Berbagi Lapak Karaoke Massal dan Konvensional

CNN Indonesia | Minggu, 15/12/2019 16:33 WIB
Berbagi Lapak Karaoke Massal dan Konvensional Di tengah gandrung anak muda akan karaoke massal di bar-bar kecil, popularitas bisnis semacam Inul Vizta seolah tergerus. Pelaku dari kedua kubu pun buka suara. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di tengah gandrung anak muda ibu kota meluapkan ekspresi dan emosi di karaoke massal yang digelar di bar-bar kecil, popularitas bisnis semacam Inul Vizta dan Ari Lasso The Legend Karaoke seolah tergerus.

Kedua pemilik bisnis karaoke keluarga tersebut berbincang dengan CNNIndonesia.com mengenai dampak dan tuntutan mereka di tengah gelombang marak karaoke massal tersebut.

Ari Lasso mengaku terkejut dengan kemunculan tren karaoke massal yang diadakan di bar dan kelab-kelab malam. Ia juga tak memungkiri bahwa konsep tersebut merupakan suguhan yang menarik.
Ia sendiri pernah hadir sebagai bintang tamu kejutan di acara Karaoke Battle yang diadakan bulan lalu di satu bar di kawasan Kemang, Jakarta.


"Jadi ternyata selera publik itu benar-benar tidak bisa diduga. Kita bingung juga awalnya gimana, tiba-tiba semua orang berkaraoke dan lagu-lagunya itu lebih ke 80-90'an atau minimal 2000-an awal. Artinya, itu menandakan anak-anak angkatan itu lagi pegang kreativitas yang gila-gilaan di scene manapun. Menarik banget sih memang," katanya.

Ia kemudian mengatakan, "Sekarang bisa show off, siapapun bisa nyanyi. Malah kadang mereka gayanya lebih gila loh. Ya menyenangkan sekali."

Meski demikian, mantan vokalis Dewa 19 tersebut mengatakan bahwa kemunculan karaoke massal di bar dan kelab malam itu tak mengancam bisnisnya, Ari Lasso The Legend Karaoke.

"Enggak [terancam] kayaknya karena itu dua jenis pangsa yang berbeda. Tentunya, masih banyak orang-orang yang tidak cukup PD untuk tampil di karaoke ruang besar campur dengan yang lain, jadi lebih memilih ke ruang kecil hanya bertiga atau berempat," kata Ari.
Berbagi Lapak Karaoke Massal dan Konvensional (FOKUS)Ari Lasso mengaku terkejut dengan tren karaoke massal. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Senada dengan Ari, Inul juga mengaku tak masalah dengan kemunculan tren tersebut. Hanya saja, dia memberikan catatan kepada pihak berwenang untuk menyamaratakan dari segi aturan bisnis.

"Kalau aku sih sebenernya masih tetap kuat dan yakin bahwa pasar aku memang berbeda dengan mereka dan customer -nya juga customer yang berbeda gitu, dalam artian ya memang kita yang mengonsumsi kan kalangan orang-orang yang tidak mau privasinya terganggu. Benar-benar pengin happy gitu," kata pelantun lagu "Kocok-Kocok" itu.

Lebih lanjut, dia berharap bahwa kemunculan tren ini juga dapat diperhatikan dari sisi kewajiban membayar royalti penggunaan lagu. Inul ingin adanya penyamarataan dari kewajiban yang harus dipenuhi.

"Untuk pembayaran royaltinya. Ini yg akan menjadi permasalahan besar nantinya. Saya sebagai Pembina dan Ketua Asosiasi Pengusaha Karaoke Indonesia, itu nanti mereka harus hati-hati dengan asosiasi saya yang pastinya akan mengacungkan bendera untuk memberikan lampu merah kepada HAKI untuk pembayaran royalti segala macem itu," kata Inul.

Saat ini, bar yang rutin mengadakan malam karaoke di Jakarta adalah Duck Down yang kini memiliki dua gerai, yaitu di bilangan Kemang dan Gunawarman.

Duck Down Pizza Party yang berlokasi di Kemang menggelar karaoke setiap Senin malam, sementara Duck Down Bar di Gunawarman menghelat pada Kamis.
Berbagi Lapak Karaoke Massal dan Konvensional (FOKUS)Keriuhan di Duck Down kala malam karaoke. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Ryo Wicaksono sebagai salah satu pemilik Duck Down mengatakan bahwa bar tersebut memang meraup keuntungan paling besar kala sedang menggelar karaoke, meski ia enggan mengungkap besarannya.

Ketika ditanya mengenai royalti dari karaoke tersebut, Aninda Pardede selaku manajer pemasaran Biko Group yang menaungi Duck Down hanya menjawab, "Kita sedang proses izinnya melalui WAMI."

WAMI sendiri merupakan badan usaha yang bergerak di bidang organisasi manajemen kolektif pengelola eksploitasi karya cipta lagu terutama untuk royalti atas hak mengumumkan atau perfoming rights.

Ketua Pengurus WAMI, Chico Hindarto, mengatakan bahwa pembayaran royalti karaoke di bar sebenarnya terbagi dua, yaitu dilihat dari acaranya berbayar atau tidak. Keduanya memiliki aturan pembayaran berbeda.

Selain membayar tempat, pihak bar juga harus memberikan daftar lagu yang dimainkan dalam karaoke itu untuk mempermudah pembayaran royalti.

"Jadi ini secara flow-nya ya, si penampil [pemandu karaoke] bisa membantu dengan memberikan daftar lagu kepada si pihak diskotik, diskotik memberikan daftar lagu kepada WAMI gitu," katanya. (agn/has)