Kedua pemilik bisnis karaoke keluarga tersebut berbincang dengan CNNIndonesia.com mengenai dampak dan tuntutan mereka di tengah gelombang marak karaoke massal tersebut.
Ari Lasso mengaku terkejut dengan kemunculan tren karaoke massal yang diadakan di bar dan kelab-kelab malam. Ia juga tak memungkiri bahwa konsep tersebut merupakan suguhan yang menarik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia kemudian mengatakan, "Sekarang bisa show off, siapapun bisa nyanyi. Malah kadang mereka gayanya lebih gila loh. Ya menyenangkan sekali."
"Enggak [terancam] kayaknya karena itu dua jenis pangsa yang berbeda. Tentunya, masih banyak orang-orang yang tidak cukup PD untuk tampil di karaoke ruang besar campur dengan yang lain, jadi lebih memilih ke ruang kecil hanya bertiga atau berempat," kata Ari.
Ari Lasso mengaku terkejut dengan tren karaoke massal. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma) |
"Kalau aku sih sebenernya masih tetap kuat dan yakin bahwa pasar aku memang berbeda dengan mereka dan customer -nya juga customer yang berbeda gitu, dalam artian ya memang kita yang mengonsumsi kan kalangan orang-orang yang tidak mau privasinya terganggu. Benar-benar pengin happy gitu," kata pelantun lagu "Kocok-Kocok" itu.
Lebih lanjut, dia berharap bahwa kemunculan tren ini juga dapat diperhatikan dari sisi kewajiban membayar royalti penggunaan lagu. Inul ingin adanya penyamarataan dari kewajiban yang harus dipenuhi.
"Untuk pembayaran royaltinya. Ini yg akan menjadi permasalahan besar nantinya. Saya sebagai Pembina dan Ketua Asosiasi Pengusaha Karaoke Indonesia, itu nanti mereka harus hati-hati dengan asosiasi saya yang pastinya akan mengacungkan bendera untuk memberikan lampu merah kepada HAKI untuk pembayaran royalti segala macem itu," kata Inul.
Saat ini, bar yang rutin mengadakan malam karaoke di Jakarta adalah Duck Down yang kini memiliki dua gerai, yaitu di bilangan Kemang dan Gunawarman.
Duck Down Pizza Party yang berlokasi di Kemang menggelar karaoke setiap Senin malam, sementara Duck Down Bar di Gunawarman menghelat pada Kamis.
Keriuhan di Duck Down kala malam karaoke. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma) |
Ketika ditanya mengenai royalti dari karaoke tersebut, Aninda Pardede selaku manajer pemasaran Biko Group yang menaungi Duck Down hanya menjawab, "Kita sedang proses izinnya melalui WAMI."
WAMI sendiri merupakan badan usaha yang bergerak di bidang organisasi manajemen kolektif pengelola eksploitasi karya cipta lagu terutama untuk royalti atas hak mengumumkan atau perfoming rights.
Ketua Pengurus WAMI, Chico Hindarto, mengatakan bahwa pembayaran royalti karaoke di bar sebenarnya terbagi dua, yaitu dilihat dari acaranya berbayar atau tidak. Keduanya memiliki aturan pembayaran berbeda.
Selain membayar tempat, pihak bar juga harus memberikan daftar lagu yang dimainkan dalam karaoke itu untuk mempermudah pembayaran royalti.
"Jadi ini secara flow-nya ya, si penampil [pemandu karaoke] bisa membantu dengan memberikan daftar lagu kepada si pihak diskotik, diskotik memberikan daftar lagu kepada WAMI gitu," katanya. (agn/has)
Ari Lasso mengaku terkejut dengan tren karaoke massal. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Keriuhan di Duck Down kala malam karaoke. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)