Review Serial: Saiyo Sakato

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Jumat, 03/04/2020 19:15 WIB
Bila ada sederet serial yang sukses menangkap realitas kehidupan nyata, Saiyo Sakato adalah salah satunya. Bila ada sederet serial yang sukses menangkap realitas kehidupan nyata, Saiyo Sakato adalah salah satunya. (Dok. GoPlay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bila ada sederet serial yang sukses menangkap realitas kehidupan nyata, Saiyo Sakato adalah salah satunya.

Digarap Gina S Noer, berbagai aspek dalam serial produksi Goplay ini sangat baik, mulai dari naskah, cerita yang natural, dan kekuatan pembentukan serta pengembangan karakter.

Secara garis besar, serial ini bercerita tentang satu keluarga yang memiliki rumah makan padang bernama Saiyo Sakato. Da Zul (Lukman Sardri) sudah membangun bisnis itu sejak menikah dengan Mar (Cut Mini).


Pasangan suami istri itu dikarunia dua orang anak, Zainal (Chicco Kurniawan) dan Nisa (Fergie Britney), yang sudah dewasa. Sayang mereka harus menjadi anak yatim setelah Da Zul meninggal.

Mar, Zainal, dan Nisa dirundung masalah karena tak ada yang bisa masak seenak Da Zul. Masalah bertambah karena ternyata Da Zul punya istri muda, Nita (Nirina Zubir), yang juga memiliki rumah makan padang bernama Saiyo Sakato.

Belum lagi, Nita meminta berbagi harta dengan Mar. Pasalnya Nita memiliki seorang anak bernama Budi yang masih kecil dan butuh biaya banyak untuk sekolah.

Gina menulis naskah Saiyo Sakato yang berisikan banyak karakter dengan komprehensif. Dengan begitu, ia memiliki pondasi dan landasan yang jelas untuk mengembangkan cerita ke mana saja.

Pun cerita Saiyo Sakato terasa sangat nyata meski sebenarnya serial fiksi. Isu yang diangkat memang sangat nyata. Poligami. Bukan hal baru di Indonesia.
Ulasan Serial: Saiyo SakatoSalah satu adegan Saiyo Sakato. (Dok. GoPlay)
Terlebih, isu poligami tersebut dibumbui dengan berbagai hal yang sangat lekat dengan keseharian, seperti gosip emak-emak kompleks soal perebut laki orang alias pelakor.

Ada pula adegan yang bisa diartikan sebagai sindiran terhadap fenomena belakangan ini, yaitu demam bobba. Zainal memiliki usaha cendol bobba yang sangat wajar.

Belum berhenti sampai di sana, Zainal mengembangkan usaha dengan membuat nasi goreng bobba. Ya, seperti itulah anak muda zaman kiwari. Apa-apa bobba, agar tak ketinggalan.

Sajian adegan pelakor dan bobba menjadi nilai tambah Saiyo Sakato. Adegan yang terlihat sederhana itu ternyata mampu mengocok perut meski tidak selucu momen-momen lain, seperti ketika Mar marah pada foto Da Zul.

Kelebihan lain dari Saiyo Sakato adalah pembentukan dan pengembangan karakter yang kuat. Pada episode awal, dikenalkan seperti apa karakter yang ada dan perlahan diperlihatkan perkembangannya seiring dengan cerita.

[Gambas:Video CNN]

Zainal yang mulanya ceroboh dan cuek, perlahan berubah menjadi peduli setelah belajar dari masalah hidupnya. Mar yang keras kepala juga melunak karena tidak bisa selamanya begitu.

Namun, Saiyo Sakato juga memiliki sedikit kekurangan. Ada beberapa adegan yang terlalu generik untuk menunjukkan suatu hal dan kurang penting.

Salah satunya adalah ketika Zainal mengendarai motor dan melewati sekolah Budi. Tidak lama kemudian, ia mundur dan mengajak Budi untuk diantar pulang ke rumah yang berdekatan dengan rumah Zainal.

Mungkin adegan itu dibuat untuk memperlihatkan perubahan sifat Zainal dan membangun hubungan dengan Budi. Namun, mungkin ada cara lain untuk melakukan itu dengan adegan yang lebih elegan.

Secara keseluruhan, Saiyo Sakato merupakan serial yang baik dan layak dilanjutkan ke musim kedua. Asalkan, musim kedua menyajikan konflik dan pola cerita yang berbeda agar tidak membosankan. (has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK