Menurut laporan Dispatch, Cho Joo-bin mengatakan kepada pengguna di Telegram Nth Rooms bahwa ia juga mengoperasikan "agen detektif swasta" sehingga bisa dapat informasi pribadi tentang selebritas.
Ketika ditanya lebih lanjut tentang hal itu, Cho Joo Bin pun akan secara terbuka mengungkapkan informasi tentang berbagai selebriti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nomor identifikasi anggota girlband 'A' adalah XXXXXX-XXXXXX."
"Berikut adalah lokasi Idol 'C'. Jika Anda menunggu di sana, Anda dapat melihatnya."
Dengan pengungkapan sejumlah data pribadi tersebut, para anggota pun disebut semakin liar melewati batas privasi para idol Korea, seperti meminta foto bugil mereka.
"Pengguna: Bagaimana dengan gambar telanjang 'D'?"
"Cho Joo Bin: Saya punya beberapa."
Namun, menurut Dispatch, obrolan di grup tersebut dipenuhi dengan campuran kebenaran dan kebohongan. Informasi pribadi yang didapatnya tentang selebritas itu benar, tetapi sebagian besar sisanya bohong.
Dia akan memilih selebriti yang sedang tren atau menjadi pemberitaan, dan menggunakan informasi pribadi mereka untuk mendukung klaim bahwa dia memiliki foto telanjangnya.
Pengguna: Apakah D juga salah satu dari budak Anda? Bukankah itu hanya lelucon?
Cho Joo Bin: Nomor identifikasi 9XXXXX-XXXXXX. Nomor teleponnya adalah 010-XXXX-XXXX.
Cho Joo Bin: Dia pindah ke rumah barunya pada 2018.XX.XX. Saya punya foto dia.
Cho Joo Bin: Karena beberapa keadaan, "F" menjadi salah satu budak saya.
Cho Joo Bin: Kami hanya akan mengungkapkannya kepada anggota VIP.
Cho Joo Bin disebut begitu percaya diri membual punya gambar telanjang selebriti karena ia dibantu oleh kaki tangan yang bekerja sebagai agen layanan sosial. Menurut temuan polisi, sudah ada tiga agen layanan publik yang telah diidentifikasi sejauh ini.
Dispatch pun menilai banyak kata-kata Cho Joo Bin hanya 'gertak sambal' untuk menghasilkan lebih banyak uang. Dia akan mendapatkan uang untuk mendukung keingintahuan jahat penggunanya. Dengan ini, kasus penguntitan yang sebenarnya juga terjadi.
Pada akhirnya, seorang kaki tangan Cho Joo Bin dijatuhi hukuman 14 bulan penjara karena mengungkapkan informasi pribadi dan melanggar Undang-Undang Hukuman Kasus Khusus, termasuk Kejahatan Seksual.
Pelaku menargetkan rata-rata perempuan di bawah umur dengan tawaran kerja paruh waktu dan hadiah sertifikat. Setelah terpikat, korban akan dipaksa untuk menjadi pemain video porno.
Tak hanya itu, para korban juga kerap mengalami kekerasan seksual, bahkan diperlakukan layaknya budak.
Apabila hendak kabur dan berhenti, korban diancam dengan penyebaran identitas diri dalam video tersebut. Foto-foto telanjang juga dikirimkan langsung kepada korban.
Nth Room memiliki lebih dari 260 ribu anggota yang masuk dalam grup dengan tarif berbeda-beda.
[Gambas:Video CNN]
Pada 20 Maret silam, Kantor Kepolisian Metropolitan Seoul menangkap Baksa, pembuat serta admin grup penyebaran video kekerasan seksual yang sebagian besar korbannya adalah anak di bawah umur itu.
Kala itu, polisi belum membuka identitas Cho Joo-bin alias Baksa, membuat warga Korea Selatan emosi dan menggagas petisi agar pemerintah membongkar informasi predator serta para anggotanya. Lebih dari 2 juta orang menandatangani petisi tersebut pada 23 Maret.
Sehari setelahnya, tujuh anggota komite Kantor Polisi Metropolitan Seoul menggelar rapat untuk memutuskan akan membuka atau tidak identitas pembuat dan admin Nth Room.
Mereka sepakat mengungkapkan identitas Baksa alias Dokter. Baksa merupakan panggilan untuk Cho Joo-bin, pria berusia 25 tahun yang menjadi distributor video pelecehan serta kekerasan seksual dalam Nth Room.
Saat ini, kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan kepolisian Korea. (agn/has)