Review Konser

Rapal Mantra Mustajab Kunto Aji

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Kamis, 19/12/2019 19:30 WIB
Menggandeng praktisi pemulihan batin, Adjie Santosoputro, Kunto Aji berhasil menggabungkan sesi meditasi dengan konser yang meneduhkan hati. Menggandeng praktisi pemulihan batin, Adjie Santosoputro, Kunto Aji berhasil menggabungkan sesi meditasi dengan konser yang meneduhkan hati. (Dok. Kunto Aji/JUNI Concert)
Jakarta, CNN Indonesia -- Konser Mantra Mantra Live++ persembahan Kunto Aji serupa tapi tak sama dengan konser Perayaan Bayangan milik Hindia pada November lalu. Sama-sama membawa isu kesehatan mental yang dibagi dalam empat babak dengan lagu cukup seragam di setiap bagiannya.

Aji menjelaskan ia sudah memiliki konsep konser itu sejak lama, tidak menjiplak Hindia. Ia sebenarnya ingin mengadakan konser pada Maret lalu, tapi sulit terwujud karena pemilu dan Lebaran pada Juni. Alhasil, ia harus memundurkan konser jadi Desember.

"Konsep udah dari tahun lalu. Saya berteman sama Hindia. Ada konsep yang kami hindari karena sudah dipakai Hindia kemarin, jangan sampai sama," kata Aji saat jumpa media usai konser di Hall Basket, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (18/12) malam.


Perbedaan konser Mantra Mantra Live++ dan Perayaan Bayangan adalah narasi yang dibangun. Bila Hindia membagikan pengalaman depresi seseorang bernama Denisa Dhaniswara, Aji mengajak pengunjung untuk menerima diri dengan panduan praktisi pemulihan batin, Adjie Santosoputro.

Perbedaan yang paling penting, Mantra Mantra Live++ lebih bagus ketimbang Perayaan Bayangan secara keseluruhan.

Alasan utama yang menyebabkan konser ini bagus adalah konsep sangat matang. Aji bukan sekadar menjadikan isu kesehatan mental sebagai komoditas, tapi ia benar-benar berusaha memberi pemahaman dan mengakomodasi pengunjung yang mengalami masalah kesehatan mental.

Aji memberikan waktu khusus kepada Adjie untuk berkomunikasi dengan pengunjung setelah menyelesaikan Phase 1, usai ia membawakan lagu "Sulung", "Jakarta Jakarta", "Konon Katanya", dan "Akhir Bulan" tanpa jeda.

Adjie memberikan penjelasan tujuan konser itu sebagai medium perkenalan betapa penting kesehatan mental. Ia mengajak pengunjung untuk membuka ruang diri dan perasaan sehingga bisa menerjemahkan maksud dari Mantra Mantra Live++.

"Perasaan bukan atasan yang seenaknya mengendalikan kita. Untuk pulih, perasaan hanya perlu kita jadikan teman," kata Adjie di atas panggung yang disinari cahaya putih selama berbicara.
Review Konser: Rapal Mantra Mustajab Kunto AjiVisual apik di konser Mantra Mantra Live++. (Dok. Kunto Aji/JUNI Concert)
Kehadiran Adjie sebagai orang yang paham soal kesehatan mental dalam konser kemarin malam sangat baik. Sebagai musisi, Aji sadar ia belum memiliki kapasitas untuk menangani masalah kesehatan mental orang lain dengan kata-kata. Ia hanya bisa membantu lewat lagu.

Kemunculan Adjie pun tidak mengganggu alur konser Mantra Mantra Live++. Toh, durasi penjelasan Adjie hanya sebentar, tidak lebih dari lima menit. Saat itu pun, Aji ke belakang panggung sehingga fokus tidak terbagi.

Meski demikian, tidak semua pengunjung khusyuk menyelami kata-kata yang dilontarkan Adjie. Bagi pengunjung yang memang ingin merasakan pengalaman konser berbeda, mereka akan suka. Namun, bagi pengunjung yang hanya ingin menikmati lagu, mereka akan bosan.

Memasuki Phase 2 dan Phase 3 tidak ada Adjie, hanya suara Aji pada beberapa jeda lagu. Ia menjelaskan maksud dari lagu-lagu yang ia ciptakan dan beberapa penjelasan soal kesehatan mental.

Dari delapan lagu yang ia bawakan pada dua babak itu, lagu yang paling terasa emosional adalah "Saudade", "Topik Semalam", "Mercusuar", dan "Rancang Rencana". Selain karena lirik, rasa emosional juga muncul dari latar panggung LED yang menampilkan berbagai warna.

Kualitas tata suara Mantra Mantra Live++ juga tergolong bagus. Suara alat musik serta vokal Aji seimbang dan tidak ada yang menutupi satu sama lain. Walau tak bisa diabaikan pada beberapa bagian, vokal Aji kurang terdengar.

Phase 4 adalah puncak dari Mantra Mantra Live++. Setelah lagu Pilu Membiru dibawakan, Adjie kembali muncul untuk mengajak pengunjung meditasi sesaat. Ia meminta pengunjung duduk dan memejamkan mata. Jika enggan, berdiri pun tidak apa.

Lewat meditasi itu, ia meminta pengunjung untuk menerima diri dalam keadaan apa pun. Beberapa kali ia meminta penonton menarik dan mengembuskan napas sebagai proses penerimaan diri. Pada bagian akhir, ia meminta pengunjung memeluk diri sendiri.

Meditasi ini lebih serius ketimbang percakapan Adjie di awal tentang pemulihan mental. Bisa dikatakan meditasi itu adalah tahap akhir dari pemulihan mental. Saya pun merasa tenang dan damai.

Saya rasa eksperimen Aji untuk menjadikan konser sebagai medium perkenalan tentang kepentingan kesehatan mental dan pemulihan mental sangat berhasil. Mantra yang ia rapalkan mustajab alias manjur.

Memang tidak semua pengunjung khusyuk mengikuti meditasi dan belum tentu berpengaruh pada setiap pengunjung. Namun setidaknya, pengunjung tahu seberapa penting kesehatan mental.
Review Konser: Rapal Mantra Mustajab Kunto AjiDengan kualitas vokal prima dan berkarakter sepanjang dua jam pergelaran, Kunto Aji berhasil merapal mantra yang mustajab. (Dok. Kunto Aji/JUNI Concert)
Selain itu, ia juga tidak egois untuk mendapuk dirinya sebagai orang yang paling paham soal kesehatan mental. Aji hanya berusaha menjadi jembatan dan berusaha berkomunikasi lewat lagu-lagunya.

Ia sendiri menjelaskan bahwa album Mantra Mantra berusaha meringankan dua masalah, yaitu orang yang tidak peduli dengan kesehatan mental dan orang yang mendiagnosis diri sendiri mengalami depresi, walau sebenarnya tidak.

"Kalau enggak (bisa diselesaikan dengan album Mantra Mantra), ya enggak apa. Kalau kenapa-kenapa, gua selalu bilang untuk ke profesional. Senang bisa jadi musisi yang bermanfaat bukan hanya untuk dapet uang," kata Aji saat jumpa media.

Secara keseluruhan, Mantra Mantra Live++ adalah konser bagus dengan perlakuan dan pengalaman yang berbeda. Dengan kualitas vokal prima dan berkarakter sepanjang dua jam pergelaran, Aji berhasil merapal mantra yang mustajab. (has)