Merawat Podcast, Bayi Bisnis di Indonesia

Hanna Azarya Samosir & Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 01/03/2020 15:57 WIB
Meski belum setinggi di AS, keuntungan bisnis podcast di Indonesia diprediksi akan terus tumbuh seiring kehadiran podcaster dan inovasi baru. Ilustrasi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ibarat manusia yang sedang tumbuh, siniar alias podcast di Indonesia bak bayi yang masih kecil dan butuh perhatian ekstra agar berkembang sehat.

Embrio podcast di Indonesia sebenarnya sudah ada sejak lebih dari satu dekade lalu, tepatnya 2005, kala Boy Avianto membuat siniar dengan nama Apa Saja Podcast.

Namun, baru satu setengah tahun belakangan siniar mendadak bertumbuh pesat di Indonesia, terutama setelah layanan musik Spotify menyediakan fitur podcast pada 2018 dan mengakuisisi Anchor, platform distribusi audio, setahun kemudian.

Pertumbuhan podcast di Indonesia ini menjadi perhatian Spotify. Dalam wawancara terbatas melalui sambungan telepon video, Managing Director Spotify, Gautam Talwar, mengatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang pasarnya berkembang pesat.

"Lebih dari 20 persen pengguna Spotify di Indonesia mendengarkan podcast setiap bulan. Jumlah jam yang dihabiskan untuk mendengarkan podcast meningkat 10 kali lipat dalam satu tahun terakhir," ujar Gautam.

Menanti Tumbuh Kembang Podcast, Bayi Bisnis di Indonesia (FokIlustrasi podcast di Spotify. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)

Seperti tak ingin "kebobolan", pada Februari 2020 Spotify menjalin kerja sama eksklusif dengan delapan podcaster yang paling sering diputar di Indonesia. Dengan demikian, konten dari delapan podcaster itu hanya bisa didengarkan di Spotify.

Gautam menjelaskan bahwa kerja sama semacam ini merupakan yang pertama di kawasan Asia Tenggara. Hal ini mengindikasikan pertumbuhan medium podcast di Indonesia sangat berpotensi.

Salah satu podcast yang bekerja sama dengan Spotify adalah Box2Box Football besutan Pangeran Siahaan, Tyo Prasetyo, dan Justinus Lhaksana.

"Apa yang (Spotify) mereka lihat sebenarnya bukan cuma jumlah pendengar doang, tetapi juga memperhatikan konsistensi," kata Pange saat ditemui CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Sama seperti Spotify, Pange dan Tyo juga melihat potensi besar di dunia siniar, sampai-sampai pada 2018 mereka mendirikan jaringan podcast bernama Box2Box Media Network yang saat ini menaungi 18 podcaster. Mereka bahkan memasang target bisa menaungi 50 podcaster sampai akhir tahun ini.

Salah satu alasan Pange mendirikan Box2Box Media Network tentu peluang bisnis. Ia yakin Indonesia bisa mengarah ke bisnis podcast seperti di Amerika Serikat yang kini sudah besar.

"Ketika elo udah bisa mengumpulkan audiens dengan jumlah yang signifikan, ya itu bisnis. Jadi buat gue ya I saw it coming from the distance," kata Pange.

Ia kemudian berkata, "Indonesia menurut gue, ini kan adalah sebuah proses yang delayed. Selalu ada jeda dan waktu untuk segala sesuatu bisa di-adjust di Indonesia."

Pange pun tidak sependapat dengan pihak yang mengatakan industri media tengah sekarat. Baginya, pihak dengan pendapat seperti itu adalah yang menolak beradaptasi.

Ia menyandingkan situasi ini dengan tren YouTube yang besar terlebih dulu di Amerika Serikat dan gelombangnya sampai ke Indonesia belakangan.

"Makanya gue tau nih podcast akan mendapatkan angin yang sama, makanya gue memutuskan sebelum anginnya makin gede, ya gue turun duluan," tutur Pange.

Adriano Qalbi sebagai salah satu podcaster perintis di Indonesia memiliki pandangan serupa tentang masa depan podcast. Ia bahkan memprediksi dalam dua sampai tiga tahun ke depan sesama podcaster akan "saling membunuh."

"Pertama, niat untuk menjaga konsistensi enggak cukup. Kedua, sistem chart podcast enggak jelas berdasarkan apa, enggak tahu siapa yang mau verifikasi. Hanya podcast unik yang bakal bertahan," kata Adriano.


Merawat Podcast, Bayi Bisnis di Indonesia (FokAdriano Qalbi. (CNN Indonesia/Hamka Winovan)

Pange juga sudah melihat tendensi persaingan ketat sesama podcaster di Indonesia. Itu pula yang menjadi alasan Pange mendirikan jaringan.

"Sebenarnya kenapa Box2Box bentuknya network? Kita mengantisipasi hal itu dari jauh-jauh hari. Makanya kita gerak bareng-bareng sebagai kolektif meski punya podcast individu. Kan udah gue bilang kita semangat koperasi," katanya.

Sebagai salah satu pionir, Pange sendiri merasa model bisnis yang ia kembangkan di Box2Box cukup berhasil. Mereka bahkan sudah mulai menuai untung tak sampai setahun setelah berdiri.

"Biasanya media baru itu bakar duit, kan? Kita enggak pernah bakar duit karena we're actually in a very healthy condition dan karena kita pionir, we shape the industry. Kita tahu harus plan gimana, harus manuver di mana. Kita revenue itu 8-10 bulan sejak berdiri," kata Pange.

Berdasarkan laporan Global Entertainment and Media Outlook 2019-2023 yang dirilis PWC, pendapatan iklan podcast secara global akan tembus angka US$1 miliar atau setara Rp14 triliun.

Pendapatan iklan podcast diproyeksi melonjak 23,1 persen menjadi US$1,4 miliar hingga 2023, meningkat dua kali lipat dari pertumbuhan sekarang sebesar US$0,7 miliar. Pada 2022, pendapatan dari iklan podcast bahkan diprediksi bisa melebihi keuntungan koran digital.

Merawat Podcast, Bayi Bisnis di Indonesia (FokCEO Box2Box Media Network, Pangeran Siahaan. (CNN Indonesia/Hamka Winovan

Namun, belum ada riset yang membahas secara khusus tentang potensi pendapatan iklan podcast di Indonesia. Menurut Pange, sukar melakukan prediksi karena Indonesia masih meraba bisnis siniar.

"Belum, karena belum ngerti-ngerti banget juga. Masih meraba-raba, ini barang apa, jualannya gimana, nguntungin apa enggak. Sekarang masih baby. Orang masih menerka-nerka pengin placement di mana ya," katanya.

Pengamat media Agus Sudibyo menganggap bisnis podcast di Indonesia bisa berkembang asal memenuhi dua kriteria, yaitu pertama, terus memperbaiki diri dan memunculkan inovasi baru, dari segi aplikasi maupun konten.

"Yang kedua, apakah podcast ini konsisten dengan good content, karena pengiklan itu lama-lama selektif. Mereka demanding, jadi mereka hanya mau ngiklan di konten yang menjamin kualitas," katanya.

Untuk memunculkan persaingan sehat di lapangan, Pange pun berharap muncul kreator-kreator yang bukan dari media besar untuk membangun basis kekuatan juga, termasuk di luar ibu kota, agar siniar tidak "Jakarta-sentris".

"Datang sebagai kolektif. Kita bangun ekosistem kita sendiri dan kita berusaha memberikan bargaining position podcast yang kuat. Karena kita kan dealing sama brand langsung. Kita bukan dealing sama medianya," tutur Pange.

Dengan demikian, Pange optimistis industri podcast di Indonesia dapat bertumbuh sehat, layaknya saat ini di Amerika Serikat.

"Gue merasa bahwa one day kita akan ke arah sana, memang tujuannya ke arah sana. Yang sedang kita lakukan adalah proses pembibitan dan pendewasaan podcast ke arah yang udah lebih established," katanya.

(has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK