Soal Manajemen 'Cuan', Ki Manteb Soedharsono Patuh Istri

tim, CNN Indonesia | Minggu, 01/12/2019 18:02 WIB
Soal Manajemen 'Cuan', Ki Manteb Soedharsono Patuh Istri Ki Manteb Sudarsono mengakui mendiang istri kelima berperan besar dalam pengaturan pendapatannya. (CNN Indonesia/ Aulia Bintang)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ki Manteb Soedharsono duduk mendalang untuk pertama kali dalam hidup kala berusia delapan tahun. Di Desa Jogorogo, Ngawi, Jawa Timur, ia beraksi sebagai pembuka penampilan dalang Ki Hardjo Brahim, sang ayah.
 
Ia langsung mendalang selama kurang lebih enam jam sejak pukul 09.00 WIB sampai 15.00 WIB. Pencapaian itu terhitung luar biasa untuk seorang bocah delapan tahun. Tidak mudah untuk tetap fokus menggerakkan wayang ['sabet'], 'nembang', dan bercerita di saat bersamaan.

"Saat itu, tahun 1956, saya mendapat bayaran Rp5, padahal saya tidak pernah minta. Itu bayaran yang besar, kalau sekarang seperti Rp5 juta," kata Ki Manteb kepada CNNIndonesia.com di kediamannya di Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah.

Menerima uang itu, Ki Manteb merasa mendapat cuplikan kesuksesan di masa depan. Pesan ayahnya yang diucapkan dalam bahasa Jawa terngiang, "Kalau kamu sudah besar, jadi dalang yang bagus, kamu punya uang banyak."


Entah mengapa Ki Hardjo berkata demikian kepada anaknya. Sebagai dalang ia memang kondang dalam skala kecil, tetapi tidak punya cukup uang untuk memenuhi kebutuhan seorang istri dan tujuh anak. Ki Hardjo menerima Rp15 rupiah usai satu kali penampilan. Untuk makan sehari-hari, terkadang ia harus gali dan tutup lubang, pinjam uang untuk membayar utang.


Di sisi lain, Ki Hardjo selalu jujur tentang kondisi tersebut kepada anak-anaknya.

"Kalau makan Bapak suka bilang, 'hari ini makan, besok belum tentu ya'. Saya sudah cukup besar waktu itu, di malam hari saya keluar rumah tanpa ketahuan Bapak untuk ngamen, ngamen pake siter," kata Ki Manteb.

Bertumbuh dewasa, Ki Manteb semakin fokus melanjutkan karier mendalang. Di awal dekade 1970-an, secara tak langsung ia sempat berguru pada dalang-dalang legendaris seperti Ki Narto Sabdo dan Ki Sudarman Gondodarsono.

Pada 1977, ia meminang istri kelima yang bernama Sri Suwarni. Sebagai catatan, sebagai dalang ruwat (melakukan ritual) Ki Manteb diwajibkan memiliki istri dan tidak boleh berpoligami.

Dalam perjalanan hidup Ki Manteb selanjutnya, Suwarni ini menjadi salah satu yang memiliki peran terbesar atas kesuksesan sang dalang. Suwarni tak hanya setia menemani dari titik nol, ia pun mendedikasikan diri layaknya manajer dan bendahara.


Pendapatan dari hasil mendalang, serta berdagang wayang dan gamelan ia kelola dengan cara tradisional. Suwarni membuat kotak penyimpanan uang, menyesuaikan jumlah kotak dengan pos pengeluaran. Ada kotak untuk pengrawit, sinden, penyewaan wayang, gamelan, sampai penyewaan kendaraan dan pengeras suara. Ki Manteb sendiri hanya diberi Rp750 ribu dari setiap penampilan.

"Saya sempat mengeluh kenapa harus ada uang sewa, padahal itu punya saya semua. Kata Ibu [sebutan untuk Suwarni], itu untuk biaya perawatan kalau mobil rusak, atau untuk membuat wayang dan gamelan baru bila rusak," kata Ki Manteb.

Sistem pengelolaan ala Suwarni berjalan baik, terlebih ketika nama Ki Manteb semakin menanjak pada 1980-an. Dari dalang skala daerah, ia menjelma berskala nasional. Kala itu, untuk satu kali penampilan lengkap dengan gamelan dan sinden, ia menerima Rp10 juta.

Tak dapat dipungkiri karier Ki Manteb makin berkilau setelah menjadi bintang iklan obat sakit kepala pada 1988. Awalnya, iklan itu hanya diputar di radio-radio. Ia menyepakati kontrak sebesar Rp11 juta per tahun. Tak disangka, iklan meledak, mendatangkan ajakan untuk membintangi versi televisi dari produk yang sama.
Soal Manajemen 'Cuan', Ki Manteb Soedharsono Patuh IstriKi Manteb Soedharsono kala mendalang di HUT Republik Indonesia ke-74 di halaman depan Istana Merdeka, Jakarta. (CNN Indonesia/Feri Agus Setyawan)
Di awal 1990-an, Ki Manteb menjalani syuting iklan. Sebelumnya, ia sudah diminta membuat frasa yang menggambarkan kemanjuran obat yang dimaksud. Tetapi sampai di lokasi, ia belum juga mendapatkan ilham. Kepada kru yang bertanya, ia hanya menyuruh mereka diam.

Ketika kamera mulai merekam, frasa "pancen oye" terlontar begitu saja. Strategi berhasil, produk semakin dikenal masyarakat dan sebaliknya, Ki Manteb pun mendapat eksposur. Simbiosis mutualisme, semua pihak senang.

"Tahun '90- an itu kontrak saya dalam setahun Rp75 juta. Kalau sekarang kontrak saya selama setahun sebesar Rp200 juta, dengan obat sakit kepala ini saya kontrak sampai meninggal," kata Ki Manteb.

Dari sana, ia menerima nominal lebih besar untuk tampil dengan paket lengkap, beserta sinden dan karawitan. Rp200 juta di akhir era 1990-an. Bila pihak yang menanggap sudah menyediakan karawitan dan sinde, harga masih bisa berkurang.

Suwarni berpulang pada 2003. Ki Manteb yang kemudian menikahi perempuan lain, mengajarkan manajemen pengelolaan uang ala Suwarni pada istrinya saat itu. Namun tak semua bisa melakukannya. Baru istri kedelapan, Suwarti yang ternyata bisa menerapkan cara serupa.

[Gambas:Video CNN]

Segala pemasukan dipercayakan Ki Manteb kepada istri, pun ia tak pernah bertanya tentang saldo tabungan. Ia hanya meminta Suwarti untuk tak lupa mengisi dompetnya dalam jumlah cukup.

"Saya memanfaatkan betul-betul manajemen itu sampai bisa menjadi sekarang ini. Kalau tidak, bisa seperti dalang-dalang lain (yang pernah sukses), enggak punya rumah," kata Ki Manteb.

Berkat manajemen keuangan ala Suwarni, hari ini Ki Manteb memiliki banyak investasi. Selain bisnis produksi wayang dan gamelan di bawah nama Sanggar Bima, ia mempunyai pula beberapa tanah. Ia menyebut sempat memiliki tanah dan sawah sebanyak 44 lahan, namun sudah dibagi ke enam anak kandungnya.

Kini Ki Manteb sudah menjadi dalang bertaraf internasional, ia menjadi perwakilan Indonesia ketika wayang diakui oleh UNESCO sebagai warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur.

Saat ini satu kali penampilan Ki Manteb lengkap dengan sinden dan karawitan adalah sebesar Rp250 juta. Rata-rata dalam satu bulan ia bisa tampil sebanyak tujuh kali. Capaian yang luar biasa untuk seorang dalang yang sudah berusia 71 tahun.


Tulisan ini merupakan bagian dari FOKUS (serial artikel) CNN Indonesia yang bertajuk Jalan Sunyi Ki Manteb.


(adp/rea)