Corona Dongkrak Jumlah Penonton TV dan Serial Anak

CNN Indonesia | Rabu, 25/03/2020 15:43 WIB
Corona Dongkrak Jumlah Penonton TV dan Serial Anak Ilustrasi menonton televisi. Riset menunjukkan Covid-19 dan kebijakan tetap di rumah mengubah pola konsumsi masyarakat Indonesia atas televisi dan serial. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah riset yang dilakukan kepada penonton televisi Indonesia menunjukkan bahwa wabah Covid-19 dan kebijakan mengimbau masyarakat tetap di rumah berhasil mendongkrak kepemirsaan televisi, seperti berita dan acara anak-anak.

Nielsen Television Audience Measurement (TAM) melakukan pemantauan pada 11 kota di Indonesia yang mencakup 8 ribu orang berusia 5 tahun ke atas. Rata-rata jumlah penonton atau kepemirsaan pada 11 kota tersebut meningkat dalam satu pekan belakangan.

"Dari rata-rata rating 12 persen di tanggal 11 Maret menjadi 13,8 persen di tanggal 18 Maret atau setara dengan penambahan sekitar 1 juta pemirsa TV," dikutip dari siaran pers yang diterima CNNIndonesia.com, Selasa (24/3).


Bila dirinci pada program televisi, berita menjadi program yang mengalami peningkatan paling tinggi. Penonton program berita naik sebanyak 25 persen dengan mayoritas penonton berasal dari kelas atas.

Kenaikan juga terjadi pada program anak-anak dan serial. Program anak untuk usia 5-9 tahun, melonjak dari rata-rata rating 12 persen pada 11 Maret menjadi 15.8 persen pada tanggal 18 Maret.

"Bahkan di Jakarta, kepemirsaan di segmen anak mencapai rating tertinggi, yaitu 16,2 persen," papar Nielsen.

Bukan hanya itu, Nielsen juga mencatat terjadi lonjakan durasi menonton televisi lebih dari 40 menit, dari rata-rata di atas 4 jam 48 menit pada 11 Maret menjadi 5 jam 29 menit pada 18 Maret.

Bila dibagi klasifikasi, penonton dari kelas atas cenderung menonton lebih lama sejak 14 Maret lalu dan jumlahnya disebut semakin meningkat. Hal ini terlihat dari rata-rata rating 11.2 persen pada 11 Maret menjadi 13.7 persen pada 18 Maret.

"Pandemi Covid-19 telah menyebabkan terjadinya perubahan perilaku konsumen, termasuk dalam mengonsumsi media," kata Nielsen.

"Saat Presiden Joko Widodo mengumumkan penemuan kasus pertama Covid-19 pada 2 Maret 2020, belum terlihat perubahan signifikan pada pola konsumsi media. Namun semakin intensnya pemberitaan membuat masyarakat mulai memantau setiap perkembangan terkait Covid-19 melalui berbagai media, tak terkecuali televisi," lanjutnya.

Selain berita dan serial anak, Nielsen juga menemukan bahwa kasus corona juga menyebabkan isu kesehatan dan kebersihan sangat diperhatikan. Berdasarkan laporan Nielsen Advertising Intelligence (Ad Intel) sepanjang bulan Maret, frekuensi iklan meningkat.

Frekuensi iklan di televisi meningkat secara signifikan untuk beberapa produk kesehatan. Seperti produk pencegah penyakit seperti vitamin serta suplemen dan penyembuh penyakit seperti obat batuk.

Pada awal Maret, produk vitamin menayangkan 300 spot iklan per hari. Kemudian pada tanggal 18 Maret iklan produk vitamin tayang 601 spot dengan total belanja iklan mencapai Rp15,3 miliar per hari.

Peningkatan juga terjadi pada produk obat batuk. Pada awal Maret menayangkan 50 spot iklan per hari kemudian pada tanggal 18 Maret menayangkan 180 spot iklan per hari dengan total belanja iklan Rp5.6 Miliar per hari.

"Ini mendorong para pelaku industri khususnya terkait vitamin dan obat-obatan menangkap peluang untuk meningkatkan penjualan produk mereka," kata Executive Director Media Nielsen Hellen Katherina. (adp/end)