Hasief Ardiasyah sebagai gitaris dan Ade Paloh sebagai basis," kata Sir Dandy.

Sir Dandy makin sering main dengan Widi. Pada satu saat, Widi bercerita kepada Sir Dandy bahwa ia bersama Maliq & D'Essentials memiliki studio baru di kawasan Bintaro, Tengerang Selatan. Widi menyarankan Sir Dandy untuk serius rekaman.


Saat rekaman, ia tidak menggunakan metronome yang biasanya digunakan sebagai patokan tempo. Setelah Sir Dandy merekam vokal, Widi memainkan semua alat musik yang dibutuhkan.

Tepat pada 2011, akhirnya rilis album perdana bertajuk Lesson #1 yang berisikan 10 lagu. Album itu dirilis oleh label rekaman Organic Records yang juga menaungi Maliq & D'Essentials.

"Enggak nyangka bisa laku, padahal itu bermusik iseng saja. Enggak ada niatan. Pada zaman itu belum banyak musisi solo begitu. Dulu masih zaman main band, kalau sekarang kan udah banyak musisi solo," kata Sir Dandy.

Ia melanjutkan, "Gue cuek banget waktu bikin album itu. Makanya gue di awal rekaman gua bilang ke Widi, 'Lo mau rilis album gue? Kalau enggak laku, jangan komplain ya? Jangan nuntut juga, gue mah begini."

Ya, Sir Dandy memang tidak muluk dalam bermusik. Sama seperti pada Teenage Death Star, dalam proyek solo ia menganut slogan skill is dead, let's rock. Meski eksentrik, ia tak pernah berpretensi.

Musisi asal kota Kembang ini sempat ke Skotlandia selama selama satu tahun dari 2015 sampai 2016 untuk menemani istrinya kuliah. Ia sendiri juga mengambil kelas residensi di salah satu studio desain.

Setelah kembali ke Indonesia ia kembali sibuk bermusik dengan Teenage Death Star dan menggarap sejumlah lagu proyek solo. Beberapa bulan lalu, ia merilis album mini bertajuk Intermediate.

[Gambas:Video CNN]

Intermediate berisikan enam lagu bertajuk "Mudah-Mudahan Ramai Terus (MRT)", "Jurnal Risa", "Kisah G.o.T", "Jon Snow", "Navigasi", dan "Biarin" secara berurutan. Lagu terakhir merupakan musikalisasi puisi karya Yudhistira ANM Massardi.

Dari segi tema tidak ada perubahan yang signifikan ketimbang album perdana, Sir Dandy masih menulis lagu tentang keseharian. Atau lebih tepat, lagu yang berisikan refleksi kaum urban masa kini.

Penampilan 'seadanya' Sir Dandy bisa disaksikan di Music At Newsroom melalui streaming di CNNIndonesia.com pada Jumat (29/11) pukul 14:00 WIB. (adp/has)