Corona, Penjualan Album di AS Capai Titik Terendah 6 Dekade

CNN Indonesia | Senin, 30/03/2020 18:15 WIB
Penjualan album musik di AS menyentuh titik terendah selama enam dekade belakangan karena terkena imbas penyebaran virus corona. Ilustrasi. (Egle_pe/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penjualan album musik di Amerika Serikat menyentuh titik terendah selama enam dekade belakangan karena terkena imbas penyebaran virus corona.

Billboard melaporkan bahwa penjualan album musik sepanjang pekan lalu hanya US$1,52 juta atau setara Rp24,9 miliar, terendah sejak pertengahan medio 1960-an.

Penjualan album fisik ini memang sangat terpengaruh dengan wabah virus corona karena toko-toko musik terpaksa tutup karena kebijakan lockdown yang diterapkan pemerintah AS untuk menekan penyebaran virus corona.


Meski masih banyak gerai daring yang beroperasi, tapi pasokan mereka mulai tipis. Amazon, misalnya, sudah berhenti memasok piringan hitam untuk memberikan ruang lebih luas untuk produk yang lebih esensial.

Tak hanya fisik, jumlah pendengar musik dari layanan streaming juga ternyata menurun 7,6 persen dalam periode 13-19 Maret, ketika warga AS baru mengikuti anjuran karantina diri. Jumlah penjualan album digital juga merosot hingga 10,7 persen.

[Gambas:Video CNN]

Sementara itu, acara tahunan yang biasanya menyumbangkan pemasukan besar bagi penjualan album fisik, Record Store Day, juga terpaksa diundur dari 18 April menjadi 20 Juni karena virus corona.

Record Store Day tahun ini dimeriahkan dengan berbagai rilisan spesial dari My Chemical Romance, Robyn, Gorillaz, New Order, Eminem, The Cure Christine and the Queen, Biffy Cliro, hingga Jenny Lee dari Warpaint. (has/has)