Permintaan itu disampaikan Asosiasi Produser, Sutradara, Sinematografer Korea, Asosiasi Pasar Film Korea, jaringan bioskop CGV Cinema dan Lotte Cinema dalam wawancara gabungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jumlah pengunjung bioskop pada Februari 2020 hanya sekitar 7,37 juta orang dan menempati posisi terendah untuk bulan yang sama dalam 15 tahun terakhir. Demi menekan penyebaran virus, film internasional dan lokal yang direncanakan tayang Februari dan Maret 2020 juga ditunda hingga waktu yang belum ditentukan.
"Krisis di industri film akan menyebabkan PHK besar-besaran dan merusak daya saing film Korea. Tapi pemerintah menutup mata terhadap industri film," kata asosiasi tersebut seperti dilansir Yonhap.
Oleh sebab itu, mereka meminta pemerintah memberlakukan berbagai paket bailout keuangan, memetakan langkah-langkah darurat serta memasukkan industri film dalam sektor khusus untuk dukungan para pekerja.
Hal itu disebabkan pemerintah Korea Selatan sudah menetapkan empat sektor industri yang akan mendapat bantuan untuk mempertahankan para pekerja mereka di tengah krisis keuangan akibat pandemi virus corona. Dua di antaranya adalah pariwisata dan perhotelan.
Sementara itu, permintaan bantuan juga diserukan Kelompok Sutradara Film Korea. Mereka meminta kompensasi langsung kepada pemerintah supaya bisa diberikan kepada para karyawan yang kehilangan pekerjaan akibat virus corona.
"Diperlukan sekitar 101,5 miliar won (Rp1,3 triliun) untuk menyelamatkan sektor ini," ucap perwakilan kelompok sambil meminta masyarakat untuk kembali menonton di bioskop.
Dewan Perfilman Korea (KOFIC) telah membentuk gugus tugas untuk mendukung perjuangan industri film di tengah pandemi virus corona. Gugus tugas tersebut akan membantu bioskop dalam hal disinfektan serta menyelidiki posisi keuangan studio termasuk pemasaran yang bermasalah. (chri/end)