Krisis Penerus, Wayang Potehi di Indonesia Mati Suri

CNN Indonesia | Senin, 03/02/2020 12:13 WIB
Krisis Penerus, Wayang Potehi di Indonesia Mati Suri Pertunjukan wayang potehi di amabng kepunahan. (Foto: CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berbeda nasib dengan wayang kulit atau wayang golek, wayang potehi kini tengah mati suri. Peminat yang menurun, regenerasi dalang yang tak berjalan, dan pakem yang sulit membuat wayang potehi di Indonesia di ambang kepunahan.

Wayang potehi merupakan wayang tiga dimensi berasal dari China. Po berarti kain, te berarti kantong, dan hi berarti penampilan kesenian. Jadi secara harfiah wayang potehi merupakan kesenian wayang yang terbuat dari kain kantong.

Wayang dimainkan dengan lima jari yang menceritakan kisah-kisah kerajaan di China.


Imigrasi warga Fujian di abad ke-16 ke sejumlah negara di Asia Tenggara membawa wayang potehi sebagai salah satu ritual sekaligus kesenian yang menghibur.


Dahulu, orang China memainkan wayang potehi sebagai ritual pemujaan dewa di kelenteng. Penyebaran wayang potehi pada sebelum kemerdekaan ada di hampir seluruh wilayah Indonesia dengan mayoritas berada di Sumatera, Jawa dan Kalimantan.

Kini, ritual yang sama masih dilakukan. Namun, jumlahnya semakin menurun. Dalang wayang potehi yang siap pentas kini berjumlah kurang dari 10 orang dan semuanya berdomisili di Jawa Timur.

"Kondisinya sebetulnya mati suri karena dalangnya semakin sedikit. Hanya ada lima dalang yang benar-benar paham dan tidak ada regenerasi," kata pengamat wayang Dwi Woro Retno Mastuti kepada CNNIndonesia.com usai diskusi Di Balik Layar Wayang Potehi di Galeri Salihara, Jakarta, Sabtu (1/2).

Alhasil, salah satu dalang yang tersisa, Mudjiono mesti melakoni pementasan dari satu kelenteng ke kelenteng lain di berbagai kota di seluruh Indonesia.

Nasib Wayang Potehi yang Mati SuriPeminat wayang potehio kian menurun, regenerasi dalang yang tak berjalan, dan pakem yang sulit membuatnya di ambang kepunahan. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)

"Untuk pementasan saya bisa menerima dari seluruh Indonesia. Kadang saya minta bantuan ke teman yang lain karena kebutuhannya (ritual) masih ada," ungkap Mudjiono.

Namun, ia mengaku khawatir wayang potehi tak akan berlangsung lama lantaran rendahnya antusiasme masyarakat dan anak muda. Dia juga kesulitan menemukan penerus wayang potehi.

"Kalau tidak ada yang menghidupkan atau melestarikan dalam jangka waktu 25 tahun ke depan akan habis wayang potehi ini," ujar Mudjiono.

Selain regenerasi, wayang potehi yang masih mengikuti pakem dari China juga dianggap membuat wayang ini sulit berkembang. Sejauh ini, akulturasi budaya dalam wayang potehi hanya dalam musik dan dialog yang menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerah.


Menurut Woro, wayang potehi yang ada di Indonesia saat ini sudah menjadi milik bangsa Indonesia dan diakui sebagai warisan budaya dari UNESCO sehingga mesti dilestarikan.

"Pakem wayang potehi masih dari China. Tapi kan ini sudah menjadi warisan dan siapa yang mewarisi? Ya, bangsa Indonesia. Akulturasi tidak masalah, sama sekali bukan hambatan karena justru memperkaya khasanah bangsa Indonesia," ucap Woro.

Woro menilai wayang potehi penting dilestarikan karena dapat bermanfaat dalam menyebarkan kebaikan melalui kisah-kisah yang inspiratif. Wayang potehi juga dianggap memiliki keunggulan dibandingkan wayang jenis lain karena lebih sederhana, mudah dibuat, dan mudah diperagakan.

Woro berharap wayang potehi tak lagi jadi pementasan di kelenteng atau saat Imlek saja, tapi jadi hiburan yang bermanfaat. Saat ini, Woro juga ikut melestarikan wayang potehi dengan rutin melakukan pementasan di Rumah Cinta Wayang pada minggu keempat setiap bulannya.

"Mari membangun bangsa melalui budaya," ujar Woro. (ptj/evn)